Latest Article Welcome in Democratic Student Fight Movement Of Parepare Site
 photo hhhhhhhhiii_zps9dd37855.jpeg" />  photo hhdrhhdhdrhdh_zps2794a59b.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />

Celoteh Malam

Celoteh Malam


karya : Enho merah

kerinduan kini datang lagi
disudut malam saat ku berdiri
menatap indah kota ini
terpenjara diri dalam sepi

ku buka lembaran yang mungkin telah usai
dalam memori usang saat kita saling mengerti
mengharap waktu menuntaskan sepi
aku ingin tetap disini

separuh jiwaku kau bawah pergi
kuharap kau datang menghampiri
bersama harapan dan juga mimpi
dan mengakhiri semua ini

kau simpulkan harapan pada garis waktu yang kau yakini
dan berpesan pada malam 
tentang arti kehidupan kesabaran dalam diri

ku harap bulan datang menemani sepi
menjadi teman bicara malam ini
ceritakan rindu yang berlebirin
yang tak mampu ku hindari.
parepare, 21/03/2018.

EKSKLUSIFISME GERAKAN MAHASISWA DAN TERKIKISNYA KEPEKAAN SOSIAL

Sebelum meletusnya Gerakan Mahasiswa Pada Tahun 1998, salah satu peristiwa yang dikenal sebagai Malapetaka Limabelas Januari (MALARI) pada tahun 1973-74. Memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap gerakan mahasiswa dan rakyat saat itu, karena keadaan sebelum peristiwa tersebut mengantarkan mahasiswa maupun rakyat geram terhadap penguasa yang tak dapat meyalurkan amarahnya dalam gerakan politik yang terorganisir, sehingga yang terjadi adalah kerusuhan. Akibat Keadaan tersebut Rezim Soeharto mengambil tindakan untuk mengeluarkan Kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK) dalam kehidupan Sosial dan Politik yang di peruntuhkan pada Generasi Mahasiswa pada masa itu. Alasan yang dilontarkan oleh rezim soeharto mengeluarkan kebijakan NKK/BKK yang disahkan pada tahun 1978, karena kampus selama periode tersebut menjadi pusat mobilisasi mahasiswa dan pusat kritik terhadap penguasa. Maka kebijakan NKK/BKK terus berpijak pada aturan pemerintah sampai meletusnya Tragedi 1998 bahkan sampai saat ini yang telah menguras tenaga para mahasiswa dan rakyat untuk melawan rezim Soeharto hingga lengsernya rezim Soeharto setelah 32 tahun kepemimpinannya. 

Namun gerakan yang dipandang telah berhasil menggulingkan rezim yang menindas rakyat ini, tidak membuahkan hasil yang signifikan terhadap gerakan mahasiswa maupun rakyat, dikarenakan lengsernya Soeharto dari Jabatan Kursi Presiden hanya digantikan oleh wakilnya BJ. Habibie yang juga pada dasarnya membawa kepentingan terselubung dengan orang-orang yang berada pada Rezim Orba. Dilain sisi  Gerakan Mahasiswa tahun 1998 juga tidak mampu menghasilkan tokoh politik nasional yang memberikan solusi tentang kesejahteraan rakyat sepenuhnya. Solusi Sistem Reformasi yang diteriakkan mahasiswa pada saat itu juga tidak mampu merubah tatanan sosial masyarakat ke ambang pintu kesejahteraan, karena Sistem Reformasi dan penggerak dari Sistem ini juga masih diisi oleh Orang-orang dari Estate Orba. Pada tahun 1999 ada Amin Rais, Megawati, Gusdur, sedangkan sampai sekarang hanya diisi oleh SBY, Jusuf Kalla, dan Prabowo. Jokowi memang tidak termasuk Estate Orba, namun ia tak terlahir dari proses gerakan dan tak memiliki gagasan besar tentang ke-Indonesiaan. Jelas bahwa semenjak diberlakukannya kebijakan NKK/BKK pada tahun 1978 telah memberikan dampak pada Gerakan Mahasiswa sampai saat ini, karena kebijakan NKK/BKK telah menjauhkan pemikiran maupun tindakan mahasiswa dalam menyikapi kondisi sosial-Politik yang sedang terjadi sampai saat ini.  

Adapun beberapa dampak yang dihasilkan kebijakan NKK/BKK sampai saat ini masih terlihat di lembaga pendidikan khususnya Kampus, masih banyak praktek-praktek yang menjauhkan pemikiran mahasiswa untuk menyikapi kondisi sosial maupun pergulatan politik saat ini, dikarenakan mahasiswa terkungkung dalam Regulasi Kampus masing-masing, dan di tambah lagi dengan pergulatan antara Lembaga-Lembaga Kampus seperti BEM, HMJ, dan UKM. yang dimana mahasiswa yang berada pada lingkaran lembaga kampus tersebut hanya bisa memamerkan arogansi lembaga masing-masing contohnya bersaing membuat kegiatan seminar, bazar, Pengkaderan dan lain-lain untuk memperlihatkan eksistensi dalam lembaganya yang tidak menghasilkan solusi terhadap masalah atau dilema yang dialami mahasiswa  dan rakyat saat ini. 

Pertanyaan mendasar soal eksklusifnya gerakan mahasiswa terhadap kondisi sosial saat ini adalah apakah dengan mahasiswa meleburkan dirinya kedalam gerakan rakyat, buruh, tani, kaum miskin kota, dan kaum tertindas lainnya mampu memberikan solusi atas masalah sosial hari ini ? atau sebaliknya gerakan mahasiswa harus kembali ke kampus untuk mengorganisir sesamanya untuk membangun kesadaran berlawannya dan menyatukan gerakannya.

kita dapat menarik kesimpulan bahwa dua pertanyaan diatas dapat kita jawab dengan melihat keadaan gerakan mahasiswa saat ini. Dengan meleburnya gerakan mahasiswa dan rakyat untuk menyatukan gerakannya melawan sistem sosial-politik yang tidak berpihak pada mahasiswa dan rakyat saat ini musti melalui kesadaran mahasiswa dan rakyat itu sendiri. Dengan kesadaran berlawan mahasiswa sebagai kaum intelektual yang mempunyai waktu luang untuk memikirkan problem-problem yang terjadi dalam tatanan sosial-politik saat ini dan dilain sisi juga untuk mereposisi peran mahasiswa sebagai pelopor bagi rakyat  yang seharusnya dengan praktek-praktek gerakan mahasiswa itu sendiri. karena notabenenya kaum intelektual yang mempunyai waktu luang untuk meleburkan dirinya di kampus untuk mengorganisir sesamanya dan juga membangun kesadaran berlawannya kemudian harus mampu menyikapi maupun mengawal perlawanan-perlawanan rakyat saat ini hingga penyatuan gerakannya bersama rakyat. Dan pada akhirnya rakyat tidak lagi berlawan dengan faktor ajakan tetapi, dengan kesadaran berlawan atas kondisi yang mereka alami. Maka dengan lahirnya kesadaran ini gerakan mahasiswa tidak ragu lagi atas keadaan yang mereka alami dan melakukan penyadaran dan pengorganisiran massa. Disamping itu tidak seharusnya mahasiswa saat ini melilitkan dirinya dalam lingkaran yang terpisah tetapi, harus menyatukan prespektif dan gerakan yang nyata dalam menyikapi kondisi sosial-politik saat ini.
 
(Ditulis Oleh Fikri Merah, Anggota Gerakan Perjuangan Mahasiswa Demokratik-Sentra gerakan mahasiswa Kerakyatan GPMD-SGMK Parepare)
Belajar Selagi muda, Berjuang Selagi Bisa!!!

Sinopsis Buku : Feminisme dan Sosialisme

Sumber : Google Image
Feminisme dan Sosialisme: Dokumen Partai Sosialis Demokratik (DSP Australia)

Media massa semakin mengobarkan akhir dari feminisme sebagai upaya untuk memukul

mundur hak perempuan yang telah dicapai dalam 25 tahun terakhir. Serangan terhadap hak

perempuan untuk mengontrol fertilitas dan tubuhnya, upah yang tidak setara, kekerasan

dalam rumah tangga dan kekerasan seksual, kurangnya akses terhadap pekerjaan layak dan

praktek diskriminasi yang terus-menerus, semuanya ini merupakan bagian dari serangan

balasan terhadap gerakan perempuan.

Feminisme sendiri juga terfragmentasi tentang bagaimana bergerak maju – apakah melawan

dan membela diri dari serangan ini atau, yang paling buruk, membiarkan capaian minoritas

perempuan yang memiliki hak istimewa tetap dipertahankan dengan mengorbankan massa

besar perempuan lainnya.

Sebagian feminis berjalan bersama dengan kaum sayap-kanan moralis yang mengadvokasi

peranan perempuan tradisional sebagai istri dan ibu rumah tangga dengan menuntut lebih

banyak sensor terhadap pornografi dan penindasan terhadap teknologi reproduktif “yang

dikontrol laki-laki.”

Yang lain memilih, bukan untuk gerakan perempuan demokratik yang bertujuan untuk

merubah masyarakat secara kolektif, namun memilih feminisme yang berdasarkan hak

individual, pencapaian individual dan solusi individual. Membuat lebih banyak perempuan

masuk kedalam posisi “pembuat keputusan” di pemerintahan dan jajaran birokrasi, menurut

mereka adalah cara satu-satunya untuk mencapai kesetaraan gender.

Penolakan terhadap perjuangan kolektif, organisasi dan berkampanye ini dibawa satu langkah

lebih jauh lagi oleh apa yang disebut sebagai feminisme “gelombang ketiga”, feminisme “do-

it yourself-lakukan sendiri”, yang sangat dipengaruhi oleh postmodernisme dan

menggantikan semua pengalaman umum, perasaan solidaritas dan aksi bersama di antara

perempuan dengan relativisme dan individualisme absolut.

Buku ini menyuarakan strategi yang sangat berbeda. Buku ini menilai keadaan hak

perempuan dan feminisme di seluruh dunia hari ini – di negeri-negeri Barat yang

terindustrialisasi, Dunia Ketiga dan bekas blok Uni Soviet, serta Kuba dan Amerika Latin –

dengan menjelaskan penindasan perempuan dari perspektif Marxisme.

Sebagai sebuah resolusi Democratic Socialist Party-Partai Sosialis Demokratik (DSP), buku

ini mengambil pengalaman kaya aktivisme DSP di dalam gerakan perempuan sejak

pendiriannya di Australia pada awal tahun 1970an. Buku ini menggambarkan sebuah strategi

untuk melindungi capaian-capaian yang telah diperjuangkan dan meluaskan perjuangan untuk

membangun sebuah gerakan perempuan yang inklusif – yang bisa memenangkan

pembebasan untuk semua kaum perempuan.

2. Mana Tradisi Marxis Sejati: John Molyneux

Ini bukan sekadar bahwa orang yang mengaku Marxis memiliki pendapat berbeda mengenai

masalah-masalah tertentu (misalnya tentang kecenderungan turunnya laju profit, atau karakter

kelas Uni Soviet): yang wajar dalam setiap gerakan demokratik yang hidup. Persoalannya

yaitu bahwa kaum “Marxis” sering saling memenjarakan, memerangi serta membunuh, dan

yang lebih mendasar adalah, bahwa dalam semua konflik sosial penting di masa ini, ada

banyak dari mereka yang mengklaim diri sebagai “Marxis” mengambil sikap yang

bertentangan dengan barikade revolusioner. Misalnya antara Lenin dan Plekhanov [seorang

tokoh sosial-demokrat] di Rusia tahun 1917, Kautsky dan Luxemburg di tahun 1919, Partai

Komunis dan Partai Revolusioner POUM di Spanyol di masa pemberontakan di Barcelona

tahun 1936; dan di Eropa Timur (Hongaria tahun 1956 dan Polandia di tahun 1981) masa

ambruknya blok Soviet. Kontradiksi inilah yang mendorong kita untuk melontarkan

pertanyaan tentang apa yang sebenarnya disebut sebagai Marxisme.

Feminisme dan Sosialisme, harga Rp 25.000,- diskon 40% menjadi Rp 15.000,-

Mana Tradisi Marxis Sejati? harga Rp 20.000,- diskon 40% menjadi Rp 12.000,-

Berlaku hingga Kamis 26 Desember 2015.

Untuk pemesanan hubungi Bintang Nusantara.

Perjumpaan Gus Dur dengan Marxisme-Leninisme


PERJUMPAAN Gus Dur dengan Marxisme, bisa kita baca dalam biografi yang ditulis oleh Greg Barton. Sebagaimana pengakuannya sendiri ketika remaja di Yogyakarta menjadi santri Kiai Ali Maksum Krapyak, ia telah membaca Das Capital karya Marx dan What Is To Be Done? karya Lenin. Gus Dur juga tertarik pada ide Lenin tentang keterlibatan sosial secara radikal, seperti dalam Infantile Communism dan dalam Little Red Book nya Mao (kutipan kata-kata Ketua Mao). Digambarkan bahwa di satu sisi ia menemukan banyak ide menarik dalam pikiran-pikiran kaum Marxis, tetapi ia juga terganggu oleh antagonisme Marxisme dengan agama. Meski demikian, Gus Dur masih tetap berharap bahwa dalam Islam ia dapat memperoleh jawaban bagi masalah-masalah ketidakadilan, kemiskinan, dan penindasan yang menjadi tema utama dan mengemuka dalam Marxisme-Leninisme.
Dari situ kita tahu bahwa Gus Dur bersentuhan dengan Marxisme-Leninisme sejak masa remaja. Meski demikian, tidak mudah bagi siapapun untuk mengetahui sejauh mana pemahaman dan pengaruh Maxisme atas pemikirannya, karena Gus Dur tak pernah menerbitkan atau menuliskan hasil bacaannya. Dari semua esainya, setahu penulis, hanya ada satu esai Gus Dur yang secara spesifik memberi komentar atas Marxisme yaitu Pandangan Islam Terhadap Marxisme dan Leninisme yang dimuat pertamakali dalam Persepsi No. 1 1982. Bertolak dari esai tersebut, kita akan tahu bagaimana kesan dan ekspektasi Gus Dur atas Marxisme-Leninisme.

Bagi pembaca Gus Dur yang baik, tak akan heran dengan sikap terbuka Gus Dur terhadap Marxisme karena Gus Dur sejak semula membuktikan dirinya tidak pernah canggung dengan berbagai khasanah pengetahuan yang berada di luar garis kulturalnya. Sikap terbuka ini, kemungkinan besar diterimanya dari lingkungan kosmopolit yang ditanamkan oleh ayahnya, Wahid Hasyim, dimana sebagai politisi muda pada masanya kiai Wahid biasa bergaul dengan banyak tokoh-tokoh pergerakan dari berbagai latar ideologi. Bahkan bersahabat dengan seorang pejuang Revolusioner Tan Malaka yang berhaluan Komunis.

Di sini muncul pertanyaan. Gus Dur yang pada masa remajanya telah membaca Marxisme-Leninisme, –setidaknya telah memahami dasar-dasar pemikiran Marx— kenapa Gus Dur tidak tertarik untuk mengkaji Marxisme secara lebih serius dan teoritis? Pertanyaan tersebut juga bisa berlaku secara umum. Kenapa intelektual Islam Indonesia di era orde baru enggan untuk mengkaji Marxisme di era itu? Pertanyaan ini relevan untuk diajukan dimuka, sebelum kita masuk ke esai Gus Dur. Karena secara umum, dalam esai tersebut Gus Dur sadar betul akan pentingnya Marxisme-Leninisme bagi pemikiran Islam.

Setidaknya, ada beberapa hal yang menghambat kajian Marx di era orde baru. Pertama, Secara historis kaum muslim Indonesia mempunyai pengalaman sejarah kelam yang memposisikan Islam dan Marxisme secara berhadap-hadapan di tahun 1948 dan 1965. Kedua, para intelektual Islam Indonesia yang mekar di era tahun 1980an – 1990an, hidup dalam suasana pembangunanisme yang tengah dicanangkan oleh rezim orde baru. Sehingga mudah ditemukan di era itu, intelektual Islam Indonesia disibukkan oleh upaya mencari kesesuaian Islam dan Developmentalism. Nalar instrumental yang dibawa serta oleh developmentalism tak pelak menyeret intelektual Islam Indonesia masuk pada narasi: ‘apakah kontribusi Islam terhadap pembangunan Indonesia menuju negara maju sebagaimana proyek orde baru’. Karena bagi para intelektual Islam di masa itu, adalah menjadi kebutuhan penting dan mendesak untuk segera memberi sumbangsih argumentasi teologis dan historis bahwa Islam kompatibel dengan pembangunan. Ketiga, politik anti-komunisme orde baru yang melarang Marxisme-Leninisme diajarkan. Konjungtur politik semacam itulah yang menjadi penyebab utama minusnya kajian Marx dan Marxisme oleh intelektual Islam Indonesia.

Dengan demikian, Marxisme di era orde baru berada di tepian kajian humaniora di Indonesia. Ini berbeda dengan di era Zaman Bergerak atau masa awal perjuangan Indonesia, dimana Marxisme bisa dikatakan satu-satunya ilmu sosial yang menjadi primadona dan memberi pengaruh besar bagi kaum pergerakan pada masanya. Bahkan ketika Tan Ling Djie, seorang Marxis tulen dari Partai Komunis Indonesia (PKI) menyebut Muhammad Hatta sebagai Marxis gadungan, Marxis “borjuis” yang pemahamannya tentang Marxologie sangat terbatas dan dangkal, Hatta menyangkalnya. Ia mengaku seorang marxis yang memakai materialisme sebagai teori bukan dogma. Ia menyebut dirinya sebagai seorang Marxis dan juga bukan Marxis sekaligus, sebagaimana Marx sendiri mengatakan tentang dirinya, “Ich bin kein Marxist”, “saya bukan seorang Marxis”. Pernyataan Hatta itu akan sulit ditemukan di kalangan intelektual Islam saat ini.

Perlunya Mencari Kesesuaian Islam dan Marxisme
Secara umum, esai Gus Dur yang berjudul Pandangan Islam Terhadap Marxisme dan Leninisme berisi pesan perlunya sebuah upaya teoritis mencari kesesuaian Islam dan Marxisme. Berbeda dengan kebanyakan tokoh Islam pada masanya, yang sebagian besar anti terhadap komunisme yang merupakan imbas dari propaganda Soeharto, Gus Dur justru melihat perlunya proses akulturasi pengetahuan antara Islam dan Marxisme. Ia tak khawatir akan terjadi erosi ajaran Islam atas akulturasi gagasan tersebut. Sebaliknya, ia melihat adanya peluang terjadinya penguatan ajaran-ajaran Islam melalui “penyerapan sebagai alat analisis” yang dipinjam dari Marxisme-Leninisme tersebut. Di sinilah Gus Dur menghendaki adanya kajian lebih mendalam tentang hubungan Islam dan Marxisme-Leninisme, yang akan membawa pada pemahaman yang lebih terinci dan pengertian lebih konkret akan adanya titik-titik persamaan yang dapat digali antara Islam sebagai ajaran kemasyarakatan, dan Marxisme-Leninisme sebagai ideologi politik. Pemahaman dan pengertian seperti itu akan memungkinkan antisipasi terhadap peluang bagi terjadinya “titik sambung” keduanya di negeri ini pasca 65.

Lebih jauh, Gus Dur mengkritik sikap kaum muslimin Indonesia yang menolak kehadiran Marxisme-Leninisme melalui ketetapan MPR sebagai sebuah anomali, karena penolakan tersebut lebih bersifat politis, bukan ideologis. Lebih-lebih, menurut Gus Dur, kaum muslimin Indonesia sudah tidak lagi memiliki aspirasi mereka sendiri di bidang ideologi, tetapi meleburkannya ke dalam ideologi “umum” bangsa, yaitu Pancasila. Gus Dur menyayangkan kenyataan selama ini bahwa tinjauan atas hubungan Islam dan Marxisme-Leninisme sering kali bersifat dangkal, sangat formal dan melihat dari satu sisi saja. Anehnya, selama ini Marxisme-Leninisme, meski tidak diakui secara formal di kalangan gerakan-gerakan Islam, namun diam-diam diterima dalam praktik.

Bagi Gus Dur menjadi penting dalam konteks Indonesia kedepan adanya upaya meramu unsur Marxisme-Leninisme dan Islam, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh sejumlah pemikir muslim semacam Abdel Malek Bennabi dan Ali Syariati. Bahkan Gus Dur mengungkapkan adanya sebuah gerakan Islam Mojaheddin el-Khalq yang bergerak dari Paris, menggunakan analisis perjuangan kelas yang mengikuti acuan Marxisme-Leninisme. Yang lebih mencengangkan, Gus Dur menganjurkan adanya kajian atas ayat-ayat Al-Qur’an, ucapan Nabi dalam hadits dan penjelasan ulama dalam karya-karya mereka diperiksa kembali “wawasan kelas”-nya, agar dimungkinkan adanya penafsiran kembali atas “pemahaman salah” akan sumber-sumber ajaran agama yang selama ini ditafsir. Gus Dur sadar akan pentingnya pendekatan struktural dalam menafsirkan kembali ajaran agama itu bagaimanapun akan membawa kepada kesadaran akan pentingnya analisis perjuangan kelas untuk menegakkan struktur masyarakat yang benar-benar adil dalam pandangan Islam.

Ada yang lebih mengharukan dari esai tersebut,– ingat esai tersebut ditulis di tahun 1982 dimasa kuat-kuatnya orde baru—yaitu apresiasi Gus Dur terhadap semakin berkembangnya pemahaman “humanis” atas Marxisme-Leninisme, sebagimana dilakukan Partai Komunis Italia yang membawa apresiasi lebih dalam lagi tentang pentingnya wawasan keagamaan ditampung dalam perjuangan kaum Maxis-Leninis untuk menumbangkan struktur kapitalis secara global. Satu kritik Gus Dur terhadap Marxisme, yaitu penempatan agama sebagai superstruktur atau struktur atas bukan basis struktur atau struktur bawah yang merupakan basis teoritis Marxisme. Inilah yang luput dari Gur Dur, ia tak melihat dimensi revolusiner dari filsafat Marx yaitu penemuannya atas tendesi ekonomis atas segala hal di dunia ini secara ilmiah. Sebagaimana diungkapkan Engels dalam Speech at the Graveside of Marx bahwa: “Marx menemukan… fakta yang sederhana… bahwa umat manusia pertama-tama harus makan, minum, memiliki tempat berteduh, dan berpakaian, sebelum ia dapat mengejar politik, sains, seni dan agama.”

Relevansi Islam dan Marxisme Menuju Another World is Possible
Dalam esainya, Gus Dur sangat terkesan dengan sisi humanis dari Partai Komunis Italia yang salah satunya dimotori oleh Antonio Gramsci. Kita tahu di Eropa, teori Gramsci menjadi sangat terkenal pasca Perang Dunia II. Berbeda dengan Lenin yang percaya sosialisme via revolusi dengan membangun Partai Pelopor, mengikuti Engels, Gramsci lebih percaya jalan sosialisme melalui demokrasi.

Tambahan untuk ekspektasi Gus Dur. Percobaan intelektual dan politik Marxisme yang berkembang jauh dari apa yang selama ini diduga banyak pihak. Pasca kendaraan runtuhnya Tembok Berlin dimana semua pihak memperkirakan Marxisme sudah terbukti gagal dan segera ditinggalkan, Fredric Jameson, seorang kritikus sastra dan teoritisi politik Marxis, malah mengatakan bahwa Marxisme makin diperkuat dan diremajakan oleh keterbebasannya dari tradisi Soviet yang monolitik. Dengan adanya Revolusi Cina dan Kuba, Kiri Baru Amerika, peristiwa Mei 1968 di Prancis, Marxisme telah lepas dari kebekuan Stalinisme dan menjadi suatu aliran pemikiran dan aksi baru yang kreatif dan pluralistik.

Sementara, jika kita melihat konfigurasi politik abad dua satu, banyak pemimpin sosialis-kiri radikal yang pernah memimpin, khususnya di Amerika Latin, di antaranya: Michelle Bachelet, mantan tahanan politik perempuan, yang menjadi presiden Chili; Evo Morales, tokoh gerakan petani suku Indian, presiden Bolivia; Hugo Chavez, Presiden Venezuela; Lula Da Silva, presiden Brazil; Netro Kirchner, presiden Argentina; dan Daniel Ortega, presiden Nikaragua. Para pemimpin tersebut bersekutu dengan presiden Kuba Fidel Castro, yang telah lama menjadi musuh utama AS di benua Amerika.

Jadi di abad ini, percobaan sosialisme via demokrasi, yang dimulai oleh Salvador Allende, seorang presiden Marxis pertama yang terpilih secara demokratis pada tahun 1970 di Chile dan deretan nama pemimpin kiri di Amerika Latin dan suksesnya Podemos di Spanyol, memberi sinyal pada kita bahwa Marxisme masih mungkin. Sayangnya, Via Chilena (jalan Chili) menuju sosialisme yang dicanangkan Allende melalui pidato pelantikannya yang sangat terkenal: “…Sekarang rakyat telah berhasil merebut kekuasaan atas nasib mereka sendiri, untuk berderap maju menuju sosialisme melalui jalan demokratis” pada tahun 1973, digulingkan secara brutal oleh militer Chilieatas perintah Amerika, dalam sebuah operasi militer yang diberi nama “Operasi Jakarta”. Kudeta tersebut telah merenggut nyawa Allende berikut kira-kira 30.000 orang dari negeri yang berpenduduk sepuluh juta jiwa itu.

Penulis percaya dengan apa yang diungkapkan oleh Samir Amin, direktur Third World Forum yang mencetuskan teori Centre-Periphery (Pusat dan Pinggiran), yang menggambarkan ketimpangan hubungan antara negara maju di Utara dan negara-negara miskin di Selatan bahwa ketimpangan ini akan terus dilanggengkan. Bagi Samir Amin, ada pertukaran yang tidak adil (unequal exchange). Konsep ini menunjukkan bagaimana terjadinya peralihan surplus dari negara-negara miskin atau Dunia Ketiga yang disebutnya “periphery” (negara-negara pinggiran) ke negara-negara maju yang disbutnya ”centre” (negara-negara pusat). Dari kolonialisme berupa penjajahan politik hingga neo-kolonialisme berupa penjajahan ekonomi sebagaimana saat ini, percayalah negara-negara Dunia Ketiga atau negara periphery, selamanya hanya diposisikan sebagai tempat penanaman modal asing, sumber bahan mentah, sumber buruh murah, dan tempat pemasaran hasil produksi negara maju.

Penutup
Kita patut bersyukur mempunyai agawaman sekaligus pemimpin semacam Gus Dur yang tak pernah dogmatis dan selalu terbuka dengan segala kemungkinan bagi jalannya perubahan. Penulis baru sadar bahwa kengototan presiden Gus Dur untuk mecabut TAP MPRS No. 25 tahun 1966, ternyata berakar pada esainya di tahun 1982 tersebut, dimana ia mengkritik sikap anomali kaum muslim Indonesia yang menolak Marxisme-Leninisme. Gus Dur tidak bergeser setitikpun dengan konsistensi sikap politiknya.

Terakhir, agar prasangka atas komunisme di negeri bisa kita sudahi. Jangan lupa, setitikpun jangan!. Nelson Mandela atau yang akrab dipanggil Madiba juga seorang Marxis. Sahed Baghat Singh, seorang pejuang kemerdekaan India seorang Marxis. Dan anehnya, semoga tidak sedang bercanda, seorang Dalai Lama mentahbiskan dirinya sebagai Marxis. Bahkan Pancasila dengan jujur dikatakan oleh Soekarno sebagai Kiri. Berikut kutipan lengkapnya:

“Oleh karena itu saya berkata tempo hari, Pancasila adalah kiri. Oleh karena apa? Terutama sekali karena di dalam Pancasila ada unsur Keadilan Sosial. Pancasila adalah anti-Kapitalisme. Pancasila adalah Anti “explotation de’l home par l’homme”. Pacasila adalah Anti “exploitation de nation par nation”. Karena itulah Pancasila kiri”
Kenapa kita yang begitu bersemangat dengan kemanusiaan, demokrasi dan toleransi tak siap menerima kenyataan ini. Siapakah sesungguhnya yang tak manusiawi, demokratis dan toleran? Sepertinya hanya Allah yang tahu.***

Sumber : Google Image
Penulis adalah guru ngaji, aktivis Federasi Buruh Lintas Pabrik dan aktif di Litbang Front Nahdliyin Untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam. Penulis bisa diubungi melalui roy.murtadho@gmail.com.
Poin-poin utama esai ini merupakan bahan awal dari materi tambahan atau suplemen untuk “Pondok Mahasiswa” di Purwokerto.

[1] Greg Barton, Biografi Gus Dur The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, (Yogyakarta: LkiS, 2003), hlm. 53.
[2] Ibid., 54.
[3] Abdurrahman Wahid, “Pandangan Islam Terhadap Marxisme dan Leninisme”, dalam Aula, September (1988). Sebelumnya pernah dimuat dalam Persepsi, No. 1, (1982), dan kini dibukukan dalam Kacung Marijan dan Al-Brebesy (ed.), Mengurai Hubungan Agama dan Negara, (Jakarta: Grasindo, 1999), dan menjadi prolog dalam buku karya Syamsul Bakri, Gerakan Komunisme Islam Surakarta 1914-1942 (Yogyakarta: LkiS, 2015). Dan dimuat dalam website NU online.
[4] Lih. Daniel Dhakidae, Cendekiawan dan Kekuasaan Dalam Negara Orde Baru, (Jakarta: Gramedia, 2003). Catatan kaki No. 203, hlm. 690-691.
[5] Lih. Frededich Engels, “Speech at the Graveside of Marx,” dalam Karl Marx and Engels: Selected Works, diterjemahkan dan disunting oleh Marx-Engels-Lenin Institute, vol 2. (Moscow 1951), 2:153.
[6] Frederic Jameson dalam Pendahuluan atas karya Henri Arvon, Estetika Marxis, (Yogyakarta: Resist Book, 2010).
[7] Untuk menilik pemikiran Samir Amin lebih lanjut lih. Samir Amin, Imperialism and Unequal Development, (New York: Monthly Review Press, 1978). Unequal Development, (New York: Monthly Review Press. 1976). Capitalism in the Age on Globalization, 1997.
[8] Lih. Bonnie Triyana dan Budi Setiyono: Revolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965 – Pelengkap Nawaksara (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2005), hlm. 63

LENIN : Sosialisme dan Agama


Sumber : Google Image
Masyarakat yang ada saat ini sepenuhnya didasarkan atas eksploitasi yang dilakukan oleh sebuah minoritas kecil penduduk, yaitu kelas tuan tanah dan kaum kapitalis, terhadap masyarakat luas yang terdiri atas kelas pekerja. Ini adalah sebuah masyarakat perbudakan, karena para pekerja yang "bebas", yang sepanjang hidupnya bekerja untuk kaum kapitalis, hanya "diberi hak" sebatas sarana subsistensinya. Hal ini dilakukan kaum kapitalis guna keamanan dan keberlangsungan perbudakan kapitalis.

Tanpa dapat dielakkan, penindasan ekonomi terhadap para pekerja membangkitkan dan mendorong setiap bentuk penindasan politik dan penistaan terhadap masyarakat, menggelapkan dan mempersuram kehidupan spiritual dan moral massa. Para pekerja bisa mengamankan lebih banyak atau lebih sedikit kemerdekaan politik untuk memperjuangkan emansipasi ekonomi mereka, namun tak secuil pun kemerdekaan yang akan bisa membebaskan mereka dari kemiskinan, pengangguran, dan penindasan sampai kekuasaan dari kapital ditumbangkan. Agama merupakan salah satu bentuk penindasan spiritual yang dimanapun ia berada, teramat membebani masyarakat, teramat membebani dengan kebiasaan mengabdi kepada orang lain, dengan keinginan dan isolasi. Impotensi kelas tertindas melawan eksploitatornya membangkitkan keyakinan kepada Tuhan, jin-jin, keajaiban serta jang sedjenisnya, sebagaimana ia dengan tak dapat disangkal membangkitkan kepercayaan atas adanya kehidupan yang lebih baik setelah kematian. Mereka yang hidup dan bekerja keras dalam keinginan, seluruh hidup mereka diajari oleh agama untuk menjadi patuh dan sopan ketika di sini di atas bumi dan menikmati harapan akan ganjaran-ganjaran surgawi. Tapi bagi mereka yang mengabdikan dirinya pada orang lain diajarkan oleh agama untuk mempraktekkan karitas selama ada di dunia, sehingga menawarkan jalan yang mudah bagi mereka untuk membenarkan seluruh keberadaannya sebagai penghisap dan menjual diri mereka sendiri dengaan tiket murah untuk menuju surga. Agama merupakan candu bagi masyarakat. Agama merupakan suatu minuman keras spiritual, di mana budak-budak kapital menenggelamkan bayangan manusianya dan tuntutan mereka untuk hidup yang sedikit banyak berguna untuk manusia.

Tetapi seorang budak yang menjadi sadar akan perbudakannya dan bangkit untuk memperjuangkan emansipasinya ternyata sudah setengah berhenti sebagai budak. Para buruh modern yang berkesadaran-kelas, digunakan oleh industri pabrik skala besar dan diperjelas oleh kehidupan perkotaan yang merendahkan kedudukan di samping prasangka-prasangka religius, meninggalkan surga kepada parra pastur dan borjuis fanatik, dan mencoba meraih kehidupan yang lebih baik untuk dirinya sendiri di atas bumi ini. Proletariat sekarang ini berpihak pada sosialisme, yang mencatat pengetahuan dalam perang melawan kabut agama, dan membebaskan para pekerja dari keyakinan terhadap kehidupan sesudah mati dengan mempersatukan mereka bersama guna memperjuangkan masa sekarang untuk kehidupan yang lebih baik di atas bumi ini.

Agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi. Dalam kata-kata inilah kaum sosialis biasa menyatakan sikapnya terhadap agama. Tetapi makna dari kata-kata ini harus dijelaskan secara akurat untuk mencegah adanya kesalahpahaman apapun. Kita minta agar agama dipahami sebagai sebuah persoalan pribadi, sepanjang seperti yang diperhatikan oleh negara. Namun sama sekali bukan berarti kita bisa memikirkan agama sepanjang seperti yang diperhatikan oleh Partai. Sudah seharusnya agama tidak menjadi perhatian negara, dan masyarakat religius seharusnya tidak berhubungan dengan otoritas pemerintahan. Setiap orang sudah seharusnya bebas mutlak menentukan agama apa yang dianutnya, atau bahkan tanpa agama sekalipun, yaitu, menjadi seorang atheis, dimana bagi kaum sosialis, sebagai sebuah aturan. Diskriminasi diantara para warga sehubungan dengan keyakinan agamanya sama sekali tidak dapat ditolerir. Bahkan untuk sekedar penyebutan agama seseorang di dalam dokumen resmi tanpa ragu lagi mesti dibatasi. Tak ada subsidi yang harus diberikan untuk memapankan gereja, negara juga tidak diperbolehkan didirikan untuk masyarakat religius dan gerejawi. Hal-hal ini harus secara absolut menjadi perkumpulan bebas orang-orang yang berpikiran begitu, asosiasi yang independen dari negara. Hanya pemenuhan seutuhnya dari tuntutan ini yang dapat mengakhiri masa lalu yang memalukan dan keparat, saat gereja hidup dalam ketergantungan feodal pada negara, dan rakyat Rusia hidup dalam ketergantungan feodal pada gereja yang mapan, ketika di jaman pertengahan, hkum-hukum inquisisi (yang hingga hari ini masih mendekam dalam hukum-hukum pidana dan pada kitab undang-undang kita) ada dan diterapkan, menyiksa banyak orang untuk keyakinan maupun ketidakyakinannya, memperkosa hati nurani orang-orang, dan menggabungkan pemerintah yang enak dan pendapatan dari pemerintah, dengan dispensasi ini dan itu yang membiuskan, oleh lembaga gereja. Pemisahan yang tegas antara lembaga Negara dan Gereja adalah apa yang dituntut proletariat sosialis mengenai negara modern dan gereja modern.

Revolusi Rusia harus memberlakukan tuntutan ini sebagai sebuah komponen yang diperlukann untuk kemerdekaan politik. Dalam hal ini, revolusi Rusia berada dalam sebuah posisi yang menyenangkan, karena ofisialisme yang menjijikkan dari otokrasi feodal polisi berkuda telah menimbulkan ketidakpuasan, keresahan, dan kemarahann bahkan di antara para pendeta. Serendah-rendahnya dan sedungu-dungunya pendeta Orthodoks Rusia, mereka pun sekarang telah dibangunkan oleh guntur keruntuhan tatanan abad pertengahan yang kuno di Rusia. Bahkan mereka yang bergabung dalam tuntutan untuk kebebasan, memprotes praktek-praktek birokratik dan ofisialisme, hal memata-matai polisiyang sudah ditetapkan sebagai "pelayan Tuhan". Kita kaum sosialis harus memberikan dukungan kita pada gerakan ini, mendukung tuntutan para pendeta yang jujur dan tulus hati menuju ke tujuan mereka, membuat mereka meyakini kata-kata mereka tentang kebebasan, menuntut bahwa mereka harus memutuskan semua hubungan antara lembaga keagamaan dan kepolisian. Seperti juga bagi Anda yang tulus hati, di tiap kasus Anda harus mempertahankan pemisahan antara Gereja dengan Negara dan sekolah dengan Agama, sepanjang agama sudah dinyatakan secara tuntas dan menyeluruh sebagai urusan pribadi. Atau Anda tidak menerima tuntutan-tuntutan konsisten tentang kebebasan ini, dalam kasus dimana Anda tetap terpikat dengan tradisi inkuisisi, dalam kasus dimana Anda tetap berpegang teguh dengan kerja pemerintahan yang enak dan pendapatan dari pemerintah, dalam kasus dimana Anda tidak percaya terhadap kekuatan spiritual dari senjatamu dan melanjutkan untuk mengambil suap dari negara. Dan dalam kasus itulah para pekerja berkesadaran-kelas di seluruh Rusia menyatakan perang tanpa ampun terhadap Anda.

Sepanjang yang diperhatikan kaum sosialis proletariat, agama bukanlah sebuah persoalan pribadi. Partai kita adalah sebuah asosiasi dari para pejuang maju yang berkesadaran kelas, yang bertujuan untuk emansipasi kelas pekerja. Sebuah asosiasi seperti itu tidak dapat dan tidak seharusnya mengabaikan adanya kekurangan kesadaran- kelas, ketidaktahuan atau obscurantisme (isme kekaburan, ketidakjelasan) dalam bentuk keyakinan-keyakinan agama. Kita menuntut pembinasaan sepenuhnya terhadap Gereja dan dengannya mampu menerangi kabut religius yang begitu ideologis dan dengan sendirinya senjata ideologis, dengan sarana pers kita dan melalui kata dari mulut. Namun kita mendirikan asosiasi kita, Partai Buruh Sosial-Demokrat Rusia, tepatnya untuk sebuah perjuangan melawan setiap agama yang menina bobokan para pekerja. Dan bagi kita perjuangan ideologi bukan sebuah urusan pribadi, namun persoalan seluruh Partai, seluruh proletariat.
Jika memang demikian, mengapa kita tidak menyatakan dalam Program kita bahwa kita adalah atheis? Mengapa kita tidak melarang orang-orang Kristen dan para penganut agama Tuhan lainnya untuk bergabung dalam partai kita?

Jawaban terhadap pertanyaan ini akan memberikan penjelasan tentang perbedaan yang cukup penting dalah hal persoalan agama yang ditampilkan oleh para demokrat borjuis dan kaum Sosial-Demokrat.
Program kita keseluruhannya berdasar pada cara pandang yang ilmiah, dan lebih jauh materialistik. Oleh karenanya, sebuah penjelasan mengenai program kita secara amat perlu haruslah memasukkan sebuah penjelasan tentang akar-akar historis dan ekonomis yang sesungguhnya dari kabut agama. Propaganda kita perlu memasukkan propaganda tentang atheisme; publikasi literatur ilmiah yang sesuai – dimana pemerintah feodal otokratis hingga saat ini telah melarang dan menyiksa – yang pada saat ini harus membentuk satu bidang dari kerja partai kita. Kita sekarang mungkin harus mengikuti nasehat yang diberikan Engels kepada kaum Sosialis Jerman: menterjemahkan dan menyebarkan literatur intelektual Pencerahan Perancis abad ke-18 dan kaum atheis.

Namun bagaimanapun juga kita tidak boleh dan tidak patut untuk jatuh dalam kesalahan menempatkan persoalan agama ke dalam sebuah abstrak, kebiasaan jang idealistik, sebagai sebuah masalah "intelektual" yang tak berhubungan dengan perjuangan kelas, seperti yang tidak jarang dilakukan oleh kaum demokrat-radikal yang ada di antara kaum borjuis. Tentulah bodoh untuk berpikir bahwa, dalam sebuah masyarakat yang berdasar pada penindasan tanpa akhir dan merendahkan massa pekerja, prasangka-prasangka agama bisa disingkirkan hanya melalui metode propaganda melulu. Inilah kesempitan cara berpikir borjuis yang lupa bahwa beban agama yanng memberati kehidupann manusia sebenarnya tak lebih adalah sebuah produk dan refleksi beban ekonomi yang ada di dalam masyarakat. Tak satupun dari famplet khotbah, berabapun jumlahnya, dapat memberi pencerahan pada kaum proletariat, jika ia tidak dicerahkan dengan perjuangannya sendiri melawan kekuatan gelap dari kapitalisme. Persatuan dalam perjuangan revolusioner yang sesungguhnya dari kelas kaum tertindas untuk menciptakan sebuah sorgaloka di bumi, lebih penting bagi kita ketimbang kesatuan opini proletariat di taman firdaus surga.

Hal inilah yang menjadi alasan mengapa kita tidak dan tidak akan menyatakan atheisme dalam program kita, itulah mengapa kita tidak akan dan tidak akan melarang kaum proletariat yang tetap memelihara sisa-sisa prasangka lama untuk menggabungkan diri mereka dengan Partai kita. Kita akan selalu mengkhotbahkan cara pandang ilmiah, dan hal itu essensial bagi kita untuk memerangi ketidakkonsistenan dari berbagai aliran "Nasrani". Namun bukan berarti bahwa pada akhirnya persoalan agama akan dikembangkan menjadi persoalan utama, sementara hal itu sudah tidak dipersoalkan lagi, atau bukan pula berarti bahwa kita akan membiarkan semua kekuatan dari perjuangan ekonomi dan politik revolusioner yang sesungguhnya untuk dipilah-pilah mengikuti opini tingkat ketiga ataupun ide-ide yang tidak masuk akal. Karena hal ini akan segera kehilangan semua arti penting politisnya, segera akan disapubersih sebagai sampah oleh perkembangan ekonomi.
Dimanapun kaum borjuis reaksioner hanya memperhatikan dirinya sendiri, dan sekarang sudah mulai memperhatikan dirinya di Rusia, dengan menggerakkan perselisihan agama – karenanya dalam rangka membelokkan perhatian massa dari problem-problem ekonomi dan politik yang demikian penting dan fundamental, pada saat ini diselesaikan dalam praktek oleh semua proletariat Rusia yang bersatu dalam perjuangan revolusioner. Kebijaksanaan revolusioner yang memecahbelahkan kekuatan kaum proletariat, dimana pada saat ini manifestasinya muncul dalam program Black-Hundred, mungkin besok akan menyusun bentuk-bentuk yang lebih subtil. Kita, pada setiap tingkat, akan melawannya dengan tenang, secara konsisten dan sabar berkhotbah tentang solidaritas proletarian dan cara pandang ilmiah – seorang pengkhotbah yang asing pada apapun hasutan-hasutan perbedaan sekunder.

Kaum proletariat reevolusioner akan berhasil dalam membentuk agama menjadi benar-benar urusan pribadi, sejauh yang diperhatikan oleh negara. Dan dalam sistem politik ini, bersih dari lumut-lumut abad pertengahan, kaum proletariat akan keluar dan membuka pertarungan untuk mengeliminasi perbudakan ekonomi, sumber yang murni dari segala omong kosong relijius manusia.

Novaya Zhizn, No. 28.
3 Desember, 1905
Tertanda: N. Lenin
Diterbitkan sesuai dengan teks yang dalam Novaya Zhizn

Sumber: Karya-karya Lenin
Catatan: Lihat Frederick Engels, "Flüchtlings-Literatur", Volksstaat, No. 73, 22/6/1874, halaman 86.

Mahendra : Lawan “Ketakutan” Akan “ketakutan” Terhadap Kelompok Reaksioner


Foto Ignatius Mahendra Saat Aksi Melawan Imprealisme di ASIA
Dalam setiap perkembangan perjuangan, tidak dapat dihindari terdapat sekelompok orang yang masih tertahan kesadarannya dalam kebiasaan-kebiasaan lama. Termasuk dalam perkembangan perjuangan melawan kelompok reaksioner. Ketika kawan2 berhasil menyelenggarakan pemutaran film Senyap di UIN masih terdapat segelintir orang yang mencibirnya. Demikian juga ketika kawan-kawan melancarkan aksi pertama yang menandingi aksi dari kelompok reaksioner. Didalamnya kita harus membedakan setidaknya dua kelompok yang tertahan dalam kebiasaan lama enggan melawan kelompok-kelompok reaksioner. Pertama adalah mereka yang sudah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan. Ketakutan terhadap kelompok-kelompok reaksioner. Serta keputusasaannya dalam berhadapan dengan serangan kelompok-kelompok reaksioner. 
 
Kita tidak akan berkubang pada ketakutannya. Apa lagi yang mau dibicarakan tentang kelompok-kelompok reaksioner itu? Kekejaman dan kebiadabannya sudah kita ketahui dan rasakan. Hubungannya dengan aparat negara dan elit-elit politik sudah terang benderang didepan kita. 

Kita tidak akan berkutat pada keputusasaannya. Tidak pernah benar-benar ada rumah aman bagi individu untuk menyembunyikan diri ditengah serangan besar-besaran dari para elit politik dan kelompok reaksioner. Lagipula melawan atau tidak melawan, sudah bertahun-tahun kita diinjak-injak, dipentungi, dsb. Setidaknya kalau melawan, ada kemungkinan kita menang. Kalau tidak melawan, sama sekali tidak berarti serangan itu akan berhenti. Bukankah semakin kesini eskalasi serangan tersebut semakin meningkat? Saya mendengar seorang kawan mengatakan: pengalaman aksi kemarin sungguh-sungguh membebaskan, membebaskan saya yang sudah bertahun-tahun diborgol karena identitas saya.
 
Kita justru harus terus menerus menjelaskan perjuangan-perjuangan yang menginspirasi dan hasil-hasilnya. Bagaimana rakyat tertindas mampu bersatu dan melawan serangan kelompok-kelompok reaksioner tersebut. Harus terus melatih keberanian, melatih strategi, bersatu dengan rakyat tertindas lainnya, melatih perlawanan yang lebih kuat dan solid lagi. 

Kedua adalah para intelektual dan para pimpinan. Mereka lebih suka berbicara tentang toleransi, keberagaman, demokrasi. Tapi bukan memperjuangkannya. Mereka lebih suka berbicara, menganalisa dan meneliti tentang kelompok reaksioner. Tapi bukan melawannya. Mereka lebih suka berbicara dialog, proses, pencarian strategi untuk berhadapan dengan kelompok reaksioner. Walau bertahun-tahun terbukti tidak menyelesaikan persoalan, bahkan strategi mereka mengecilkan kekuatan kelompok reaksioner pun tidak. 

Mereka suka berbicara tentang anti kekerasan. Tapi ditengah serangan kelompok reaksioner, slogan “anti kekerasan” mereka adalah kosong. Mereka tidak punya kemampuan ataupun keberanian untuk menghentikan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok intoleran. Dalam banyak hal mereka justru melemahkan perjuangan rakyat yang siap berhadap-hadapan dan menghentikan kekerasan kelompok reaksioner. Sepertinya semua itu bukan karena mereka hidup bertahun-tahun dalam ketakutan. Mereka sudah belajar banyak hal namun secara sadar menolak mengambil kesimpulan-kesimpulan maju dari semua yang mereka pelajari. Sepertinya ini karena mereka takut kehilangan hak istimewanya. Hak istimewa sebagai yang paling “pantas” untuk berbicara mengenai toleransi dan intoleransi, demokrasi dan transisi demokrasi, keberagaman, kebebasan serta hak-hak warga negara. Sepertinya mereka takut kehilangan hak istimewanya untuk “berjuang” didalam hotel-hotel dan ruang-ruang seminar ber-AC. Untuk menyimpulkan semua teori yang dipelajari dalam praktek. Takut untuk harus ketarik ke tengah jalan berhadap-hadapan dengan kelompok reaksioner. Berhadapan dengan mereka mudah saja: perdebatan terbuka harus dilancarkan. Agar semua orang bisa belajar mana langkah dan perspektif yang maju. Mana yang bisa benar-benar memperjuangkan demokrasi dan mana yang sekedar menggantungkan nasibnya.

Ket : Tulisan ini merupakan postingan di media sosial (Facebook) kawan Ignatius Mahendra Kusumawardhana

IWD, Feminisme dan Perjuangan Kesetaraan

Sumber : Google Image
Hari Perempuan Internasional dirayakan oleh perempuan sedunia untuk memperingati kesadaran perempuan-perempuan akan kesamaan nasibnya yang mengalami opresi dan ketidaksetaraan. IWD yang dirayakan setiap 8 Maret di seluruh dunia muncul bukan dengan tiba-tiba, namun dengan proses yang sangat panjang, yang diawali oleh aksi para buruh perempuan.
 
Kesadaran perempuan dan suara-suara mereka semakin digaungkan pada tahun 1900an, di mana dunia sedang mengalami industrialisasi yang mengakibatkan pergolakan di belahan dunia, mulai dari pertumbuhan jumlah penduduk dan paham-paham radikal yang bermunculan. Selain itu, industrialisasi juga membawa perempuan dalam posisi yang semakin teropresi, baik dalam ranah domestik maupun publik.

Opresi terhadap perempuan pun tidak lepas dari konstruksi pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, di mana peran perempuan dalam ranah domestik yang tidak produktif dan laki-laki dalam ranah publik. Saat industrialisasi muncul, perempuan kemudian masuk ke dalam pabrik-pabrik tanpa adanya pengurangan beban dari peran domestik yang diberikan. Dalam hal tersebut, perempuan mengalami beban ganda. Ketidaksetaraan tersebut pun muncul dari lingkungan kerjanya, di mana upah perempuan dan laki-laki dibedakan.

Dalam keadaan seperti itulah perempuan mengalami tekanan dan ketidaksetaraan dalam hidupnya yang kemudian membawa perempuan menjadi lebih vokal dan aktif untuk mengkampanyekan suara-suara mereka sebagai cara untuk mendapatkan hak-haknya. Beberapa dari merekapun bergabung dengan organisasi buruh dan melakukan berbagai aksi. Tercatat pada 8 Maret 1857 aksi para perempuan buruh pabrik garmen di New York memprotes tempat kerja yang kumuh dan upah yang rendah. Aksi serupa kembali dilakukan pada 1908 di New York oleh 15.000 perempuan yang menuntut jam kerja yang lebih pendek dan memperoleh hak suara. Partai Sosialis di Amerika pun mengupaykan adanya Hari Perempuan Nasional di Amerika Serikat pada 28 Februari. Suara-suara tersebut kemudian disambut oleh perempuan aktivis sosialis, Clara Zetkin dan mengusulkan adanya IWD pada Konferensi Kaum Sosialis Internasional di Swiss 1910 dan disetujui oleh 100 perempuan dari 17 negara.

Setelah gagasan tersebut, tahun 1911 IWD mulai diperingati di Austria, Denmark, Jerman dan Swis pada 19 Maret oleh laki-laki dan perempuan mengkampanyekan pemenuhan hak-hak perempuan untuk bekerja, memiliki suara, dilatih, memegang jabatan publik dan mengakhiri diskriminasi. Sempat juga terjadi peristiwa yang mengenaskan, di mana sebuah pabrik garmen Triangle Shirtwaist Factory di New York terbakar pada 8 Maret 1911 dan menewaskan 140 orang pekerja perempuan. Kejadian tersebut diperingati sebagai aksi damai dan solidaritas para buruh perempuan.

Menjelang Perang Dunia, perempuan di dunia menggunakan tanggal 8 Maret sebagai peringatan IWD untuk menolak adanya perang, salah satunya dilakukan oleh perempuan Rusia pada 1913 dan 1917. Pada 8 Maret 1957, perempuan di New York, Amerika Serikat terus kembali melakukan aksi damai mengenang tragedi Triangle Shirtwaist Factory, namun kemudian dibubarkan oleh polisi karena ketidaksenangan pemerintah online casino Amerika Serikat. Peringatan IWD pun mulai terhenti hingga muncul gerakan feminis yang masiv di beberapa negara pada tahun 1960an membangkitkan kembali semangat perayaan IWD. IWD di 8 Maret mulai ditandai sebagai hari libur pada tahun 1965 di beberapa negara, seperti Cina, Vietnam, Kuba, Italia, Albania, Armenia, Mongolia, Serbia, Ukraina. Kebangkitan tersebut pun memuncak dengan ditetapkannya IWD oleh PBB mulai tahun 

1975.

Di Indonesia sendiri, IWD belum ditetapkan sebagai tanggal penting, namun partisipasi organisasi perempuan Indonesia dalam IWD telah berlangsung puluhan tahun yang lalu, saat pemerintahan berada di tangan Soekarno. Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia) pernah bergabung dalam IWDF (Women International Democratic Federation), juga Gerwani yang memperingati IWD. Sayangnya, pada masa Orde Baru IWD di larang di Indonesia karena dinyatakan bermuatan komunis. Namun organisasi dan aktivis perempuan, seperti aktivis dan gerakan mahasiswa yang membentuk Forum Diskusi Perempuan Yogyakarta (FDPY), Kalyanamitra, LBH APIK, dan lain sebagainya, di mana tahun 1980an tetap melakukan kegiatan dan semakin terbuka pada tahun 1990an baik dalam diskusi, berdemo, pertunjukan seni, dan sebagainya.

Upaya-upaya yang dilakukan para aktivis perempuan untuk memperingati IWD bukan hanya skedar mengikuti agenda dunia, namun karena adanya kesadaran untuk terus memberi peringatan dan mengajak dunia menghentikan opresi dan ketidaksetaraan yang dialami oleh perempuan, mewujudkan aksinya untuk memajukan dan menghargai perempuan yang juga terdapat dalam agenda IWD 2015 Make It Happen. Warna ungu yang mewarnai IWD melambangkan keadilan dan martabat yang berhubungan erat dengan kesetaraan perempuan.

Penulis :
Mahasiswi S2 Sejarah FIB UGM, Siti Utami Dewi Ningrum. Saat ini sibuk dalam penelitian gender dan sejarah, aktif dalam gerakan feminis di Yogyakarta dan menjadi relawan di divisi Informasi, Dokumentasi & Publikasi Instituta Hak Asasi Perempuan.

FEMINISME SOSIALIS

Emansipasi. Kita sering mendengar istilah tersebut. Tak jarang pula istilah tersebut dihubungkan dengan perempuan. Ya. Emansipasi perempuan. Lantas, apakah artinya? Emansipasi berarti pembebasan atau pemerdekaan. Karena itu, emansipasi perempuan berarti pembebasan atau pemerdekaan kaum perempuan. Ya, pembebasan dari penjara-penjara yang membuat perempuan menjadi manusia klas dua, dengan kedudukan serta harkat dan martabat yang lebih rendah daripada laki-laki. Ya, pembebasan dari belenggu-belenggu yang membuat perempuan tidak dapat beraktualisasi atau mewujudkan dirinya sendiri.

Feminisme dan Sosialisme

Sejak Marx dan Engels, Sosialisme selalu berkomitmen terhadap pembebasan perempuan. Dalam hal ini, Sosialisme sejalan dengan gerakan-gerakan perempuan yang lazim dinamakan Feminisme. Tapi Sosialisme dan Feminisme memiliki pendekatan dan visi yang sangat berbeda. Bagi kaum Feminis, terutama kaum Feminis Liberal, perempuan hidup dalam suatu masyarakat di mana laki-laki menindas perempuan. Penindasan itu berakar di dalam kodrat laki-laki. Ada sesuatu di dalam struktur biologis dan psikologis laki-laki yang membuat mereka memandang dan memperlakukan perempuan sebagai manusia yang lebih rendah. Pandangan dan perlakuan itu kemudian diwujudkan dalam patriarki, tatanan masyarakat yang di dalamnya laki-laki berkuasa dan kaum perempuan tunduk pada kekuasaan laki-laki. Dengan demikian, perempuan menjadi manusia klas dua. Hak-hak politik, ekonomi, dan sosialnya tidak setara dengan laki-laki. Bahkan perempuan tidak memiliki kuasa atas tubuh dan seksualitasnya sendiri. Karena itu, kaum perempuan harus bersatu untuk memperjuangkan hak-hak mereka dan mengakhiri penindasan laki-laki terhadap mereka.

Tanpa membuang rasa simpati kita terhadap kaum Feminis, sebagai kaum Sosialis kita tidak sejalan dengan pendekatan dan visi Feminisme. Secara hakiki, dengan melihat penindasan terhadap perempuan sebagai sesuatu yang berakar di dalam kodrat laki-laki, Feminisme memiliki konsep yang statis dan tidak dialektis tentang manusia. Konsepnya tentang kondisi manusia juga tidak-historis. Logikanya, konsep-konsep tersebut bermuara pada kesimpulan-kesimpulan yang pesimistis. Pasalnya, bila kita meyakini adanya sesuatu di dalam diri laki-laki yang membuatnya menindas perempuan, mustahil kiranya kita dapat memperbaiki situasi yang dialami perempuan saat ini. Kesimpulannya, penindasan laki-laki terhadap perempuan tidak akan pernah berakhir – kecuali tidak ada laki-laki lagi di dunia ini.

Sebagai kaum Sosialis, pendekatan dan visi kita terhadap pembebasan perempuan berpijak pada garis klas. Ini memungkinkan pendekatan dan visi yang bercorak dinamis, dialektis, dan historis. Bagaimana konkretnya? Begini. Menurut pandangan Sosialis, penindasan laki-laki terhadap kaum perempuan muncul dari kepemilikan pribadi dan masyarakat klas. Studi-studi mengenai sejarah peradaban manusia semenjak zaman batu memperlihatkan bahwa dalam masyarakat-masyarakat yang tidak mengenal kepemilikan pribadi dan perbedaan klas kaum perempuan dan laki-laki sama-sama terlibat dalam proses produksi dengan kedudukan yang sejajar. Dalam masyarakat-masyarakat seperti itu, perempuan memiliki kebebasan dan kesetaraan dengan laki-laki. Munculnya kepemilikan pribadi atas alat produksi dan masyarakat klas telah menyingkirkan kaum perempuan dari proses produksi dan melemparkannya kepada pekerjaan-pekerjaan domestik (kerumahtanggaan). Dengan jalan itu, kebebasan perempuan terenggut, dan kesetaraannya dengan laki-laki lenyap. Karena itu, jelas bagi kita kaum Sosialis, bahwa pembebasan perempuan tidak dapat dipisahkan dari perjuangan untuk mengakhiri kepemilikan pribadi atas alat produksi dan masyarakat klas. Ya, pembebasan perempuan tidak dapat dipisahkan dari perjuangan untuk mewujudkan masyarakat Sosialis!

Kontradiksi

Saat ini kita, baik kaum perempuan maupun laki-laki, hidup dalam epos Kapitalisme. Perkembangan Kapitalisme telah mendatangkan perubahan yang sangat besar dalam hidup kita. Secara khusus, perubahan yang sangat besar ini juga berdampak pada kaum perempuan. Seturut dengan logikanya sendiri, Kapitalisme telah mengembalikan kaum perempuan ke dalam proses produksi, yakni sekarang kita temui kaum perempuan bekerja di pabrik, di kantor, dan banyak tempat kerja lainnya. Tentu, sebagai buruh alias pekerja upahan. Dengan demikian, kaum perempuan pun bekerja mencari nafkah, tidak lagi terkungkung dalam kerja rumahtangga.

Kenyataan ini mengandung potensi yang luar biasa bagi kaum perempuan. Secara potensial kaum perempuan memiliki kemandirian ekonomi, tidak harus bergantung pada laki-laki, baik sebagai ayah maupun suami, untuk hidup sehari-hari. Di samping itu, bila kaum perempuan mengorganisir diri secara kolektif, mereka juga mampu memperjuangkan hak-hak mereka. Sangat berbeda dengan “nasib” mereka sebelumnya, bukan? Kaum perempuan tidak lagi “ditakdirkan” untuk menjadi manusia klas dua! Pada titik ini, bisa disimpulkan bahwa basis material bagi penindasan terhadap kaum perempuan sebenarnya sudah lenyap.

Tetapi, mengapa sampai saat ini kaum perempuan masih tertindas? Dalam hal ini, kapitalisme, yang berintikan kepemilikan atas alat-alat produksi berada dalam tangan segelintir orang (yakni para burjuis alias kapitalis), memperlihatkan kontradiksinya. Logika kapitalisme pada saat yang sama mengembalikan kaum perempuan ke dalam proses produksi sekaligus mengerangkeng mereka di dalam keluarga-keluarga dalam artian tradisional. Kok bisa? Pertama, Kapitalisme mempergunakan lembaga keluarga tradisional untuk memastikan kaum buruh laki-laki tetap memiliki kondisi yang prima untuk bekerja. Peran kaum perempuan, dalam status mereka sebagai istri, adalah melayani suami-suami mereka. Kedua, Kapitalisme mempergunakan lembaga keluarga tradisional untuk memastikan kaum buruh memiliki anak-anak yang kelak akan menjadi generasi buruh menggantikan mereka. Peran kaum perempuan, dalam status mereka sebagai ibu, adalah merawat dan membesarkan anak-anak mereka untuk menjadi buruh-buruh para tuan/nyonya majikan.

Dalam batasan keluarga tradisional, seburuk-buruknya kaum perempuan mengalami penindasan kapitalistik yang terjadi melalui lembaga keluarga tradisional. Sebaik-baiknya, mereka mengalami penghisapan sebagai buruh perempuan sekaligus “ditakdirkan” untuk tugas-tugas domestik: melayani para suami dan membesarkan anak-anak mereka. Dalam kedua kasus tersebut, kaum perempuan dihambat dari kemungkinan untuk mewujudkan dirinya. Di lain pihak, si kapitalis akan menikmati keuntungan yang sangat besar. Dalam kasus yang pertama, ia selalu memiliki buruh laki-laki dalam kondisi prima dan mempunyai “pasokan tenaga kerja” yang dipersiapkan oleh kaum perempuan. Dalam kasus yang kedua, keuntungannya semakin besar, karena ia juga memiliki buruh perempuan, yang lazimnya bisa dibayarnya lebih murah daripada buruh laki-laki.

Visi Sosialis

Berkomitmen pada pembebasan sejati kaum perempuan, Sosialisme menyatakan bahwa tatanan masyarakat yang mengenal perbedaan klas (dengan kepemilikan pribadi atas alat produksi sebagai akar atau basis materialnya) adalah lahan yang subur bagi kekuasaan laki-laki (patriarki) dan penindasan terhadap kaum perempuan. Masyarakat perbudakan dan masyarakat feodal menyingkirkan kaum perempuan dari proses produksi dan menempatkan mereka dalam posisi yang bergantung sepenuhnya pada laki-laki. Penyingkiran dan penempatan ini dilembagakan dalam pranata sosial berupa keluarga tradisional. Di dalamnya kaum perempuan “menunaikan tugas mulia”: melayani suami dan mengasuh anak.

Masyarakat kapitalis mewarisi keluarga tradisional dari epos sebelumnya. Di satu sisi Kapitalisme menggoyang keluarga tradisional dengan membawa kembali kaum perempuan ke dalam proses produksi. Dengan jalan itu, sebenarnya kaum perempuan tidak lagi bergantung pada laki-laki. Tapi di sisi lain kapitalisme berkepentingan terhadap kelestarian keluarga tradisional karena memberinya keuntungan atau manfaat yang sangat besar. Karena itu, melalui para “produsen ideologi”-nya, yakni kaum cendikia yang nafkahnya bergantung pada “cipratan” profit (nilai lebih) yang dihisap kaum kapitalis dari hasil kerja kaum buruh, kapitalisme berusaha meyakinkan rakyat pekerja bahwa “keluarga tradisional” itu merupakan fondasi yang kekeramatannya harus dijaga demi kemaslahatan masyarakat, bangsa, dan negara. Agama-agama digunakan oleh kelas penguasa sebagai  “paduan suara” yang mengagungkan ”keluarga tradisional” yang pada dasarnya menjadi sarana kapitalisme menindas kaum perempuan itu.

Pada titik ini tentulah kita mengerti visi Sosialisme: pembebasan kaum perempuan tidak dapat dipisahkan dari perjuangan mengakhiri kepemilikan pribadi dan masyarakat klas serta membangun masyarakat baru, masyarakat Sosialis. Dengan perkataan lain, pembebasan kaum perempuan terlaksana melalui perjuangan Sosialis. Hanya di dalam tatanan masyarakat di mana alat-alat produksi dimiliki, dikontrol, dan diakses secara demokratis oleh laki-laki dan perempuan rakyat pekerjalah pembebasan kaum perempuan akan benar-benar dapat diwujudkan. Hanya dalam masyarakat seperti itulah kaum perempuan akan benar-benar dapat beraktualisasi atau mewujudkan dirinya secara penuh.  Dalam masyarakat tersebut pranata sosial yang bernama keluarga, andaikata toh masih ada, akan kehilangan karakter “tradisional”-nya sebagai unit penindasan kaum perempuan. Keluarga rakyat pekerja dalam masyarakat Sosialis adalah wahana perayaan cinta kasih manusiawi yang murni dari insan-insan yang merdeka, mandiri, dan setara, tanpa noda perhambaan pihak yang satu kepada pihak yang lain, apalagi terkooptasi kepentingan Kapital.

Apakah visi tersebut pernah menjadi kenyataan?

Tentu saja! Revolusi Bolshevik 1917 berhasil mewujudkan kebebasan dan kemandirian kaum perempuan serta mengukuhkan kesetaraannya dengan laki-laki. Hak-hak perempuan untuk menentukan sikap terhadap seks, perkawinan, dan kehamilan dijamin sepenuhnya. “Pekerjaan-pekerjaan rumahtangga” seperti mengasuh anak, mencuci pakaian, menyiapkan makanan, dan merawat orangtua yang sudah lanjut usia menjadi tanggungjawab masyarakat. Dengan demikian kaum perempuan dapat mengontrol sendiri hidup mereka serta memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk beraktualisasi. Itulah pencapaian sebuah revolusi Sosialis!

Sayangnya, badai kontra-revolusi yang dilancarkan oleh musuh-musuh Negara Buruh yang baru lahir itu lambat-laun membalikkan keadaan itu. Rakyat pekerja Uni Soviet menghadapi musuh di dua front, yakni gabungan pasukan-pasukan imperialis dari luar dan kekuatan-kekuatan anti Uni Soviet dari dalam. Sementara itu, revolusi-revolusi sosialis di negeri-negeri kapitalis maju mengalami kegagalan. Negara Buruh itu kehilangan banyak kaum buruh revolusionernya yang gugur di medan laga, mengalami kemacetan industri dan wabah kelaparan. Saat itulah birokrasi Stalinis, yang tak lain dari kekuatan kontra-revolusi dalam tubuh Partai Bolshevik, muncul dan mengambilalih kekuasaan dari tangan rakyat pekerja. Kediktatoran birokrasi Stalinis, yang meyakini bahwa Sosialisme dapat didirikan di dalam satu negeri, mengembalikan keluarga-keluarga tradisional yang berkarakter menindas perempuan itu ke posisinya sebagai fondasi yang keramat bagi pembangunan masyarakat, bangsa, dan negara. Perempuan pun kembali mengalami penindasan.

Kita percaya bahwa pembebasan kaum perempuan hanya dapat dicapai melalui kekuatan kolektif proletariat alias klas buruh. Hanya dengan persatuan revolusioner kaum buruh perempuan dan kaum buruh laki-laki bersama-sama dengan saudara-saudara dan saudari-saudari kaum tertindas lainnya, masyarakat klas akan berakhir, Sosialisme akan dimulai, dan pembebasan kaum perempuan akan menjadi kenyataan.

Pada tingkatan tertentu, mungkin tak terlalu pas dijabarkan, feminisme sosialis telah ada sejak lama. Kau adalah perempuan di dalam masyarakat kapitalis. Kau dilanda amarah: menyangkut pekerjaan, tagihan-tagihan, suamimu (atau mantan), sekolah anak-anak, pekerjaan rumah, cantik atau tak cantik, diperhatikan atau tak diperhatikan (dan juga tak didengar), dll. Jika kau memikirkan semua ini dan bagaimana semua itu cocok satu sama lain, serta apa yang harus diubah, kemudian kau mencari kata-kata yang sekaligus menyiratkan semua pikiran ini dalam bentuk singkat, kau akan hampir mendapatkan apa yang disebut “feminisme sosialis.”

Banyak diantara kita menjadi feminisme sosialis hanya dari cara semacam itu. Kita sedang mencari sebuah kata/istilah/frasa untuk mulai mengekspresikan semua keresahan kita, semua prinsip kita, dengan cara yang sepertinya bukan “sosialis” maupun “feminis”. Aku harus akui bahwa banyak kaum feminis sosialis yang aku kenal juga tak senang dengan istilah “feminis sosialis”. Di satu sisi (istilah) itu terlalu panjang (aku tak berharap pada suatu sambungan pergerakan massa); di sisi lain nama itu juga masih terlalu pendek untuk apa yang disebut feminisme sosialis internasionalis antirasis dan anti heteroseksis.

Persoalan ketika memberi label baru pada sesuatu adalah ia serta merta menciptakan aura sektarianisme. “Feminisme sosialis” menjadi suatu tantangan, suatu misteri, suatu bahasan dalam dan pada dirinya sendiri. Kita memiliki para pembicara, konferensi-konferensi, artikel-artikel mengenai “feminisme sosialis”—meskipun kita tahu persis bahwa baik “sosialisme” dan “feminisme” terlalu besar dan terlalu umum sebagai bahan yang bagus untuk setiap pidato, konferensi, artikel, dll. Orang, termasuk yang menyatakan diri sebagai feminis sosialis, bertanya pada diri mereka sendiri, “Apa itu feminisme sosialis?” Ada semacam ekspektasi bahwa ia adalah (atau akan demikian dalam beberapa saat, mungkin dalam pidato, konferensi atau artikel berikutnya) sintesis yang brilian dari bagian-bagian historis dunia—suatu lompatan evolusioner Marx, Freud, dan Wollstonecraft. Atau ia akan berubah menjadi tiada arti, suatu model yang digunakan oleh segelintir feminis dan sosialis feminis yang resah, suatu gangguan sementara saja.
Aku mau mencoba menerobos beberapa misteri yang telah tumbuh disekitar feminisme sosialis. Suatu cara logis memulainya adalah dengan melihat sosialisme dan feminisme secara terpisah. Bagaimana seorang sosialis, lebih tepatnya, seorang Marxis, melihat dunia? Bagaimana seorang feminis? Untuk memulainya, Marxisme dan Feminisme memiliki memiliki satu kesamaan penting: keduanya adalah cara pandang kritis dalam melihat dunia. Keduanya menghancurkan mitologi rakyat dan kebiasaan “awam” dan memaksa kita untuk melihat pengalaman dengan suatu cara baru. Keduanya mencoba memahami dunia—bukan dalam bentuk keseimbangan statis, simetris, dll (seperti dalam ilmu sosial konvensional)—namun dalam bentuk yang antagonisme. Keduanya menuju kesimpulan yang  menggelegar dan menggelisahkan dan, disaat bersamaan, juga membebaskan. Tak akan bisa memiliki cara pandang Marxis atau feminis dan tetap sekadar menjadi seorang penonton.  Untuk memahami realitas yang dijentrengkan oleh analisa ini, artinya bergerak menjadi aksi untuk mengubahnya.

Marxisme mengarahkan dirinya pada dinamika kelas dalam masyarakat kapitalis. Setiap ilmuwan sosial tahu bahwa masyarakat kapitalis ditandai oleh, lebih kurang, ketidaksetaraan yang sistemik. Marxisme mengerti ketidaksetaraan ini muncul dari proses yang melekat pada kapitalisme sebagai suatu sistem ekonomi. Minoritas orang (kelas kapitalis) memiliki seluruh pabrik-pabrik/sumber-sumber energi/sumber-sumber daya, dll, yang membuat mayoritas orang lain bergantung padanya untuk dapat bertahan hidup. Mayoritas (kelas pekerja) harus memenuhi semua kebutuhan, di bawah kondisi yang diciptakan oleh kapitalis, sesuai upah yang dibayar kapitalis. Karena kapitalis menghasilkan keuntungan dengan membayar upah lebih rendah daripada nilai sebenarnya yang diciptakan oleh pekerja, hubungan antara dua kelas ini tak terhindarkan menjadi salah satu antagonisme yang tak terdamaikan. Kelas kapitalis bergantung hidup pada kesinambungan eksploitasi atas kelas pekerja. Apa yang mempertahankan sistem kekuasaan kelas ini, pada akhirnya, (adalah) kekerasan. Kelas kapitalis mengontrol (secara langsung maupun tak langsung) alat-alat kekerasan terorganisir dalam wujud negara—polisi, penjara, dll. Hanya dengan mengobarkan perjuangan revolusioner yang bertujuan mengambil alih kekuasaan negara maka kelas pekerja dapat membebaskan dirinya, dan pada akhirnya, semua orang.

Feminisme mengarahkan dirinya pada ketidaksetaraan yang lazim lainnya. Seluruh masyarakat manusia ditandai oleh sekian derajat ketidaksetaraan antar jenis kelamin. Jika kita sekilas mengamati masyarakat manusia, disepanjang sejarah dan di berbagai benua, kita lihat bahwa mereka sama-sama dicirikan oleh: penundukan perempuan di bawah otoritas laki-laki, baik di dalam keluarga maupun di dalam masyarakat secara umum; pemberhalaan perempuan sebagai sebuah properti; pembagian kerja seksual dimana perempuan dibatasi pada aktivitas seperti pemeliharaan anak, merawat orang tua laki-laki, dan bentuk-bentuk khusus kerja produktif (biasanya bereputasi rendah).
Kaum feminis, diserang oleh kelaziman yang hampir-hampir universal dari semua itu, telah mencari suatu penjelasan dari ‘takdir’ biologis yang terdapat di sepanjang kehidupan sosial manusia. Laki-laki secara fisik lebih kuat dari perempuan rata-rata, khususnya dibandingkan perempuan hamil atau perempuan yang menyusui bayi. Lebih jauh lagi, laki-laki memiliki kekuasaan untuk membuat perempuan hamil. Oleh karena itu bentuk-bentuk ketidaksetaraan seksual terletak—meski beragam bentuknya dari satu budaya ke budaya lain–, akhirnya, pada apa yang dengan jelas berupa kelebihan fisik yang laki-laki miliki atas perempuan. Yang artinya, akhirnya, terletak pada kekerasan, atau pada ancaman kekerasan.

Akar biologis dan paling awal dari supremasi laki-laki—sebenarnya kekerasan laki-laki—biasanya dikaburkan oleh hukum-hukum dan konvensi yang mengatur hubungan antar jenis kelamin dalam budaya tertentu di manapun. Namun, penindasan itu ada menurut analisis feminis. Kemungkinan serangan/pelecehan laki-laki terjadi sebagai suatu peringatan terus menerus terhadap perempuan yang “nakal/jahat” (melawan, agresif), dan membuat perempuan “baik” menjadi bertanggung jawab ke dalam supremasi laki-laki. Penghargaan karena telah menjadi “baik” (“cantik”, “patuh”) adalah (mendapat) perlindungan dari berbagai kekerasan laki-laki dan, dalam beberapa kasus, jaminan ekonomi.

Marxisme menghancurkan mitos mengenai “demokrasi” dan “pluralisme”nya dengan menunjukkan suatu sistem kekuasaan kelas yang bersandarkan pada pemaksaan eksploitasi. Feminisme menghancurkan mitos mengenai “insting” dan cinta romantis untuk menunjukkan aturan laki-laki sebagai aturan kuasa.  Kedua analisa menghendaki kita melihat pada ketidakadilan yang mendasar. Pilihannya adalah memenuhi kehendak mitos-mitos tersebut, atau seperti Marx menyebutnya, memperjuangkan tata kehidupan sosial yang tidak membutuhkan mitos-mitos untuk mempertahankannya.
Adalah mungkin untuk menjumlahkan Marxisme dan feminisme dan hasilnya “feminisme sosialis.” Sebetulnya, mungkin, inilah cara pandang yang kerap digunakan oleh banyak kaum feminis sosialis–semacam hibrida, mendorong feminisme kita ke dalam lingkaran sosialis, sosialisme kita ke lingkaran feminis. Namun, satu persoalan ketika meninggalkannya demikian, adalah, membuat orang tetap bertanya-tanya “Baiklah, tapi apa sebenarnya itu?” atau menuntut pada kita “Apa kontradiksi pokoknya.” Pertanyaan-pertanyaan semacam ini, yang kedengarannya memaksa dan otoriter, seringkali menghentikan kita dalam perjalanan: “Buatlah pilihan!” “Satu atau yang lainnya!” Namun kita tahu bahwa terdapat suatu konsistensi politis terhadap feminisme sosialis. Kita bukanlah hibrida atau netral tak bersikap.

Untuk menuju pada konsistensi politis tersebut kita harus membedakan diri kita, sebagai feminis, dari feminis yang lain, dan sebagai Marxis, dari Marxis lainnya. Kita harus mengawasi (maaf atas terminologinya) feminisme jenis feminis sosialis dan sosialisme jenis sosialis feminis. Hanya dengan begitu terdapat satu kemungkinan hal-hal akan “berarti” lebih dari (sekadar) suatu penyajaran (pensejajaran) yang problematik.
Kupikir banyak kaum feminis radikal dan feminis sosialis akan setuju pada kapsul karakterisasi ku terhadap feminisme sejauh ini. Masalahnya dengan kaum feminisme radikal, dari sudut pandang feminis sosialis adalah, ia tak akan menuju ke mana-mana. Ia tetap terpaku pada universalitas supremasi laki-laki—hal yang tak pernah benar-benar berubah; semua sistem sosial yakni patriarki; imperialisme, militerisme, dan kapitalisme adalah semata-mata ekspresi dari agresifitas bawaan laki-laki. Dan lain-lain.

Masalahnya dengan ini, dari sudut pandang sosialis feminis, adalah bukan saja tak menyertakan laki-laki (dan kemungkinan rekonsiliasi dengan mereka atas landasan yang benar-benar setara dan kemanusiaan) namun juga meninggalkan banyak hal buruk tentang perempuan. Contohnya, mendistorsi negeri sosialis seperti China sebagai “patriarki”— saya dengar kaum feminis radikal mengatakannya—adalah mengabaikan perjuangan nyata dan capaian jutaan perempuan. Feminis sosialis, sambil bersetuju bahwa terdapat hal yang universal dan tanpa batas waktu menyangkut penindasan perempuan, telah menegaskan bahwa hal itu memiliki berbagai bentuk berbeda dalam seting berbeda-beda, dan perbedaan itu adalah sangat penting. Terdapat perbedaan antara suatu masyarakat dimana seksisme diekspresikan dalam bentuk pembunuhan bayi perempuan, dan suatu masyarakat dimana seksisme mengambil bentuk perwakilan tak setara di dalam Komite Sentral. Dan perbedaan tersebut pantas diperjuangkan hidup dan mati.

Salah satu variasi historis menyangkut seksisme, yang harus diperhatikan seluruh kaum feminis, adalah seperangkat perubahan yang muncul bersama dengan transisi dari suatu masyarakat agraris ke masyarakat industri kapitalisme. Ini bukanlah isu akademik. Sistem sosial yang digantikan kapitalisme industrial pada dasarnya adalah sistem sosial patriarkis, dan aku menggunakan istilah ini sekarang dalam makna aslinya, untuk mengartikan suatu sistem dimana produksi dipusatkan dalam rumah tangga dan dipimpin oleh laki-laki tertua. Kenyataannya adalah bahwa kapitalisme industrial hadir dan merobek sistem tersebut dari bawah patriarki. Produksi dibawa ke pabrik-pabrik dan individu ditarik dari keluarga untuk menjadi pekerja upahan “bebas”. Mengatakan bahwa kapitalisme mengacaukan organisasi produksi patriarkal dan kehidupan keluarga, bukan, tentu saja, mengatakan bahwa kapitalisme menghapuskan supremasi laki-laki! Namun benar bahwa bentuk-bentuk tertentu dari penindasan jenis kelamin yang kita alami saat ini, hingga derajat yang signifikan, adalah perkembangan yang baru. Suatu diskontinuitas historis terbentang antara kita dan patriarki yang sebenarnya. Jika kita hendak memahami pengalaman kita sebagai perempuan hari ini, kita harus bergerak pada suatu pemikiran mengenai kapitalisme sebagai suatu sistem. 

Pasti terdapat cara lain agar aku dapat sampai pada poin yang semacam ini. Aku dapat saja sekedar bilang bahwa, sebagai feminis, kita paling banyak tertarik pada perempuan yang paling tertindas—perempuan miskin dan kelas pekerja, perempuan di dunia ketiga, dll—dan atas alasan ini kita mengarah pada kebutuhan untuk memahami dan mengkonfrontasi kapitalisme. Aku dapat saja bilang bahwa kita butuh menekankan sistem kelas karena kita adalah anggota kelas. Namun aku mencoba menunjukkan hal lain mengenai perspektif kita sebagai feminis: bahwa tak mungkin kita mengerti seksisme sebagai suatu tindakan atas hidup kita, tanpa meletakkannya ke dalam konteks historis kapitalisme.   

Kupikir, sejauh ini, mayoritas feminis sosialis juga akan setuju dengan kemasan kapsul teori Marxis. Dan masalahnya lagi-lagi adalah bahwa banyak sekali orang (aku menyebutnya ”Marxis mekanik”) yang tidak beranjak ke mana-mana. Kepada orang-orang ini, satu-satunya yang “nyata” dan penting yang terjadi dalam masyarakat kapitalis adalah hal-hal yang terkait proses produktif atau lapangan politik konvensional. Dari sudut pandang tersebut, setiap bagian lain pengalaman dan keberadaan sosial—hal-hal yang terkait pendidikan, seksualitas, rekreasi, keluarga, seni, musik, kerja rumah tangga (sebutkan saja)—merupakan pinggiran dari dinamika utama perubahan sosial; hal tersebut adalah bagian dari “superstruktur” atau “kebudayaan”.

Feminis sosialis berada pada kubu yang sangat berbeda dari apa yang aku sebut “Marxis mekanik.” Kita (bersama dengan banyak, banyak Marxis lainnya yang tidak feminis) melihat kapitalisme sebagai suatu totalitas sosial dan kebudayaan. Kita memahami bahwa dalam kepentingannya mencari pasar, kapitalisme berkehendak memasuki setiap pojok dan celah kehidupan sosial. Khususnya pada fase kapitalisme monopoli, lapangan konsumsi sekecil apapun sama penting, dari sudut pandang ekonomi saja, seperti halnya dalam lapangan produksi. Sehingga kita tidak bisa memahami perjuangan kelas sebagai sesuatu yang terbatas pada isu upah dan jam kerja, atau sebatas isu-isu tempat kerja. Perjuangan kelas terjadi dalam setiap arena dimana kepentingan-kepentingan kelas berkonflik, dan itu termasuk pendidikan, kesehatan, seni, music, dll. Kita bertujuan untuk mentransformasi tak hanya kepemilikan alat-alat produksi, melainkan totalias kehidupan sosial.

Sebagai Marxis, kita mendekati feminisme dari tempat yang benar-benar berbeda ketimbang Marxis mekanik. Karena kita melihat kapitalisme monopoli sebagai sebuah totalitas politik, ekonomi, dan kebudayaan, kita memiliki ruang di dalam bingkai Marxis terhadap isu-isu feminisme yang tak berhubungan jelas dengan produksi atau “politik”, isu-isu yang memiliki hubungan dengan keluarga, layanan kesehatan, dan kehidupan “pribadi”.

Lebih jauh lagi, di dalam jenis Marxisme kita, tidak ada “persoalan perempuan”, karena sejak awal kita tidak pernah mengkompartementalisasi perempuan keluar dari “superstruktur” atau (diletakkan) di tempat lain. Marxis dengan kecenderungan mekanik terus menerus mendengungkan isu perempuan tak berupah (ibu rumah tangga): apakah ia anggota kelas pekerja? Tepatnya, apakah ia benar-benar memproduksi nilai lebih? Kita bilang, tentu saja ibu-ibu rumah tangga adalah anggota kelas pekerja—bukan karena kita memiliki bukti jelas apakah mereka benar-benar memproduksi nilai lebih—namun karena kita mengerti, bahwa kelas terdiri dari orang-orang, dan memiliki suatu kehidupan sosial yang jauh (berbeda) dari areal produksi yang didominasi kapitalis. Ketika kita memikirkan kelas dengan cara ini, lalu kita lihat bahwa pada dasarnya perempuan yang tampak paling terpinggir, ibu-ibu rumah tangga, berada (justru) pada jantung kelasnya—membesarkan anak, menyatukan keluarga, memelihara jaringan kultural dan sosial komunitas.

Kita menjadi satu jenis feminisme dan satu jenis Marxisme yang kepeduliannya beriring berjalan secara cukup natural. Kupikir sekarang kita sampai pada posisi untuk melihat mengapa feminisme sosialis telah begitu dimistifikasi: gagasan feminisme sosialis merupakan misteri besar atau paradoks, sepanjang yang dimaksud sosialisme adalah yang aku sebut “Marxisme mekanik” dan apa yang dimaksud dengan feminisme adalah suatu jenis feminisme radikal yang ahistoris. Kedua hal ini tak bisa sekadar dihubung-hubungkan; mereka tak sama.

Namun jika kau rekatkan bersama sosialisme jenis lain dan feminisme jenis lain, seperti yang aku coba definisikan, kau akan dapat beberapa landasan yang sama dan itu adalah salah satu yang terpenting mengenai feminisme sosialis saat ini. Ia adalah ruang—bebas dari penciutan atas feminisme yang dipendekkan dan versi Marxisme yang dipendekkan—dimana kita dapat mengembangkan jenis politik yang mengurusi totalitas politik/ekonomi/kebudayaan dari masyarakat kapitalis monopoli. Kita hanya dapat menuju ke sana, sejauh ini, melalui jenis feminisme yang sudah ada, jenis Marxisme konvensional, dan lalu kita harus memutus untuk menjadi sesuatu yang tidak terlalu terbatas dan tak lengkap dalam pandangannya tentang dunia. Kita harus mengambil nama baru, “feminisme sosialis”, bertujuan untuk menyatakan kehendak kita menyatukan keseluruhan pengalaman kita dan membangun suatu politik yang merefleksikan totalitas dari kesatuan tersebut.

Namun demikian, aku tidak mau meninggalkan teori feminisme sosialis sebagai suatu “ruang” atau landasan bersama.  Hal-hal memang mula-mula berkembang dalam “landasan” tersebut. Kita menjadi lebih dekat pada suatu sistesis dalam pemahaman kita mengenai seks dan kelas, kapitalisme dan dominasi laki-laki, dibandingkan beberapa tahun lalu. Di sini aku akan mengindikasikan, hanya dengan sekilas-ringkas, menyangkut garis pemikiran tersebut:
  1. Pemahaman Marxis/feminis bahwa dominasi kelas dan seks bersandarkan, akhirnya, pada kekerasan adalah benar, dan ini tetap menjadi kritik paling jahat terhadap masyarakat kapitalis/seksis. Namun terdapat banyak hal terkait pernyataan “akhirnya” tersebut. Dalam hal kesehariaan, banyak orang rela pada dominasi kelas dan seks tanpa dibariskan oleh ancaman kekerasan, dan seringkali bahkan tanpa ancaman kekurangan material.
  2. Maka sangat penting kemudian, untuk mencari tahu apa itu, jika bukan penggunaan kekerasan secara langsung, dalam menjalankan segala sesuatu. Menyangkut kelas, sudah banyak yang menulis tentang kenapa kelas pekerja AS kurang memiliki kesadaran kelas yang militan. Tentu saja pembagian etnik, khususnya pemisahan hitam/putih, merupakan bagian kunci jawabannya. Namun aku berpendapat, selain dibuat pemisahan, kelas pekerja secara sosial sudah diatomisasi (dipisah-pisah). Lingkungan kelas pekerja telah dihancurkan dan dibuat rusak; hidup telah diprivatisasi sedemikian rupa dan mementingkan diri sendiri; keterampilan yang dahulu dimiliki kelas pekerja telah diambil alih oleh kelas kapitalis; dan “kebudayaan massa” yang dikontrol kapitalis menyisihkan hampir semua institusi dan kebudayaan asli kelas pekerja. Bukannya kolektifitas dan kemandirian sebagai sebuah kelas, (namun justru) terdapat saling isolasi dan ketergantungan kolektif pada kelas kapitalis.
  3. Penundukan perempuan, yang dikarakterisasi oleh masyarakat kapitalis tahap lanjut, merupakan kunci dari proses atomisasi kelas ini. Atau dengan kata lain, kekuatan-kekuatan yang telah mengatomisasi kehidupan kelas pekerja dan mempromosikan ketergantungan material/kebudayaan pada kelas kapitalis adalah kekuatan yang sama yang bertanggung jawab terhadap penundukan perempuan. Perempuan lah yang paling terisolasi dalam keberadaan keluarga yang telah semakin terprivatisasi (bahkan juga ketika mereka bekerja di luar rumah). Itulah, dalam banyak contoh, keterampilan perempuan (keterampilan produksi, pengobatan, kebidanan, dll), yang telah diragukan bahkan dilarang demi melapangkan jalan bagi komiditas. Perempuanlah, pertama-tama, yang didorong menjadi benar-benar pasif/tidak kritis/bergantung (dengan kata lain “feminin”) berhadapan dengan sebaran penetrasi kapitalis ke dalam kehidupan pribadi. Secara historis, penetrasi kapitalis tahap lanjut pada kehidupan kelas pekerja telah memilih perempuan sebagai target utama pasifikasi/”feminisasi”—karena perempuan adalah para pemegang-kebudayaan kelas mereka.
  4. Selanjutnya terdapat interkoneksi mendasar antara perjuangan perempuan dengan apa yang secara tradisional dipahami sebagai perjuangan kelas. Tidak semua perjuangan perempuan secara inheren memiliki desakan antikapitalis (khususnya bukan mereka yang hanya menghendaki kekuasaan dan kekayaan bagi kelompok perempuan tertentu), namun, semua yang membangun kolektivitas dan kemandirian kolektif di kalangan perempuan, sangat penting untuk pembangunan kesadaran kelas. Selain itu, tidak semua perjuangan kelas secara inheren memiliki desakan antiseksis (khususnya bukan mereka yang menggandol nilai-nilai patriarkal praindustri), namun, semua yang berkehendak membangun otonomi sosial dan kebudayaan kelas pekerja, sangat berkaitan dengan perjuangan pembebasan perempuan.
Ini merupakan, dalam garis besar yang sangat kasar, satu arah yang diambil oleh analisis feminis sosialis. Tak ada yang mengharapkan suatu sintesa muncul yang akan menjatuhkan perjuangan feminis dan sosialis menjadi hal yang sama. Kapsul rangkuman yang aku berikan sebelumnya mengandung kebenaran “akhir”: bahwa terdapat aspek-aspek penting dari dominasi kapitalis (seperti penindasan rasial) yang perspektif feminis murni tidak dapat mengaitkan atau mengatasinya—tanpa distorsi yang aneh. Terdapat aspek-aspek penting dari penindasan seks (seperti kekerasan laki-laki di dalam keluarga) yang sangat sedikit ada dalam pemikiran sosialis—lagi, tanpa distorsi dan banyak pengaretan. Oleh karena itu butuh untuk terus menjadi sosialis dan feminis. Namun, terdapat cukup sistesis, baik dalam apa yang kita pikirkan dan apa yang kita lakukan, untuk mulai percaya diri memiliki identitas sebagai feminis sosialis.

Kaum perempuan, emansipasikanlah dirimu dengan turut berjuang bersama proletariat menumbangkan kapitalisme dan mendirikan masyarakat Sosialis! Di sanalah pembebasanmu! Di sanalah aktualisasi sejatimu!

Download Buletin

Populer Post

 
Hak Cipta : Komite Pusat - Gerakan Perjuangan Mahasiswa Demokratik SGMK Kota Parepare | ' | AR. Ame' FB
Copyright © 2013. Gerakan Perjuangan Mahasiswa Demokratik Parepare - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by RED LEFT