Latest Article Welcome in Democratic Student Fight Movement Of Parepare Site
 photo hhhhhhhhiii_zps9dd37855.jpeg" />  photo hhdrhhdhdrhdh_zps2794a59b.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />

LENIN : Sosialisme dan Agama


Sumber : Google Image
Masyarakat yang ada saat ini sepenuhnya didasarkan atas eksploitasi yang dilakukan oleh sebuah minoritas kecil penduduk, yaitu kelas tuan tanah dan kaum kapitalis, terhadap masyarakat luas yang terdiri atas kelas pekerja. Ini adalah sebuah masyarakat perbudakan, karena para pekerja yang "bebas", yang sepanjang hidupnya bekerja untuk kaum kapitalis, hanya "diberi hak" sebatas sarana subsistensinya. Hal ini dilakukan kaum kapitalis guna keamanan dan keberlangsungan perbudakan kapitalis.

Tanpa dapat dielakkan, penindasan ekonomi terhadap para pekerja membangkitkan dan mendorong setiap bentuk penindasan politik dan penistaan terhadap masyarakat, menggelapkan dan mempersuram kehidupan spiritual dan moral massa. Para pekerja bisa mengamankan lebih banyak atau lebih sedikit kemerdekaan politik untuk memperjuangkan emansipasi ekonomi mereka, namun tak secuil pun kemerdekaan yang akan bisa membebaskan mereka dari kemiskinan, pengangguran, dan penindasan sampai kekuasaan dari kapital ditumbangkan. Agama merupakan salah satu bentuk penindasan spiritual yang dimanapun ia berada, teramat membebani masyarakat, teramat membebani dengan kebiasaan mengabdi kepada orang lain, dengan keinginan dan isolasi. Impotensi kelas tertindas melawan eksploitatornya membangkitkan keyakinan kepada Tuhan, jin-jin, keajaiban serta jang sedjenisnya, sebagaimana ia dengan tak dapat disangkal membangkitkan kepercayaan atas adanya kehidupan yang lebih baik setelah kematian. Mereka yang hidup dan bekerja keras dalam keinginan, seluruh hidup mereka diajari oleh agama untuk menjadi patuh dan sopan ketika di sini di atas bumi dan menikmati harapan akan ganjaran-ganjaran surgawi. Tapi bagi mereka yang mengabdikan dirinya pada orang lain diajarkan oleh agama untuk mempraktekkan karitas selama ada di dunia, sehingga menawarkan jalan yang mudah bagi mereka untuk membenarkan seluruh keberadaannya sebagai penghisap dan menjual diri mereka sendiri dengaan tiket murah untuk menuju surga. Agama merupakan candu bagi masyarakat. Agama merupakan suatu minuman keras spiritual, di mana budak-budak kapital menenggelamkan bayangan manusianya dan tuntutan mereka untuk hidup yang sedikit banyak berguna untuk manusia.

Tetapi seorang budak yang menjadi sadar akan perbudakannya dan bangkit untuk memperjuangkan emansipasinya ternyata sudah setengah berhenti sebagai budak. Para buruh modern yang berkesadaran-kelas, digunakan oleh industri pabrik skala besar dan diperjelas oleh kehidupan perkotaan yang merendahkan kedudukan di samping prasangka-prasangka religius, meninggalkan surga kepada parra pastur dan borjuis fanatik, dan mencoba meraih kehidupan yang lebih baik untuk dirinya sendiri di atas bumi ini. Proletariat sekarang ini berpihak pada sosialisme, yang mencatat pengetahuan dalam perang melawan kabut agama, dan membebaskan para pekerja dari keyakinan terhadap kehidupan sesudah mati dengan mempersatukan mereka bersama guna memperjuangkan masa sekarang untuk kehidupan yang lebih baik di atas bumi ini.

Agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi. Dalam kata-kata inilah kaum sosialis biasa menyatakan sikapnya terhadap agama. Tetapi makna dari kata-kata ini harus dijelaskan secara akurat untuk mencegah adanya kesalahpahaman apapun. Kita minta agar agama dipahami sebagai sebuah persoalan pribadi, sepanjang seperti yang diperhatikan oleh negara. Namun sama sekali bukan berarti kita bisa memikirkan agama sepanjang seperti yang diperhatikan oleh Partai. Sudah seharusnya agama tidak menjadi perhatian negara, dan masyarakat religius seharusnya tidak berhubungan dengan otoritas pemerintahan. Setiap orang sudah seharusnya bebas mutlak menentukan agama apa yang dianutnya, atau bahkan tanpa agama sekalipun, yaitu, menjadi seorang atheis, dimana bagi kaum sosialis, sebagai sebuah aturan. Diskriminasi diantara para warga sehubungan dengan keyakinan agamanya sama sekali tidak dapat ditolerir. Bahkan untuk sekedar penyebutan agama seseorang di dalam dokumen resmi tanpa ragu lagi mesti dibatasi. Tak ada subsidi yang harus diberikan untuk memapankan gereja, negara juga tidak diperbolehkan didirikan untuk masyarakat religius dan gerejawi. Hal-hal ini harus secara absolut menjadi perkumpulan bebas orang-orang yang berpikiran begitu, asosiasi yang independen dari negara. Hanya pemenuhan seutuhnya dari tuntutan ini yang dapat mengakhiri masa lalu yang memalukan dan keparat, saat gereja hidup dalam ketergantungan feodal pada negara, dan rakyat Rusia hidup dalam ketergantungan feodal pada gereja yang mapan, ketika di jaman pertengahan, hkum-hukum inquisisi (yang hingga hari ini masih mendekam dalam hukum-hukum pidana dan pada kitab undang-undang kita) ada dan diterapkan, menyiksa banyak orang untuk keyakinan maupun ketidakyakinannya, memperkosa hati nurani orang-orang, dan menggabungkan pemerintah yang enak dan pendapatan dari pemerintah, dengan dispensasi ini dan itu yang membiuskan, oleh lembaga gereja. Pemisahan yang tegas antara lembaga Negara dan Gereja adalah apa yang dituntut proletariat sosialis mengenai negara modern dan gereja modern.

Revolusi Rusia harus memberlakukan tuntutan ini sebagai sebuah komponen yang diperlukann untuk kemerdekaan politik. Dalam hal ini, revolusi Rusia berada dalam sebuah posisi yang menyenangkan, karena ofisialisme yang menjijikkan dari otokrasi feodal polisi berkuda telah menimbulkan ketidakpuasan, keresahan, dan kemarahann bahkan di antara para pendeta. Serendah-rendahnya dan sedungu-dungunya pendeta Orthodoks Rusia, mereka pun sekarang telah dibangunkan oleh guntur keruntuhan tatanan abad pertengahan yang kuno di Rusia. Bahkan mereka yang bergabung dalam tuntutan untuk kebebasan, memprotes praktek-praktek birokratik dan ofisialisme, hal memata-matai polisiyang sudah ditetapkan sebagai "pelayan Tuhan". Kita kaum sosialis harus memberikan dukungan kita pada gerakan ini, mendukung tuntutan para pendeta yang jujur dan tulus hati menuju ke tujuan mereka, membuat mereka meyakini kata-kata mereka tentang kebebasan, menuntut bahwa mereka harus memutuskan semua hubungan antara lembaga keagamaan dan kepolisian. Seperti juga bagi Anda yang tulus hati, di tiap kasus Anda harus mempertahankan pemisahan antara Gereja dengan Negara dan sekolah dengan Agama, sepanjang agama sudah dinyatakan secara tuntas dan menyeluruh sebagai urusan pribadi. Atau Anda tidak menerima tuntutan-tuntutan konsisten tentang kebebasan ini, dalam kasus dimana Anda tetap terpikat dengan tradisi inkuisisi, dalam kasus dimana Anda tetap berpegang teguh dengan kerja pemerintahan yang enak dan pendapatan dari pemerintah, dalam kasus dimana Anda tidak percaya terhadap kekuatan spiritual dari senjatamu dan melanjutkan untuk mengambil suap dari negara. Dan dalam kasus itulah para pekerja berkesadaran-kelas di seluruh Rusia menyatakan perang tanpa ampun terhadap Anda.

Sepanjang yang diperhatikan kaum sosialis proletariat, agama bukanlah sebuah persoalan pribadi. Partai kita adalah sebuah asosiasi dari para pejuang maju yang berkesadaran kelas, yang bertujuan untuk emansipasi kelas pekerja. Sebuah asosiasi seperti itu tidak dapat dan tidak seharusnya mengabaikan adanya kekurangan kesadaran- kelas, ketidaktahuan atau obscurantisme (isme kekaburan, ketidakjelasan) dalam bentuk keyakinan-keyakinan agama. Kita menuntut pembinasaan sepenuhnya terhadap Gereja dan dengannya mampu menerangi kabut religius yang begitu ideologis dan dengan sendirinya senjata ideologis, dengan sarana pers kita dan melalui kata dari mulut. Namun kita mendirikan asosiasi kita, Partai Buruh Sosial-Demokrat Rusia, tepatnya untuk sebuah perjuangan melawan setiap agama yang menina bobokan para pekerja. Dan bagi kita perjuangan ideologi bukan sebuah urusan pribadi, namun persoalan seluruh Partai, seluruh proletariat.
Jika memang demikian, mengapa kita tidak menyatakan dalam Program kita bahwa kita adalah atheis? Mengapa kita tidak melarang orang-orang Kristen dan para penganut agama Tuhan lainnya untuk bergabung dalam partai kita?

Jawaban terhadap pertanyaan ini akan memberikan penjelasan tentang perbedaan yang cukup penting dalah hal persoalan agama yang ditampilkan oleh para demokrat borjuis dan kaum Sosial-Demokrat.
Program kita keseluruhannya berdasar pada cara pandang yang ilmiah, dan lebih jauh materialistik. Oleh karenanya, sebuah penjelasan mengenai program kita secara amat perlu haruslah memasukkan sebuah penjelasan tentang akar-akar historis dan ekonomis yang sesungguhnya dari kabut agama. Propaganda kita perlu memasukkan propaganda tentang atheisme; publikasi literatur ilmiah yang sesuai – dimana pemerintah feodal otokratis hingga saat ini telah melarang dan menyiksa – yang pada saat ini harus membentuk satu bidang dari kerja partai kita. Kita sekarang mungkin harus mengikuti nasehat yang diberikan Engels kepada kaum Sosialis Jerman: menterjemahkan dan menyebarkan literatur intelektual Pencerahan Perancis abad ke-18 dan kaum atheis.

Namun bagaimanapun juga kita tidak boleh dan tidak patut untuk jatuh dalam kesalahan menempatkan persoalan agama ke dalam sebuah abstrak, kebiasaan jang idealistik, sebagai sebuah masalah "intelektual" yang tak berhubungan dengan perjuangan kelas, seperti yang tidak jarang dilakukan oleh kaum demokrat-radikal yang ada di antara kaum borjuis. Tentulah bodoh untuk berpikir bahwa, dalam sebuah masyarakat yang berdasar pada penindasan tanpa akhir dan merendahkan massa pekerja, prasangka-prasangka agama bisa disingkirkan hanya melalui metode propaganda melulu. Inilah kesempitan cara berpikir borjuis yang lupa bahwa beban agama yanng memberati kehidupann manusia sebenarnya tak lebih adalah sebuah produk dan refleksi beban ekonomi yang ada di dalam masyarakat. Tak satupun dari famplet khotbah, berabapun jumlahnya, dapat memberi pencerahan pada kaum proletariat, jika ia tidak dicerahkan dengan perjuangannya sendiri melawan kekuatan gelap dari kapitalisme. Persatuan dalam perjuangan revolusioner yang sesungguhnya dari kelas kaum tertindas untuk menciptakan sebuah sorgaloka di bumi, lebih penting bagi kita ketimbang kesatuan opini proletariat di taman firdaus surga.

Hal inilah yang menjadi alasan mengapa kita tidak dan tidak akan menyatakan atheisme dalam program kita, itulah mengapa kita tidak akan dan tidak akan melarang kaum proletariat yang tetap memelihara sisa-sisa prasangka lama untuk menggabungkan diri mereka dengan Partai kita. Kita akan selalu mengkhotbahkan cara pandang ilmiah, dan hal itu essensial bagi kita untuk memerangi ketidakkonsistenan dari berbagai aliran "Nasrani". Namun bukan berarti bahwa pada akhirnya persoalan agama akan dikembangkan menjadi persoalan utama, sementara hal itu sudah tidak dipersoalkan lagi, atau bukan pula berarti bahwa kita akan membiarkan semua kekuatan dari perjuangan ekonomi dan politik revolusioner yang sesungguhnya untuk dipilah-pilah mengikuti opini tingkat ketiga ataupun ide-ide yang tidak masuk akal. Karena hal ini akan segera kehilangan semua arti penting politisnya, segera akan disapubersih sebagai sampah oleh perkembangan ekonomi.
Dimanapun kaum borjuis reaksioner hanya memperhatikan dirinya sendiri, dan sekarang sudah mulai memperhatikan dirinya di Rusia, dengan menggerakkan perselisihan agama – karenanya dalam rangka membelokkan perhatian massa dari problem-problem ekonomi dan politik yang demikian penting dan fundamental, pada saat ini diselesaikan dalam praktek oleh semua proletariat Rusia yang bersatu dalam perjuangan revolusioner. Kebijaksanaan revolusioner yang memecahbelahkan kekuatan kaum proletariat, dimana pada saat ini manifestasinya muncul dalam program Black-Hundred, mungkin besok akan menyusun bentuk-bentuk yang lebih subtil. Kita, pada setiap tingkat, akan melawannya dengan tenang, secara konsisten dan sabar berkhotbah tentang solidaritas proletarian dan cara pandang ilmiah – seorang pengkhotbah yang asing pada apapun hasutan-hasutan perbedaan sekunder.

Kaum proletariat reevolusioner akan berhasil dalam membentuk agama menjadi benar-benar urusan pribadi, sejauh yang diperhatikan oleh negara. Dan dalam sistem politik ini, bersih dari lumut-lumut abad pertengahan, kaum proletariat akan keluar dan membuka pertarungan untuk mengeliminasi perbudakan ekonomi, sumber yang murni dari segala omong kosong relijius manusia.

Novaya Zhizn, No. 28.
3 Desember, 1905
Tertanda: N. Lenin
Diterbitkan sesuai dengan teks yang dalam Novaya Zhizn

Sumber: Karya-karya Lenin
Catatan: Lihat Frederick Engels, "Flüchtlings-Literatur", Volksstaat, No. 73, 22/6/1874, halaman 86.

Sekali Lagi Tentang TRILOGI


“Saya harus mengatakan  bahwa tugas-tugas dari pemuda secara umum, Liga Pemuda Komunis dan khususnya semua organisasi lain, bisa diringkas dalam satu kata tunggal, yaitu: b e l a j a r. (Lenin October 2, 1920)”
 Salam Demokrasi Pembebasan!
Salam Pemberontakan! 
Description: https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xpa1/v/t1.0-9/s720x720/10665906_949004538448612_7745095063677386021_n.jpg?oh=fb85ed2be61043b3c2685dde19f7fd7c&oe=54F3ED0F&__gda__=1424260073_b1f8db58bbed32a0666ce6edb079ec15
Dalam perjalanannya, gerakan mahasiswa dan pemuda pada umumnya telah mengalami kebingungan dalam internal gerakan mahasiswa/pemuda itu sendiri, ini terlihat dari bayaknya mahasiswa/pemuda yang terjebak dalam perpeloncoan, pragmatisme dan meramu issu-issu yang sangat elitis, dan semakin menjauhkan diri dari problem-problem rakyat. seakan terdapat tempok penghalang nun kokoh antara rakyat dan mahasiswa/pemuda sebagai pelopor gerakan perubahan. Mahasiswa/pemuda yang terkurung dan semakin membusuk dalam kampus itu dan tidak sedikit dari mereka merelakan diri menjadi pelayan setia pada si tuan penindas rakyat. Mahasiswa/pemuda yang memiiki niai lebih dalam aktivitas akademik, sebagai ruang konsumsi pandangan-pandangan begitu lebih luas dan kesempatan lebih banyak dibandingkan dengan rakyat yang sibuk memperbaiki ekonominya seperti bekerja sebagai buruh pabrik, bertani, dan berlayar sampai berbulan-bulan lamanya, sehingga tidak memiliki banyak kesempatan untuk belajar, mahasiswa/pemuda secara umum seyokgianya dapat memamfaatkan kesempatan emas itu untuk belajar demi kepentingan rakyat tertindas secara umum. Selain itu, mahasiswa/pemuda juga harus mengorganisasikan diri, dan membantu perjuangan-perjuangan rakyat, untuk terlepas dari belenggu kapitalisme yang menindas rakyat pekerja dalam konsep “trilogi”  sebagai rumus umum baik perjuangan organisasi mahasiswa/pemuda revolusioner, maupun organisasi mahasiswa yang di cap moderat sekaipun.


Lahirnya Konsep brilian yang disebut “Trilogy”

Mungkin kawan-kawan semua sudah tau apa itu trilogi, dan mungkin bahkan telah mempraktekkannya dalam gerak perjuangan kawan-kawan, baik mahasiswa/pemuda yang sedang berlawan, maupun pelajar (siswa). Nah, dalam “trilogy” tersebut  seperti yang telah aku sebutkan sebelumnya, terdapat tiga konsep yang menjadi rumusan atau suatu hokum gerak yang kemudian di kontekstualkan dalam perjuangan mahasiswa dan pemuda revolusioner. Tiga rumusan yang dimaksud diatas yaitu: “study, organization, and revolution”.

 Mungkin akan menjadi berbeda secara konsep dan prakteknya dengan trilogy lain yang banyak dikemukakan dan di praktekkan oleh banyak organisasi mahasiswa. Disini ada tiga rumus dalam persfekif perjuangan gerakan mahasiswa dan pemuda revolusioner dan konsep ini bisa bersifat umum bagi semua organisasi mahasiswa, trilogy ini telah sejak awal dirumuskan oleh organisasi gerakan mahasiswa/pemuda seperti Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia pada konggres ke-II CGMI pada tahun 1961 (baca: trilogi cgmi) dan telah menjadi platform  perjuangannya, sehingga pada waktu itu banyak anggota CGMI yang bersemangat ingin belajar di Negara Kuba untuk belajar soal pertanian dengan melihat potensi alam dan rakyat Indonesia banyak bergerak di sektor ekonomi pertanian.

Namun, tidak lama kemudian konsep brilian ini, kandas di awal perjalanannya karena adanya konspirasi politik dari kubu militer Angkatan Darat (AD) dan CIA pada waktu pecahnya kudeta militer 1965-66, dan Soekarno lengser dari tampuk kekuasaannya. Tetapi, konsep itu, tidak serta merta lenyap dari permukaan bumi Indonesia seiring dengan dibuburkannya dan dilarangnya organisasi mahasiswa revolusioner seperti CGMI oleh pemerintah otoriter Soeharto, bahkan konsep itu banyak dipakai oleh organisasi mahasiswa revolusioner, dan menjadikan trilogy CGMI sebagai bentuk strategi-taktik maupun sebagai slogan perjuangannya, dan akan lebih banyak lagi organisasi-organisasi mahasiswa, pemuda, dan pelajar yang akan menggunakan trilogy sebgai konsep perjuangannya karena belajar, berorganisasi, dan revolusi menjadi hal yang mutlak dipraktekkan oleh organisasi mahasiswa yang mengaku revolusioner.

Tiga rumusan penting ini, dalam sejarah gerakan mahasiswa/pemuda revolusioner telah menjadi perdebatan yang panjang dikalangan aktivis mahasiswa dan pemuda revolusioner, dari kesapahaman tentang 3 rumusan penting itu terdapat perdebatan panjang pada tataran bagaimana mengkontekstualisasikan, akan tetapi perdebatannya hanya terbentur pada primer dan sekunder, pada yang mana lebih utama dilakukan dan mana yang menjadi factor pendukung dalam praktek perjuangan mahasiswa/pemuda revousioner, apakah belajar, organisasi ataukah berjuang, atau mempraktekkan dari tiga rumusan teori itu sekaligus secara bersamaan? Bukan pada persoalan objektivitas konsep tersebut. Mungkin akan kita coba ulas lebih jauh tentang “trilogy” gerakan mahasiswa/pemuda revolusioner itu secara detail selanjutnya.

Tri Logi Sebagai Teori Mahasiswa Revolusioner

 Trilogi ini memenuhi kebutuhan di tiga ranah pembelajaran yaitu ranah kognitif (nalar), afektif (kepekaan, kepedulian) dan psikomotorik (keterampilan praktek). Metode ini menular dan diwariskan ke kelompok-kelompok diskusi dan gerakan mahasiswa lain hingga sekarang. Belajar, berorganisasi dan berjuang (revolusi), dari tiga rumusan tersebut diposisikan sederajat dan sama pentingnya begitu pula prakteknya secara bersamaan. dimana mahasiswa dan pemuda progresif revolusioner di tekankan untuk belajar, baik ilmu social, ekonomi, politik, dan bahkan sampai pada ilmu teknik untuk menciptakan teknologi modern yang semata-mata bertujuan untuk kepentingan dan berkesusaian dengan kebutuhan rakyat sampai pada cita-cita sosialisme sebgai negasi dari system kapitalisme. 

Tujuan ini pernah disampaikan oleh kawan D.N Aidit pada konferensi nasional CGMI, dia mengatakan seperti ini: “..saya berharap saudara-saudara dapat menciptakan suasana berkompetisi disetiap universitas diseluruh negeri untuk menjadikan diri “patriot dan ahli” yang militant dan bercita-citakan sosialisme.” Sangatlah tepat apa yang disampaikan oleh aidit itu. Kemudian organisasi juga begitu penting dimana mahasiswa sebagai mahkluk social yang tidak terlepas dari manusia lainnya tentunya mengharuskan kita membentuk organisasi revolusioner dalam menjalankan dan mempraktekkan teori-teori dari aktivitas belajar kita dan juga menjadi wadah mempersatukan kepentingan kita.

Kemudian ketiga adalah berjuang. Dalam hal ini tentunya menekankan pada bentuk praktek secara progresif revolusioner, dimana berjuang merupakan bentuk praktek nyata dalam meyujudkan tujuan yang telah kita cita-citakan yaitu suatu system memanusiakan manusia dari teori yang dihasilkan dari aktivitas belajar, dan organisasi untuk mendisiplinkan kerja-kerja agar dapat merumuskan apa yang menjadi kebutuhan dari perjuangan kita sebagai mahasiswa dan pemuda yang progresif revolusioner untuk melawan system kapitalisme yang semakin teorganisir dan menindas ini. Dalam tiga rumusan ini pula,  mereka-mereka yang "canggih" dalam berdiskusi bisa saja sangat "kedodoran"dalam praktek jika ia tidak cakap dalam mempelajari situasi secara objektif. Anggota yang dihargai bukan hanya anggota organisasi yang mahir mengemukakan pendapat dan memenangkan opini, tetapi juga ia yang mampu memimpin massa rakyat. Mewujudkan apa yang didiskusikan melalui kerja-kerja praktis adalah salah satu kemampuan yang patut dihargai dalam organisasi. Melalui praktek langsung, anggota organisasi diuji apakah ia benar-benar berlaku sebagaimana yang ia ceramahkan. Dalam praktek, para anggota organisasi mahasiswa dan pemuda revolusioner berhadapan dengan kondisi objektif yang membutuhkan penyelesaian berupa tindakan yang objektif pula dengan tidak mengabaikan kondisi subjektifitasnya.

Ketiga rumusan penting ini saling merasuki dan mensyaratkan, dia berjalan secara bersama-sama. dan tentunya haruslah berkesesuaian dengan kondisi objektif dimana kita ingin menteorikan dan mempraktekkannya, siapapun itu, baik mahasiswa, maupun pelajar, buruh, tani, nelayan dan bahkan rakyat tertindas secara umum  bias menggunakan trilogy ini. Tanpa belajar, suatu organisasi akan kehilangan landasan pemikiran yang kritis. Tanpa perjuangan, suatu organisasi akan berkutat pada pemikiran subjektif dan jauh dari objektivitas, tanpa belajar, berorganisasi, dan berjuang kita akan terombang-ambing didunia ini dengan arah dan tujuan yang tidak jelas dan akan terpecah dengan berkeping-keping.

Penulis adalah anggota Front Mahasiswa Demokratik – Sentra Gerakan Muda Kerakyatan
FMD - SGMK

Sekilas Kelahiran Sosialisme

Sekilas Kelahiran Sosialisme


Pendahuluan dan Batasan—
Sosialisme atau pun sistem ekonomi sosialis yang diperbincangkan dalam lembar diskusi ini adalah sosialisme yang berkembang pada masa Robert Owen (1771-1858) dan Karl Marx (1818-1883). Pembatasan ini perlu, karena bisa jadi wacana atau nilai sosialisme telah ada sebelum era 2 tokoh tersebut di atas. Karenanya, untuk efektivitas diskusi, maka lembar pengantar ini hanya membicarakan sosialisme yang berkembang pada masa Owen dan Marx.

Memperbincangkan sosialisme maupun sistem ekonomi sosialis, tentu kurang lengkap jika tanpa mengupas apek penyebab lahirnya isme yang dalam buku Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, karya Michael H. Hart, dinyatakan telah dianut oleh hampir 1,3 milyar manusia pada abad ke-20.

Dan, memperbincangkan sosialisme tentunya tidak bisa tanpa menyentuh kapitalisme, karena pada hakekatnya sosialisme merupakan reaksi terhadap kapitalisme. Sementara itu, jika kita mengobrolkan kapitalisme, maka mau tidak mau kita juga mesti mengulas tentang feodalisme sebagai “ibu” yang telah melahirkannya.

—Feodalisme—
Sejarah feodalisme tidak bisa dipisahkan dengan Dark Ages (Jaman Kegelapan) yang pada abad ke-5 tengah melanda Eropa. Sejak runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat pada tahun 476 M, sejak itu pula hampir seluruh Eropa mengalami kemunduran dan kemerosotan di banyak bidang, terutama bidang ekonomi.

Kemunduran tersebut juga memaksa Eropa—yang sebelumnya menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar di dunia pada masa itu—beralih menjadi masyarakat agraris. Perubahan menjadi masyarakat agraris tersebut dipilih sebagai jalan tengah untuk tetap survive (bertahan hidup) di tengah keterpurukan.

Lambat laun, pilihan itu tidak hanya berpengaruh terhadap aspek ekonomi saja, namun secara sosiologis pilihan tersebut juga mempertegas pelapisan sosial yang telah ada. Pelapisan sosial yang ditandai dengan adanya kelas-kelas di dalam masyarakat Eropa pada masa itu, sejatinya dipicu oleh sistem pengaturan tanah yang dinamai feodalisme.

Secara etimologis, feodalisme berasal dari kata feodus yang dalam Bahasa Latin berarti “Perjanjian”. Secara sepintas, feodalisme dapat dimaknai sebagai sebuah paham yang lahir dari tata-aturan yang dibuat oleh negara atau raja yang bertujuan mengatur peminjaman tanah kaum bangsawan.

Bangsawan yang memperoleh pinjaman tanah tersebut kemudian menyewakan tanah pinjaman itu kepada para petani dengan sistem bagi hasil atau sewa tenaga. Keadaan ini menyebabkan pengaruh bangsawan pada masa itu menjadi sedemikian besarnya. Bangsawan-bangsawan berupaya tetap memelihara “hubungan baik” mereka dengan negara atau raja lewat berbagai cara, meski harus mengorbankan para buruh dan petani penggarap tanah mereka. Feodalisme juga memicu lahirnya tuan-tuan tanah yang menggarap tanah mereka hanya untuk peningkatan hasil/produksi semata. Dan, tentu saja hal tersebut dilakukan para tuan tanah untuk menjaga “hubungan baik” mereka dengan bangsawan yang tanahnya mereka sewa, tanpa mempedulikan kesejahteraan buruh dan petani penggarap tanah mereka.

Peningkatan produksi yang tidak mempedulikan nasib buruh dan petani penggarap tanah ini, akhirnya bermuara pada makin melimpahnya kekayaan raja-raja atau penguasa. Dalam menjalankan kekuasaannya, penguasa-penguasa pada masa itu berupaya memperoleh dukungan legal dari kaum agamawan (gereja) cara memberikan subsidi kepada gereja.

Tentunya mudah diterka, jika pemberian subsidi tersebut diniatkan untuk menarik dukungan gereja. Hal ini penting bagi para raja, karena pada masa itu masyarakat meyakini bahwa segala sesuatu yang berasal dari gereja dianggap sebagai kebenaran yang tidak boleh dibantah. Dukungan gereja menjadi penting bagi para penguasa karena dukungan gereja akan melegitimasi sistem feodalisme yang mereka terapkan.

Feodalisme akhirnya melahirkan simbiosis mutualisme antara para raja, gereja, bangsawan dan tuan tanah. Karena itu, menjadi masuk akal jika masing-masing dari unsur simbiosis saling menguntungkan itu berupaya untuk tetap melestarikan sistem yang telah meminggirkan kaum buruh dan petani itu.

Feodalisme sebagai upaya untuk mengatasi keterpurukan Eropa, memang berhasil mengeluarkan Eropa dari Dark Ages sekalipun mengorbankan petani dan buruh. Terbukti pada masa Perang Salib (1096-1291) perdagangan Eropa muncul kembali. Hal ini ditandai dengan tampilnya kawasan Italia sebagai salah satu pusat penting perdagangan dunia pada masa itu.

Bangkitnya pusat perdagangan di Laut Tengah tersebut juga dibarengi dengan meningkatnya jumlah kaum pengusaha kaya di kota-kota dagang yang biasanya disebut sebagai kaum Borjuis. Bejibunnya borjuis pada masa itu, tidak hanya berpengaruh pada iklim perekonomian Eropa, tetapi juga berpengaruh pada sosio-kulturnya. Kultur feodalisme yang mulanya membangun kultur Eropa itu pun mengalami perubahan seiring dengan munculnya gerakan renaissance yang disponsori oleh kaum borjuis.

Renaissance secara etimologis berasal dari kata re yang berarti kembali, dan naitrie yang artinya bangun. Terjemahan bebasnya adalah bangun kembali. Maknanya, kurang lebih bangun kembali untuk melepaskan diri dari ikatan feodalisme yang hanya menguntungkan raja, bangsawan, tuan tanah, dan gereja. Renaissance juga dimaknai sebagai penggalian kembali filsafat dan ilmu pengetahuan yang berkembang pada jaman Yunani.

Renaissance sebenarnya merupakan reaksi dari feodalisme yang telah menindas buruh dan petani. Jika pada masa feodalisme, filsafat dan ilmu pengetahuan harus tunduk kepada fatwa gereja, maka pada masa renaissance filsafat dan ilmu pengetahuan diletakkan kembali pada tempat semestinya.

Renaissance juga lahir sebagai buah ketidakpuasan pemimpin masyarakat, serta para pemikir pada masa itu yang mendukung feodalisme. Ketidakpuasan ini akhirnya mengejahwantah jadi gerakan masyarakat yang disponsori oleh kaum borjuis.

Selain merombak tradisi lama Eropa yang bercorak feodalis dan gerejawi, renaissance juga merangsang pemikir-pemikir yang awalnya berada di bawah tekanan dogmatis gereja untuk tampil mengemukakan pikiran-pikirannya. Salah satunya adalah Nikolaus Copernicus yang menyatakan bahwa bumi sebenarnya bulat seperti bola. Astronom kelahiran Polandia, 19 Februari 1473 itu juga menyatakan bahwa matahari merupakan pusat peredaran planet-planet (teori heliosentris).

Teori Copernicus ini berlawanan dengan konsepsi kuno yang disahkan gereja, yang menyatakan bahwa bumi menjadi pusat tatasurya (geosentris). Meski secara ilmiah berhasil dibuktikan oleh cendikiawan lainnya yang bernama Galileo Galilei, teori bumi bulat dan heliosentris tetap mendapatkan tentangan dari pihak gereja.

Sejarah akhirnya mencatat, teori Copernicus tersebut tidak hanya benar, tetapi juga menjadi salah satu faktor munculnya kolonialisme dan imperialisme sebagai turunan dari feodalisme.

—-Kolonialisme dan Imperialisme—

Bangkitnya Eropa yang ditandai dengan bangkitnya kawasan Laut Tengah—khususnya Italia—sebagai salah satu pusat penting perdagangan dunia, ternyata tidak berlangsung lama. Pada tahun 1453, Kota Konstantinopel (Romawi Timur) jatuh ke dalam genggaman Turki yang diperintah Dinasti Usmani. Jatuhnya Konstantinopel ini mempengaruhi denyut nadi perdagangan Eropa karena seketika itu pula kawasan Laut Tengah berada di dalam kendali Turki. Keadaan ini memaksa Eropa untuk mencari daerah di luar kawasan Laut Tengah sebagai penopang perekonomian mereka.

Pencarian daerah baru menjadi “wabah” yang secara cepat menjangkiti bangsa-bangsa Eropa saat itu. Selain mendapatkan dukungan dari raja, pencarian daerah baru ini juga mendapatkan sokongan dari saudagar atau pemilik modal besar.

Selain motif ekonomi, pencarian daerah baru juga dipicu motif lainnya, seperti dahaga untuk mendapatkan nama yang termasyur, iming-iming penghargaan tinggi dari raja, serta motif untuk menjadi bangsa yang disegani dan dielu-elukan. Motif lainnya adalah motif penyebaran Kristen sebagai agama mayoritas penduduk Eropa pada masa itu. Motivasi-motivasi tersebut akhirnya populer disebut 3 G, akronim dari Gold (Emas, yang makna luasnya adalah kekayaan), Glory (kejayaan), dan Gospel (tugas suci, agama).

Pencarian daerah baru juga didorong oleh perasaan bangsa-bangsa Eropa yang menganggap dirinya lebih unggul daripada bangsa-bangsa lainnya. Faktor pendorong lainnya adalah teori Copernicus yang menyatakan bahwa berbentuk bulat seperti bola.

Faktor lainnya adalah keberhasilan ekspedisi pelayaran kerajaan Spanyol pada tahun 1492 yang dipimpin Christoporus Columbus (pelaut asal Italia). Keberhasilan Columbus tersebut makin menggelorakan semangat pencarian daerah baru. Setelah mempelajari catatan-catatan Columbus, pada tahun 1519 Kerajaan Spanyol kembali mengirimkan rombongan ekspedisi pelayarannya yang dipimpin Ferdinand Magelhaens.

Meski Magelhaens meninggal karena pertempuran dengan penduduk Filipina, ekspedisi yang selanjutnya dipimpin Juan Sebastian del Cano (asal Italia) ini dinilai berhasil oleh Kerajaan Spanyol. Ekspedisi yang berlangsung selama 3 tahun itu tidak hanya berhasil mencari daerah baru penghasil komiditi penting perdagangan, tetapi juga berhasil menjadikan Filipina sebagai daerah koloni Spanyol.

Tidak hanya menjadi bukti kebenaran teori Copernicus, ekspedisi Magelhaens—yang dicatat sejarah sebagai pelayaran pertama yang benar-benar mengitari bumi—juga menjadi salah satu faktor yang mendorong bangsa Eropa lainnya untuk melakukan ekspedisi serupa.

Sementara itu, klaim sepihak Spanyol atas Filipina telah menginspirasi bangsa Eropa lainnya untuk melakukan hal yang sama. Klaim sepihak negara-negara Eropa terhadap daerah baru yang mereka temukan, serta upaya mereka menjadikan daerah baru tersebut sebagai koloni inilah yang akhirnya lazim disebut sebagai praktek kolonialisme.

Pencarian daerah baru yang awalnya dilakukan sebagai jalan keluar atas penguasaan Laut Tengah oleh Turki, serta sebagai upaya alternatif untuk mencari komiditi dagang itu telah berubah tujuannnya. Jika awalnya hanya bermotif dagang semata, maka selanjutnya pencarian daerah baru tersebut bermotif perluasan kawasan dan penguasaan/penjajahan daerah-daerah penghasil komiditi dagang (terutama emas dan rempah-rempah)

Kalau sebelumnya feodalisme dijadikan sebagai jalan keluar untuk mengentas Eropa, pada masa ini kolonialisme-lah yang dijadikan sebagai jalan bagi Eropa untuk memperkuat perekonomiannya. Sama dengan feodalisme, kolonialisme juga merupakan kolaborasi antara penguasa, bangsawan, pemilik modal besar (kapitalis), dan gereja. Dari waktu ke waktu, terbukti bahwa kolonialisme berhasil memperderas aliran emas dan rempah-rempah ke pasaran Eropa, yang pada gilirannya membuahkan keuntungan yang fantastis bagi penguasa, bangsawan, dan kapitalis.

Semangat untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar tersebut tidak hanya merangsang bangsa-bangsa Eropa untuk menguras habis daerah koloninya, tetapi lambat laun takaran keuntungan atau kekayaan hasil kolonialisme itu dijadikan sebagai alat ukur tinggi rendahnya derajat suatu bangsa di Eropa. Akibatnya bisa ditebak, masing-masing bangsa Eropa berkompetisi menumpuk kekayaan yang diperoleh dari kolonialisme yang mereka terapkan. Kompetisi inilah yang disebut sebagai Merkantilisme.

Karena jumlah logam mulia yang dijadikan sebagai tolok ukur dalam merkantilisme, maka emas sebagai logam mulia memegang peranan penting pada masa itu. Konsekuensi logisnya, perluasan koloni—terutama yang bermotif perburuan emas—pun makin menjadi-jadi.

Setelah itu, emas dan rempah-rempah tidak hanya mendorong perluasan koloni. Tetapi juga menjadi alasan utama bangsa-bangsa Eropa untuk menguasai secara bulat dan utuh daerah koloni mereka dengan cara mengambil paksa kekuasaan-legal yang ada di dalam koloni tersebut. Upaya penguasaan secara utuh serta pengambilan paksa kekuasaan-legal sebuah koloni inilah yang dinamakan praktek imperialisme. Setelah pengambilan paksa kekuasaan-legal, episode selanjutnya yang dimainkan penjajah adalah memobilisasi-paksa penduduk asli agar melakukan segala sesuatu demi kepentingan negara induk (negara penjajah).

—Revolusi Prancis, Revolusi Industri dan Kapitalisme—

Laju aliran emas dan rempah-rempah yang dihasilkan oleh kolonialisme/imperialisme ternyata juga dibarengi dengan majunya khasanah ilmu pengetahuan. Sebagaiman diulas sebelumnya, pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan tersebut tidak lepas dari pengaruh renaissance.

Di sisi lain, renaissance tidak hanya membawa “aufklarung” (pencerahan, bhs. Jerman) bagi masyarakat Eropa, tetapi juga mengilhami banyak orang—terutama pemikir—untuk melakukan revolusi (perubahan) tatanan masyarakat, terutama pemerintahan.

Revolusi yang melanda hampir seantero Eropa tersebut sebenarnya merupakan reaksi atas absolutisme raja-raja Eropa pada masa itu. Absolutisme raja-raja Eropa tersebut sedikit-banyak dipengaruhi oleh Machiavellisme, yakni sebuah isme tentang mutlaknya kekuasaan raja yang dicetuskan oleh Niccolo Machiavelli. Dalam bukunya yang berjudul Il Principe (artinya: Sang Raja), Machiavelli menyatakan, kekuasaan raja bersifat mutlak dan tak terbatas atas suatu negara, sehingga raja berhak atas segala sesuatu yang ada di dalam negara, termasuk harta pribadi rakyat, dan bahkan rakyat itu sendiri.

Jelas, absolutisme raja-raja Eropa tersebut menyakiti hati rakyat. Timbunan kekecewaan rakyat Eropa atas absolutisme raja dari hari ke hari tak ubahnya seperti bom waktu yang hanya menunggu detik-detik ledakan. Beberapa pemikir tampil menentang kesewenang-wenangan itu. Salah satunya, seorang filsuf dari Inggris yang bernama John Locke (1632-1704), yang menyatakan, seharusnya negara tidak diatur oleh absolutisme raja, tetapi oleh konsitusi (undang-undang). Locke juga menyatakan, negara harus mengakui hak-hak manusia yang dimiliki sejak lahir, seperti hak merdeka, hak untuk hidup, hak untuk memilih, dan hak untuk memiliki sesuatu.

Pikiran Locke yang jelas-jelas menghantam machiavellisme itu telah memancing pikiran-pikiran kritis lainnya. Seorang di antaranya adalah Montesqiueu, pemikir Prancis yang menolak pemusatan kekuasaan negara yang hanya bertumpu kepada seorang raja. Menurut Montesqiueu, kekuasaan negara harus dibagi jadi tiga, yakni kekuasaan legislatif (kekuasaan untuk membuat UU), kekuasaan eksekutif (kekuasaan unuk melaksanakan UU), dan kekuasaan yudikatif (kekuasaan untuk mengadili setiap pelanggaran UU). Pokok pikiran Montesqiueu ini dikenal sebagai Trias Politica.

Kritik dari Perancis terhadap absolutisme raja, tidak hanya disuarakan Montesqiueu. Seorang pemikir Prancis lainnya, Jacques Rousseau dalam bukunya yang berjudul Du Countract Social (artinya: Perjanjian Masyarakat) menyatakan, sesungguhnya sejak lahir semua manusia merdeka dan setara. Tak hanya menentang absolutisme raja, Rousseau juga menyatakan, membela hak dan kepentingan rakyat merupakan tindakan yang sangat suci.

Kritik terhadap absolutisme raja yang diusung pemikir-pemikir masa itu telah menginspirasi banyak orang untuk mengorganisir dan memobilisasi diri guna melakukan perlawanan fisik. Perlawanan yang fenomenal terjadi di Prancis. Pada tanggal 14 Juli 1789, Penjara Bastile—yang jadi lambang absolutisme Raja Prancis—diserbu rakyat.

Penyerbuan ini mengakibatkan kekuasaan Prancis beralih kepada pemerintahan sementara yang disebut Pemerintahan Revolusi. Segera setelah itu, Pemerintahan Revolusi menghapus hak-hak istimewa yang dimiliki raja, bangsawan dan pendeta. Tak cukup di situ, Pemerintahan Revolusi juga membentuk Pasukan Keamanan Nasional dan Majelis Konstituante (Dewan Rakyat).

Selain memutuskan pelenyapan gelar kebangsawanan, Pemerintahan Revolusi juga mengumumkan pengakuan dan penghormatan hak-hak manusia dan warga negara. Pengakuan tersebut dicatat sejarah sebagai salah satu piagam hak asasi manusia.

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan sejak masa renaissance, dan lunturnya absolutisme raja sejak Revolusi Prancis telah memperluas ruang aktualisasi personal rakyat Eropa pada umumnya.

Aktualisasi personal di bidang ilmu pengetahuan telah memicu para cendikiawan pada masa itu untuk melakukan penelitian-penelitian. Sedangkan aktualisasi di bidang ekonomi telah mendorong rakyat Eropa—terutama yang bermodal besar—untuk berwiraswasta dalam skala besar.

Minat berwiraswasta dalam skala besar tersebut bertemu dengan semangat para cendikiawan dalam melakukan penelitian. Seiring dengan laju hasil bumi yang menderas dari bumi jajahan, para pelaku wiraswasta skala besar (kapitalis) terus berpikir tidak hanya tentang bagaimana memperdagangkan hasil bumi jajahan tersebut ke pasaran Eropa. Mereka pun berpikir bagaimana hasil bumi itu diolah atau diindustrialisasi agar ragam barang dagangan mereka banyak.

Industrialisasi yang ditujukan untuk memperbanyak jenis dagangan, ternyata hanya memberi kepuasan sementara kepada pemodal besar. Mereka pun berpikir tidak hanya kepada perbanyakan jenis dagangan, tetapi juga kepada percepatan proses produksi. Sebuah industrialisasi yang dapat mengolah hasil bumi jajahan dengan proses yang singkat, dengan hasil produk yang variatif, serta kuantitas produk siap jual banyak, merupakan “kegelisahan” pemodal besar pada saat itu.

“Kegelisahan” para kapitalis ini bertemu dengan semangat para cendikiawan. Kapitalis memberikan suntikan dana bagi penelitian-penelitian para cendikiawan. Hasil dari relasi kapitalis dan cendikiawan ini adalah penemuan-penemuan yang tidak hanya membawa keuntungan bagi kapitalis, tetapi secara sosio-kultural membawa perubahan besar bagi peradaban Eropa.

Beberapa penemuan yang menonjol diantaranya adalah Spinning Jenny (alat pemintal) yang diciptakan oleh James Hargreaves pada 1762, dan penemuan mesin uap oleh James Watt pada 1796. Mesin uap merupakan penemuan fenomenal yang penting, karena membawa perubahan besar dalam dunia industri. Selain itu, banyak cendikiawan yang terinspirasi penemuan James Watt ini. Beberapa diantaranya, Richard Trevitchik penemu lokomotif tenaga uap (1804), Robert Fulton penemu kapal tenaga uap, serta Cugnot & Daimler penemu mobil tenaga uap. Oleh banyak sejarawan, penemuan mesin uap James Watt ditetapkan sebagai titik awal Revolusi Industri.

Berbagai penemuan tersebut telah menjawab “kegelisahan” kapitalis yang selalu ingin menghasilkan produk dalam dalam jumlah besar dengan cara yang murah dan cepat. Bukan cuma membuat para kapitalis jadi kaya raya, revolusi industri pun makin mengukuhkan eksistensi kelas kapitalis sebagai kelas yang penting dan berpengaruh. Revolusi industri juga berperanan memodernisasi kapitalisme. Kapitalis yang mulanya hanya berkutat sebagai produsen pengolah bahan mentah, sejak penemuan-penemuan mesin-mesin tersebut telah berubah menjadi pedagang sekaligus distributor. Ini terjadi karena ada serangkaian proses produksi yang berhasil diringkas oleh mesin-mesin mutakhir kala itu.

Kesadaran bahwa posisi mereka kian penting dan berpengaruh, telah menstimulasi kapitalis untuk mempengaruhi kebijakan penguasa negara. Pengaruh tersebut dilakukan oleh kaum pemodal agar penguasa negara makin meningkatkan intensitas kolonialisme dan imperialisme. Tujuannya jelas, kaum kapitalis ingin meningkatkan bahan mentah dari daerah jajahan dalam jumlah yang besar untuk menjamin stabilitas industrialisasi mereka, serta perolehan laba yang lebih besar. Tujuan ini bertemu dengan kebutuhan penguasa negara atas dana pengembangan kolonialisme dan imperialisme. Perluasan dan pengelolaan daerah jajahan jelas membutuhkan dana yang tidak sedikit, dan kaum kapitalis bersedia memenuhi kebutuhan tersebut asalkan tujuan mereka terpenuhi.

Dari sini terlihat bahwa intensitas kolonialisme dan imperialisme terkadang tidak hanya murni keinginan penguasa belaka, tetapi juga tercampuri oleh kemauan kelas kapitalis. Dari sini pula makin terlihat betapa eratnya hubungan antara kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme.

Sementara itu, pesatnya laju revolusi industri makin mempertinggi posisi tawar kaum pemodal terhadap kaum pekerja. Dengan menggunakan mesin-mesin hasil penemuan cendikiawan, kaum pemodal dapat melakukan proses produksi secara cepat, murah, dan dengan hasil yang lebih banyak. Penggunaan mesin-mesin ini pada gilirannya meminimalkan peranan pekerja.

Peran pekerja yang sebagaian besar telah diganti dengan mesin-mesin itu, membuat kaum pemodal berpikir tentang efisiensi dengan cara mengurangi jumlah pekerja. Besarnya jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaanya ini telah membawa beberapa dampak. Salah satu dampaknya, kelas pemodal makin leluasa menentukan upah pekerja. Kelas pekerja yang posisi tawarnya rendah, mau tak mau menerima upah rendah yang telah ditetapkan oleh kelas pemodal. Keadaan ini makin mempertajam keesenjangan hubungan antara kaum pemodal dengan kelas pekerja.

Kesenjangan tersebut tidak hanya memicu munculnya pengangguran, kemiskinan, kejahatan serta masalah-masalah sosial lainnya. Tajamnya kesenjangan ini juga mengundang lahirnya pikiran-pikiran kritis yang menentang arogansi kaum pemodal. Akhirnya, pikiran-pikiran kritis tersebut mendorong lahirnya sebuah isme (paham), yakni sosialisme.

—Sosialisme Pra-Marx—

Secara luas, sosialisme merupakan paham yang menentang kemutlakan hak milik pribadi. Hak milik pribadi—terutama yang terkait dengan hal-ikwal produksi—diubah jadi hak komunal (masyarakat).

Dalam memperbincangkan sosialisme—terutama pada era pasca-Karl Marx—kita sulit menghindari obrolan tentang ajaran Karl Marx yang lazim disebut marxisme. Selain keterkaitannya demikian erat, marxisme menjadi mata air utama bagi sosialisme itu sendiri. Tokoh-tokoh sosialisme seperti Lenin, Stalin, dan Mao Tse Tung pun menjadikan marxisme sebagai acuan gerakan mereka.

Seperti uraian sebelumnya yang menyebutkan bahwa sosialisme lahir sebagai reaksi terhadap kapitalisme, maka sesungguhnya gagasan sosialisme ini telah ada sebelum era Karl Marx. Satu dari sekian tokoh sosialisme pra-Marx adalah seorang pelaku sejarah Revolusi Prancis yang bernama Noel Babeuf (1760-1767). Anggota Jacobin (fraksi radikal dalam Revolusi Prancis) ini menyerukan, agar kaum miskin bersatu memerangi kaum kaya. Babeuf mengemas sosialisme-nya dalam gagasan pendirian “Republik Rakyat Setara”, yakni republik yang meniadakan kelas-kelas di dalam masyarakat. Pada 1797, Babeuf menjalani hukum penggal kepala karena dituduh telah merencanakan gerakan radikal sosialis.

Yang menarik adalah sosialisme yang digagas oleh Robert Owen (1771-1858). Menjadi menarik karena sosialisme ini digagas oleh Owen yang notabene adalah pemodal. Pengusaha asal Lanark, Inggris, yang mempekerjakan sekitar 2.500 buruh ini jadi populer setelah menulis bukunya yang berjudul A New View of Society, an Essay on the Formation of Human (Pandangan Baru terhadap Masyarakat, sebuah Esai tentang Format Karakter Manusia). Owen berpendapat, karakter manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Pendapat ini tak hanya tertuang sebagai wacana dalam bukunya, tetapi juga dia praktekkan dalam kenyataan. Selaras dengan pendapatnya, Owen menutup kedai-kedai minuman yang berada di sekitar pabriknya, lantas menggantinya dengan membangun perumhan serta tempat rekreasi bagi pekerja-pekerjanya.

Owen juga menentang eksploitasi pekerja anak-anak dengan menerbitkan larangan mempekerjakan anak-anak yang berusia di bawah 10 tahun. Owen pun mendirikan koperasi konsumsi bagi buruhnya, serta membangun Labour Exchange yang berfungsi sebagai tempat penampungan bagi penganggur. Di Labour Exchange, orang-orang yang belum memiliki pekerjaan itu memperoleh bon kerja yang berfungsi sebagai gaji. Dengan cara-cara tersebut, Owen memperoleh keuntungan karena meningkatnya mutu kerja, loyalitas, serta komitmen yang dimiliki buruhnya.

Tokoh sosialisme pra-Marx yang tak kalah menariknya adalah Saint Simon (1760-1825). Agak mirip dengan Owen, sisi menarik Simon terletak pada latarbelakang dirinya. Jika Owen berasal dari kalangan pemodal, maka Simon berasal dari kalangan bangsawan Prancis. Bangsawan yang pernah jadi anggota Pasukan Sukarela Prancis untuk perang kemerdekaan Amerika itu berpendapat, Golongan III (pekerja) berkewajiban melanjutkan pengembangan masyarakat, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan industri, maka karena itu Golongan III merupakan golongan yang penting dalam masyarakat.

Menurut Simon, golongan pekerja tersebut penting juga karena golongan feodal dan bangsawan merupakan golongan parasit yang tidak menghasilkan apa-apa, dan tak berguna. Oleh sebab itu, menurut Simon, golongan borjuis masih tetap diperlukan, dan sudah saatnya kepemimpinan masyarakat dipegang oleh Golongan III

Gagasan sosialisme pra-Marx lainnya dituangkan seorang filsuf yang bernama Pierre Joseph Proudon (1809-1865). Dalam karya filosofisnya yang berjudul “Philosophi de la Misere” (Filsafat Kesengsaraan), Proudon menjelaskan, kesengsaraan tidak hanya disebabkan oleh alat-alat produksi, namun juga oleh uang dan sistem rente (hutang yang berbunga).

Proudon punya pandangan tersendiri mengenai hak milik. Menurut filsuf yang lahir dari keluarga miskin tersebut, hak milik merupakan “pencurian”. Karena itu, pemikir yang memperoleh beasiswa Akademi Beacon itu menyatakan, hak milik harus dibagikan kepada tiap-tiap individu secara merata dan sukarela, tanpa ada pemaksaan dari negara. Pandangan Proudon mengenai pembagian hak milik inilah yang disebut sebagai Pandangan Mutualisme.

Proudon tak hanya berkutat di dunia pemikiran saja. Sejak menulis “Philosophi de la Misere”, filsuf yang juga mendapatkan julukan Bapak Anarkisme Modern itu juga gigih mewujudkan konsepsi sosialisme-liberalnya secara praksis.

Tokoh sosialisme lainnya adalah Charles Fourier (1772-1837). Pemikir asal Prancis itu dalam bukunya yang berjudul “Theorie des Quatre Mouvements et Destines Generales” mengemukakan, penghuni suatu pemukiman yang berkisar antara 1600-1800 orang merupakan suatu kesatuan. Untuk itu, perlu adanya suatu wilayah atau “daerah tertentu” yang berfungsi sebagai tempat tinggal mereka. “Daerah tertentu” tersebut, menurut Fourier diperlukan agar para penghuni bisa saling berkomunikasi dengan mudah. “Daerah tertentu” itu juga ditujukan sebagai tempat kerja yang menganut sistem koperasi.

Dengan sistem koperasi, Fourier berpendapat, pemerataan akan tercipta karena lama-kelamaan tiap-tiap orang akan menjalani kehidupan yang seragam. Dalam konsepsi Fourier, pendidikan akan terjamin karena menjadi bagian dari fasilitas yang harus dibangun di dalam “daerah tertentu” yang dia cita-citakan. Tidak hanya itu, optimalisasi hasil kerja juga akan tercapai karena tempat penitipan anak bagi para pekerja juga akan dibangun di dalam “daerah tertentu” yang ia gagas. Karena konsepsinya yang teramat jauh dari kenyataan itu, Fourier dan pengikut gagasannya disebut sebagai Kaum Sosialis Utopis.

—Marx-Engels dan Sosialisme—

Karl Heinrich Marx (1818-1883) lahir di kota Trier, Jerman. Tokoh penting sosialisme yang juga bapak komunisme internasional ini, tak hanya seorang teoritikus tetapi juga organisator gerakan sosialisme Jerman.

Karena pandangan dan aktivitasnya, peraih gelar doktor filsafat Universitas Jena, Jerman, dan redaktur Rheinische Zeitung itu diusir dari Jerman. Marx pun pindah ke Paris. Di ibukota Prancis inilah Marx bertemu dengan Friederich Engels (1820-1899) yang ternyata memiliki pandangan politik yang sama.

Di paris ini pula Marx mengalami pengusiran lagi. Marx pindah ke Brussel. Di kota inilah, pada 1847 dia pertama kali menerbitkan karya pentingnya yang berjudul “The Proverty of Philosophy” (Kemiskinan Filsafat). Tahun berikutnya, bersama Engels, dia menerbitkan “Communist Manifesto”, sebuah buku yang akhirnya menjadi bacaan dunia. Pada tahun itu juga Marx kembali ke Jeman, untuk kemudian selang beberapa bulan berikutnya diusir lagi.

Setelah terusir sana-sini, akhirnya Marx menyeberang Selat Channel, dan menetap di London hingga akhir hayatnya. Di ibukota Inggris tersebut, dengan sedikit uang yang diperolehnya dari hasil pekerjaan jurnalistik, Marx masih menyempatkan diri untuk melakukan penelitian dan penulisan buku-buku tentang ekonomi dan politik.

Marx beruntung memiliki sahabat seperti Engels. Bukan cuma membantu penelitian dan penerbitan buku-buku yang ditulisnya, Engels juga membantu biaya hidup Marx dan keluarganya. Bersama Engels ini pula, Marx menghasilkan karya terpentingnya, Das Kapital.

Dalam menganalisis masyarakat, dalam mengajukan teori, dan menghasilkan karya-karyanya, Marx sangat dipengaruhi pikiran-pikiran George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831), seorang filsuf kelahiran Jerman yang berpendapat bahwa sejarah adalah perenungan yang panjang. Siapapun yang mempelajari sejarah dengan mendalam, menurut Hegel, pasti akan menjumpai “aturan-aturan tertentu” yang berlaku dalam sejarah. Yang dimaksud dengan “aturan-aturan tertentu” tersebut adalah pergulatan pemikiran dari satu era dengan era lainnya.

Menurut Hegel, pemikiran-pemikiran yang berada dalam suatu jaman biasanya diajukan atas dasar pemikiran-pemikiran yang telah lebih dahulu diajukan. Keadaan ini akan menimbulkan “pertentangan” (dialektika) di antara kedua pemikiran itu. ketegangan tersebut akan mencair bila muncul pemikiran ketiga, yang biasanya mengakomodasi hal-hal terbaik yang terdapat di dalam kedua buah pemikiran yang “bertentangan” itu.

Pemikiran pertama biasanya disebut tesa, pemikiran kedua disebut antitesa, dan pemikiran ketiga disebut sebagai sintesa. “Pertentangan” antara tesa dan antitesa, hingga melahirkan sintesa inilah yang dinamai Proses Dialektika.

Dalam dialektika, sintesa yang telah dihasilkan suatu ketika akan menjadi tesa baru, yang berarti juga bahwa suatu saat sintesa tersebut akan berhadap-hadapan dengan pemikiran baru yang menjadi antitesanya, hingga nantinya sintesa yang lebih baru akan muncul, dan begitu seterusnya.

Dari cara berpikir yang dialektis ini pula Marx menganalisis masyarakat pada jamannya. Marx mengurai bahwa dalam seluruh tahapan sejarah selalu ada pertentangan di antara dua kelas masyarakat. Marx menyatakan, pertentangan pada jaman kuno (yang diistilahkan Marx sebagai masa masyarakat budak) terjadi antara warga bebas dan budak.

Sementara dalam masyarakat feodal, Marx menyatakan, pertentangan terjadi antara para tuan tanah feodal dengan pekerja pengolah lahan. Pertentangan dalam masyarakat feodal berkembang menjadi pertentangan antara kelas bangsawan dengan warganegara biasa.

Pada gilirannya, Marx menelaah pertentangan yang ada di dalam masyarakat pada jaman dia hidup. Marx mengistilahkan masyarakat pada jamannya itu sebagai masyarakat borjuis atau masyarakat kapitalis. Menurut Marx, pertentangan dalam masyarakat borjuis akan terjadi antara kelas pemodal (kapitalis) dengan kelas pekerja (proletar). Dengan kata lain, pertentangan akan terjadi antara kelas pemilik sarana produksi dengan kelas lain yang tak memilikinya.

Pertentangan ini jelas akan menghasilkan keadaan yang tidak akan menguntungkan kelas pekerja, karena kelas pemodal akan terus melestarikan keadaan ini demi keuntungan yang mereka dambakan. Dalam pandangan Marx, kelas pemodal jelas tidak akan mau mengubah keadaan tersebut. Pertentangan yang justru mengukuhkan dominasi kelas pemodal inlah yang harus segera diakhiri, dan menurut Marx, hal inilah yang menjadi alasan dasar kenapa revolusi harus dijalankan oleh kelas pekerja agar keadaan berubah.

Karena dalam telaah sejarahnya, Marx menyatakan bahwa pertentangan antar-kelas hanya dapat diselesaikan dengan jalan kekerasan atau gerakan radikal, maka Marx dan Engels pun menyerukan agar kaum proletar bersatu, untuk kemudian merebut kekuasaan yang didominasi oleh kapitalis.

Seruan Marx dan Engels yang berbunyi, “Kaum Buruh Sedunia Bersatulah” pada masa itu menjadi semboyan yang terkenal tidak hanya bagi kaum buruh tetapi juga bagi para penganut sosialisme. Hingga kini pun semboyan itu masih populer.

Pentingnya persatuan kaum proletar dalam melawan kelas kapitalis, menurut Marx, dikarenakan kapitalisme tidak hanya akan memberi dampak buruk bagi pekerja secara ekonomis, namun juga secara psikis. Dalam pandangan Marx, kapitalisme akan menjadi persoalan bagi esensi kemanusiaan, terutama bagi esensi kemanusiaan buruh. Hal ini, menurut Marx dikarenakan lambat laun kapitalisme akan menghela kelas pekerja untuk terjerembab masuk ke dalam liang alienasi (keterasingan). Dalam kapitalisme, semua proses produksi yang harus dijalankan para buruh, justru akan membuat para buruh tidak lagi mengenali jati diri mereka sendiri.

—Teori Alienasi Marx—

Pandangan Marx atas keterasingan pekerja terhadap diri mereka sendiri—sebagai akibat dari kapitalisme—dikenal sebagai teori alienasi. Sedikit-banyak teori ini dipengaruhi oleh Hegel yang sebelumnya mengungkapkan, bahwa ketika kemauan individu gagal beradaptasi dengan kemauan yang lebih besar (dalam hal ini, kemauan masyarakat), maka individu tersebut akan mengalami alienasi (keterasingan).

Marx lebih mengaitkan teori alienasi-nya dengan pekerjaan seorang manusia, atau lebih tepatnya dengan relasi antara kapitalis dengan pekerja. Pekerjaan seorang manusia merupakan hal istimewa untuk dikaji oleh seorang Karl Marx. Sedemikian istimewanya, hingga Marx mengungkapkan hakekat sejarah pada dasarnya adalah hasil buatan manusia melalui pekerjaannya.

Demi terwujudnya revolusi yang dicita-citakan, serta demi memperkuat pentingnya melawan kapitalisme, Marx pun menuding kapitalisme-lah sebagai penyebab terjadinya keterasingan pekerja atas dirinya.

Secara garis besar, agar keinginan kapitalis untuk memacu hasil produksinya tecapai, maka kapitalis akan memacu proses produksi, serta melakukan penekanan upah pekerja. Mau tidak mau, pekerja dengan upah rendah itu akan memacunya dirinya untuk tetap bekerja demi memenuhi kebutuhannya. Kondisi ini membuat para pekerja tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan aktivitas di luar aktivitas produksi, karena secara tidak langsung aktivitas dan kepentingan pribadinya sangat dipengaruhi oleh kepentingan produksi. Keadaan tersebut akan membuat pekerja menjadi asing dengan beberapa aktivitas yang dulu dikenalinya.

Marx menyatakan, buruh hanya bisa merasakan dirinya jika dia di luar pekerjaannya. Maksud dari pernyataan Marx ini kurang lebih bermakna bahwa pekerja hanya mengenali dirinya pada saat pekerja tersebut tidak berada di dalam waktu produksi, alias pada saat ia tidak bekerja. Lantas bagaimana jika kepentingan produksi yang nota bene merupakan kepentingan kapitalis, makin mempersempit waktu luang para pekerja?

Sempitnya waktu di luar waktu produksi, menurut Marx, akan menyebabkan waktu luang tersebut dimanfaatkan pekerja untuk melakukan hal-hal yang pokok-pokok saja, seperti makan, minum, dan berhubungan seks. Keadaan ini, bagi Marx tidak hanya membuat para pekerja menjadi asing dengan dirinya sendiri, tetapi juga menjadikan para pekerja sebagai “hewan” yang hanya melakukan aktivitas demi memenuhi kebutuhan makan, minum, dan seks.

Selain membuat para pekerja hanya akan melakukan aktivitas yang pokok-pokok saja, kapitalisme juga akan menjauhkan kontribusi para pekerja terhadap kebudayaan, ilmu pengetahuan, serta hal-hal luhur lainnya yang terkadang tidak memiliki nilai ekonomis di hadapan kelas kapitalis

Satu dari sekian perbedaam hewan dan manusia adalah tujuan aktivitasnya. Hewan memiliki tujuan yang lebih sederhana, yakni memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat jasmani. Sementara tujuan manusia lebih kompleks. Selain itu, kualitas diri manusia juga sangat dipengaruhi oleh tujuan dari aktivitas yang dilakoninya. Kualitas diri manusia akan menjadi tinggi bila aktivitas yang dilakoninya tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan badaniah semata, tetapi juga diorientasikan untuk kemajuan ras manusia dan tujuan luhur ke-manusia-an lainnya.

Kapitalisme dalam pandangan Marx, telah memangkas kualitas diri manusia. Marx menilai demikian, karena dalam kapitalisme, seorang manusia—dalam hal ini pekerja—hanya melakoni aktivitas produksi semata. Itu artinya, manusia hanya menjalankan aktivitas yang tujuannya untuk menggapai laju produksi yang dikehendaki pemodal. Dari sudut ini, Marx menilai, kapitalisme telah mengebiri kesempatan pekerja untuk berbuat sesuatu demi kebudayaan, dan nilai-nilai luhur lainnya yang bermanfaat bagi kemajuan peradaban. Hal tersebut terjadi karena aktivitas para pekerja telah dikondisikan sedemikian rupa oleh pemodal, agar aktivitas tersebut sepenuhnya ber-orientasi kepada tujuan produksi semata.

Kondisi yang diciptakan kapitalis itulah yang membuat pekerja menjadi asing dengan hasil pekerjaannya. Keras dan cepatnya laju produksi yang diciptakan kapitalis secara sistematis tersebut, pada gilirannya nanti akan membuat pekerja tidak lagi mempunyai “penghayatan” terhadap hasil kerjanya. Pekerja akan merasa dirinya hanya bekerja untuk menghasilkan sesuatu yang hanya “dimengerti” oleh pemodal yang mempekerjakannya, sehingga pekerja pun menjadi asing dengan pekerjaannya sendiri.

Alienasi (keterasingan) pekerja tersebut tentunya tidak dipedulikan oleh pemilik modal. Ketidakpedulian ini bersumber dari sudut pandang pemodal yang melihat pekerja hanya sebagai salah satu faktor produksi belaka, sehingga keterasingan yang nantinya menghinggapi pekerja bukan menjadi tanggungjawab yang harus dipikulnya.

Bagi kapitalis, keterasingan yang muncul itu sepenuhnya merupakan urusan buruh. Kalaupun keterasingan tersebut menyebabkan buruh menjadi berkurang produktivitasnya, maka jalan keluar yang dipilih oleh kapitalis adalah dengan memberhentikan buruh yang dihinggapi alienasi itu, lalu menggantinya dengan buruh baru yang lebih produktif. Jalan keluar seperti ini sering dipilih kapitalis, karena kapitalis cenderung memandang buruh tidak sebagai sahabat kerja yang harus dihargai dan dihormati. Kapitalis cenderung memandang buruh hanya sebagai komoditas belaka, atau hanya sebagai makhluk mekanis yang suatu saat bisa diganti bila telah aus dan rusak.

Alasan-alasan munculnya keterasingan-keterasingan yang dilahirkan kapitalisme inilah yang dijadikan dasar bagi Marx untuk meyakinkan kaum proletar dan sosialis untuk bersatu memerangi kapitalisme. Alienasi yang dipastikan Marx bakal menghinggapi pekerja, juga dijadikan dasar bagi Marx untuk membakar semangat para pekerja agar melakukan revolusi.

—Hantu Tengah Membayangi Eropa—

Tidak hanya memberi seruan yang membakar semangat buruh untuk melakukan revolusi, Marx juga meyakinkan kelas pekerja dan penganut sosialisme, bahwa suatu ketika kapitalisme akan hancur dengan sendirinya.

Keyakinan Marx ini didasarkan kepada analisisnya, bahwa pemodal dengan keuntungan yang dimilikinya akan terus memperbanyak jumlah keuntungannya dengan cara terus-menerus memacu proses produksi. Upaya memacu proses produksi ini, ditempuh dengan cara menjadikan laba yang dimiliki kapitalis sebagai modal baru. Lewat laba yang telah berubah jadi modal baru inilah kapitalis akan membeli mesin-mesin dalam jumlah banyak. Mesin-mesin yang banyak tersebut dengan kecanggihannya akan menggantikan buruh, yang pada akhirnya akan berujung kepada peningkatan jumlah pengangguran. Jumlah pengangguran yang tak berimbang dengan angka kebutuhan tenaga kerja tersebut jelas akan dimanfaatkan pemodal untuk mempermainkan upah kerja. Demi perolehan laba, pemodal akan memberikan upah yang kecil.

Kecilnya upah tersebut akan menurunkan daya beli buruh yang nota bene juga anggota masyarakat. Melorotnya daya beli masyarakat ini akan meningkatkan jumlah produk kapitalis jadi tak terbeli. Peningkatan jumlah produk yang tak terbeli ini pada gilirannya akan membuat produk-produk tersebut dari hari ke hari kian menumpuk. Penumpukan produk-produk tersebut, akan diperparah dengan biaya pengoperasian mesin yang harus tetap dikeluarkan oleh pemodal. Pada akhirnya, kondisi itu semua akan membangkrutkan pemodal, dan serta-merta meruntuhkan kapitalisme.

Menurut Marx, pada waktu kelas pemodal mendekati kebangkrutan karena over produksi, maka pada saat itulah waktu yang tepat bagi kaum proletar untuk menghancurkan kelas pemodal, dan merebut kekuasaan yang telah dikendalikan oleh kapitalis.

Dan, kepada kelas pekerja dan kaum sosialis pada eranya, Marx dan Engels meyakinkan bahwa saat yang tepat untuk menghancurkan kapitalisme itu sudah tiba.

Keyakinan Marx dan Engels atas dekatnya saat-saat kehancuran kapitalisme, serta datangnya waktu yang tepat untuk melakukan revolusi tersebut bisa kita endus dari ungkapan mereka dalam kata pembuka buku Communist Manifesto (1848). “Hantu tengah membayangi Eropa; hantu komunisme”, begitulah bunyi ungkapan Marx dan Engels.

Selain meyakinkan kaum sosialis dan proletar bahwa telah tiba saat yang tepat untuk melakukan penghancuran kapitalisme, Marx dan Engels juga meyakinkan juga meyakinkan kaum proletar dan sosialis bahwa kekerasan merupakan satu-satunya cara yang tepat untuk melaksanakan penghancuran itu.

—Masyarakat Tanpa Kelas—

Seusai penghancuran kapitalisme dengan paksa, dan setelah perebutan kekuasaan yang didominasi kapitalis, maka masyarakat akan masuk dalam suatu masa yang disebut masa transisi. Dalam masa ini akan muncul kelas baru, yakni kelas proletar yang tidak hanya menekan-paksa kelas pemodal, tetapi juga bergerak merebut kekuasaan. Dan, tentunya kelas proletar akan menggunakan kekuasaan tersebut untuk mengatur masyarakat serta segenap aspek produksi.

Sesudah itu akan muncul masa diktator proletariat, yakni suatu masa dimana kekuasaan dan semua aspek produksi yang dikuasai kaum proletar dipertahankan dengan cara membentuk partai tunggal yang menjadi satu-satunya jalan sah untuk memasuki ranah kekuasaan—bahkan sangat menentukan kekuasaan—yakni partai komunis. Demi mempertahankan keadaan-keadaan yang telah diraih lewat revolusi kaum proletar tersebut, maka Marx mensyaratkan partai komunis yang dibentuk oleh kaum proletar itu haruslah menjadi partai yang diktator.

Dengan kekuasaan yang sangat dipengaruhi oleh partai komunis yang diktator inilah kaum proletar mengambil-alih segenap aspek produksi, menjalankan pemerintahan, serta menerapkan sistem ekonomi sosialis di dalam suatu negara sosialis ataupun negara komunis.

Pada masa diktator proletariat, sarana-sarana produksi yang telah dikuasai tersebut, diarahkan oleh kaum proletar untuk pemerataan kesejahteraan bersama. Dalam kondisi ini, kelas pekerja tidak lagi mengalami alienasi, karena hasil-hasil kerjanya didedikasikan tidak hanya untuk meraup keuntungan semata, tetapi juga untuk tujuan yang lebih luhur, yakni kesejahteraan bersama atau kesejahteraan masyarakat. Marx berpendapat, dalam kondisi semacam itu para pekerja jauh lebih mengenali hasil kerja mereka. Para pekerja juga jauh memahami mengapa pekerjaan mereka harus dijalankan, untuk apa hasil kerja mereka, dan cita-cita besar apakah yang berada di balik semua aspek produksi yang mereka lakoni.

Selanjutnya, diktator proletariat akan diarahkan menuju sebuah masyarakat yang memiliki tatanan baru. Di dalam tatanan baru itu, kelas-kelas di dalam masyarakat dihapuskan. Di dalam masyarakat yang memiliki tatanan baru tersebut, karena segenap aspek produksi dikuasai secara bersama dan diorientasikan untuk kesejahteraan bersama, maka setiap orang akan dimintai menurut kemampuannya, dan akan diberi menurut kebutuhannya.

Pada akhirnya, ketika masyarakat dengan tatanan baru tersebut tercipta, dan tatanan baru tersebut telah bisa dijalankan dengan baik oleh masyarakat itu, maka perlahan-lahan keberadaan negara ditiadakan. Negara yang telah lenyap itu berganti dengan lahirnya “masyarakat komunis”, atau yang populer di kalangan sosialis sebagai “masyarakat tanpa kelas”. *****

*Oleh : Rosdi Bahtiar Martadi

Negara Dan Kelas Buruh

Negara Dan Kelas Buruh
Kom. Pusat KPO-PRP

kedua hal pok0k tidak akan dapat berjalan tanpa

Kekokohan Kapitalisme, Gagalnya Revolusi, dan Konsep Hegemoni Gramsci

Kekokohan Kapitalisme, Gagalnya Revolusi, dan Konsep Hegemoni Gramsci
James
            ADA berbagai masalah Marxisme, namun semuanya terpusat pada kegagalan Teori Marxis diterapkan dalam kenyataan. Contoh paling kuat, adalah masih Kokohnya mode produksi kapitalis, yang semula dibayangkan oleh Marx pasti akan mengalami krisis akibat kontradiksi internal dan konfliknya dengan politik demokrasi, lantas bakal bangkrut dengan sendirinya. Ia membayangkan penderitaan universal dari kelas-kelas tertindas akan terus mengakumulasi hingga bakal menggulingkan dominasi kelas-kelas berkuasa. Situasi tidak stabil ini akan didahului oleh krisis ekonomi, yang kemudian bakal memaksa kapitalisme digantikan oleh sosialisme. Namun, keniscayaan revolusi proletariat, seperti yang diprediksi Karl Marx, telah gagal diwujudkan, demokrasi kapitalis sekarang malah telah menjadi norma bagi organisasi-organisasi sosial di sebagian besar negara di dunia saat ini.
            Teori Marxis memang punya karakter tidak sabaran. Sejarah telah memberikan
kesempatan yang memadai bagi terpenuhinya prediksi-prediksi Marx, namun semua itu tidak terjadi. Di tahun 1930-an misalnya, dunia mengalami krisis dan bencana ekonomi besar pertama, namun tak satupun revolusi meletus di negara-negara maju. Di Amerika Serikat misalnya, negara yang teknologinya paling maju dan karenanya paling mungkin mengalami revolusi proletariat, ternyata tak ada satu tanda-tanda pun bakal terjadinya revolusi.
            Berangkat dari pertanyaan "bagaimana kapitalisme bisa bertahan hidup dan terus kokoh?", (1) Antonio Gramsci telah menawarkan cara paling menjanjikan Untuk menghidupkan kembali teori Marxis. Untuk menjelaskan tetap bertahannya Mode produksi kapitalis, Antonio Gramsci mengedepankan konsepnya tentang "hegemoni". Tulisan ini bertujuan memaparkan bagaimana konsep tersebut menjelaskan jawaban atas pertanyaan di atas dalam terminologi marxian.
            Untuk mempertahankan Marxisme sebagai teori politik yang masuk akal, Gramsci bukan saja harus memecahkan masalah gagalnya prediksi-prediksi Marx, tapi juga tidak boleh mengingkari aspek-aspek esensial dari filsafat Marxis.
            Oleh banyak Marxis, konsep "Hegemoni" diakui sebagai salah satu jawaban paling menjanjikan terhadap masalah-masalah yang dihadapi Marxisme. Dalam pandangan Gramsci, dominasi dalam hubungan-hubungan produksi dalam masyarakat kapitalis adalah sebuah keniscayaan, namun itu tidak cukup dijadikan kondisi bagi dominasi sosial. Kelas yang dominan secara ekonomis juga memerlukan "hegemoni" untuk bisa berkuasa. Hegemoni adalah dominasi ideologis atas masyarakat. Maksudnya, posisi sebuah ideologi yang disukai oleh kelas dominan disepakati oleh seluruh masyarakat. Kelas-kelas tertindas dibujuk untuk menganut pandangan-pandangan dan nilai-nilai yang konsisten dengan tetap berlanjutnya dominasi ekonomi dan sosial kelas berkuasa. Lewat konsep itu, mungkin ditunjukkan bagaimana kapitalisme dan demokrasi Bisa berdamai dalam kacamata marxian. Itulah sukses terbesar karya Gramsci.
            Aspek terpenting dalam pemikiran tentang hegemoni adalah "persetujuan" (consent). Untuk mencapai hegemoni, kelas yang dominan secara ekonomik harus membangun aliansi-aliansi melalui berbagai kompromi dengan kelas-kelas dan kekuatan-kekuatan sosial lain sehingga ia dimungkinkan memperoleh "kepemimpinan moral dan intelektual". Hal itu terinspirasikan dari pemikiran Lenin yang menekankan pentingnya para buruh tani membentuk aliansi dengan para petani untuk menggulingkan rezim Tsar. Gramsci memperluas konsep itu, bukan saja sebagai strategi yang dianjurkan bagi revolusi proletariat, tapi juga untuk menjelaskan tetap terjaganya masyarakat kapitalis.
            Hegemoni menciptakan hubungan yang lebih kompleks antara dua kelas yang secara fundamental bertentangan. Aliansi-aliansi yang dibangun oleh suatu kelas hegemonik akan terbentuk, dan kompromi-kompromi itu akan membuat kelas-kelas lain memastikan hal tersebut memperoleh "persetujuan aktif" (active consent) dari masyarakat. Gramsci mengunakan istilah "persetujuan aktif" untuk menunjukkan bahwa seseorang, atau kelompok tidaklah pasif dalam penciptaan dan pemeliharaan hegemoni. Aliansi-aliansi itu membutuhkan suatu aspek "nasional-kerakyatan" dari hegemoni kelas dominan. Hanya dengan menarik perhatian sebagian terbesar anggota masyarakat, sebuah kelas bisa memperoleh persetujuan dari seluruh bangsa. Itu juga memperhitungkan pandangan-pandangan demokratik dan kerakyatan yang tumbuh di masyarakat, dan karenanya mencerminkan isu-isu lain yang penting bagi masyarakat tertentu, misalnya ras, gender, lingkungan hidup dan sebagainya.
            Hegemoni juga mengakibatkan terbangunnya satu hubungan baru yang lebih kompleks antara negara dan masyarakat sipil. Hegemoni diciptakan dan dikelola dalam masyarakat sipil. Suatu kelas dominan membentuk sebuah "blok historis" yang mengabungkan hegemoni dalam masyarakat sipil dan dominasi ekonomi. Menurut Marxisme klasik, negara adalah cerminan dari kenyataan ekonomi dalam masyarakat, dan menggunakan perbedaan basis-superstruktur untuk menggambarkan keterikatan sebab-akibat antara keduanya. Tesis Gramsci menantang analogi itu, sebab dalam konsep hegemoni dimungkinkan bagi kelas penguasa untuk juga dipengaruhi oleh kenyataan politik. Dalam pandangan Gramsci, juga dimungkinkan sebuah kelompok yang dominan secara ekonomi gagal mencapai hegemoni. Situasi seperti itu memang jadi, tapi bukan berarti tidak mungkin terjadi. Yang paling sering terjadi bagi sebuah kelas yang dominan secara ekonomik namun tidak hegemonik, adalah kehilangan dominasi ekonominya. Gramsci menunjukkan pentingnya dominasi ekonomi bagi sebuah kelompok hegemonik dalam kutipannya berikut: "sekalipun hegemoni lebih berkarakter etis-politis, ia juga harus ekonomik, harus niscaya didasarkan
oleh fungsi penting yang dijalankan oleh kelompok pemimpin dalam inti aktivitas ekonomi penting ". Jadi, Gramsci membenarkan teori Marxis soal keutamaan basis ekonomi, sambil menambahkan bahwa politik juga punya satu peran yang lebih penting dalam determinasi sosial.
            Konsep hegemoni itu memberikan satu set taktik baru bagi para pemimpin proletariat. Untuk mencapai hegemoni, kaum proletar harus menggelar suatu "perang posisi" (war of position). Di sanalah aliansi kelas dibangun dan dihancurkan, sehingga para pekerja dimungkinkan mencari satu aliansi yang cocok dengan ideologi umum yang disukai kaum proletar. Juga harus terjadi suatu reformasi moral dan ideologis, untuk mengubah (atau menggusur) bias kelas dalam hegemoni yang tengah berlaku. Ideologi adalah kunci, juga "semen" yang mengikat suatu blok-historis dengan memberikan kesamaan dasar bagi anggota-anggotanya. Suatu "perang posisi" adalah sebuah proses yang sangat gradual. Ia juga sangat sulit dan berbahaya. Semisal, untuk membangun suatu aliansi ideologis baru, para pemimpin proletariat harus beraksi dalam aliansi-aliansi borjuis yang ada. Menarik dicatat bahwa Gramsci menjelaskan suatu strategi berbeda yang dijalankan bagi kaum borjuis dalam suatu aliansi yang dibangunnya, yakni apa yang disebutnya " revolusi pasif" (passive revolution). Ini adalah suatu gerakan dari atas, dimana negara memainkan peran paling signifikan dalam revolusi. Masyarakat pada umumnya "pasif", dan hanya memainkan suatu peran marjinal. Gramsci mencontohkan itu dengan Risorgimento, unifikasi Italia. Meskipun massa memang memainkan suatu peran dalam beberapa aspek revolusi tersebut, aktor paling penting di sana adalah para tentara dan monarki Piedmont (Italia Utara).
            Gramsci juga memberikan peran bagi kelompok intelektual dalam suatu revolusi. Ini satu lagi masukan bagi teori Marxis secara keseluruhan, sebab pandangan deterministik dari Marxis-marxis klasik tidak memberi cukup ruang analisis perihal para pemimpin partai atau para intelektual yang aktif berpolitik. Para intelektual yang dimaksudkan Gramsci adalah mereka yang "organik". Artinya, mereka adalah bagian dari kelas yang mereka tampilkan, secara aktual terikat sebagai bagian dari suatu massa "nasional-kerakyatan". Mereka memainkan peran sebagai pemimpin partai, serta memotori reformasi moral dan ideologis yang dibutuhkan bagi suatu "perang posisi".
            Tingkat konsentrasi kekuasaan dalam suatu negara menentukan dibutuhkan tidaknya suatu "perang posisi". Hal itu bisa diilustrasikan oleh perbandingan yang digunakan oleh Gramsci sendiri. Dalam Revolusi Rusia ada suatu "perang gerakan" (war of movement), sebuah peristiwa bersejarah, dimana kekuasaan kelas berkuasa diambil-alih. Lantaran kekuasaan telah terkonsentrasi di tangan rezim Tsar, taktik itu memang paling cocok untuk dijalankan. Suatu "perang gerakan" tidak akan cocok di sebuah negara Barat yang modern, dimana kekuassan telah disebar dan diserapkan ke dalam berbagai hubungan antara negara dan masyarakat sipil. Karena suatu "perang posisi" dibutuhkan lantaran suatu "perang gerakan" tidak menghasilkan suatu hegemoni proletariat, tapi hanya sebuah perebutan kekuasaan negara. Untuk bisa bertahan hidup, suatu rezim harus bergantung pada kekuatan dan paksaan, jika ia tidak dimungkinkan memerintah dengan persetujuan.          Sebagai salah satu contoh hegemoni kelas penguasa, Gramsci menganalisis apa yang disebutnya sebagai Fordisme/Taylorisme di Amerika Serikat tahun 1920-1930-an, yang ditandai oleh pertumbuhan produksi massal dalam mengatasi krisis ekonomi di sana. Produksi ditingkatkan dan diperbaiki dengan  mencopot semua tuntutan-tuntutan intelektual jauh-jauh dari para pekerja dengan memberinya sejumlah tugas individual yang kecil, dan dengan memberi tiap pekerja suatu ganjaran finansial individual. Gramsci mengatakan, "hegemoni dilahirkan di dalam pabrik". Ia memperlihatkan perluasan hegemoni dengan menunjuk etika kerja Protestan dalam mempercepat produksi dan tujuan-tujuan industri.
            Gramsci menyelamatkan Marxisme dari tuduhan "instrumentalisme pasifis, katastrofisme simplistik, dan reduksionisme ekonomistik. Tuduhan-tuduhan itu muncul dari konsep-konsep bahwa negara hanyalah sebuah instrumen dari kelas dominan, bahwa kelas-kelas akan makin terpolarisasi dan saling bertentangan hingga sebuah revolusi yang tak terhindarkan bakal terjadi, dan bahwa semua aspek dari superstruktur politis dan ideologis bisa direduksi ke basis ekonomis. Ketiga konsep itu membahayakan teori Marxis, sebab ketiganya menyuguhkan pandangan yang sangat deterministik atas politik dan masyarakat. Pemikiran tentang hegemoni memberikan aspek sosial dan politik suatu peran yang lebih signifikan dalam Marxisme, begitu pula ilustrasi lebih lanjut mengenai hubungan yang kompleks antara struktur ekonomi dan masyarakat. Oleh sejumlah kalangan, karya Gramsci itu bisa dipandang sebagai suatu "Revolusi Copernican" atas teori Marxis, sebab teorinya tentang hegemoni memberikan suatu visi baru bagi para teoritisi Marxis. Sementara bagi kalangan lainnya, Gramsci memang dipandang hanya mengembangkan sejumlah aspek teoritik yang sudah ada dalam Marxisme. Haruslah diingat bahwa bagi Marx siapa yang disebut sebagai kelas dominan adalah mereka yang juga merupakan "para pemilik sarana penyebarluasan dan reproduksi ide-ide". Hal itu sama saja dengan ide "dominasi ideologis" sehingga konsep hegemoni dari Gramsci hanyalah memperjelas apa yang telah dipaparkan sendiri oleh Marx. Namun hal itu tidak mengecilkan arti penting Gramsci. Kemampuan bagi Marxisme untuk menciptakan suatu masyarakat konsensual adalah lonjakan besar dalam teori Marxis. Dari situlah dimungkinkan menarik jarak antara Marxisme dan rezim-rezim penindas yang diciptakan dengan mengatasnamakannya.
            Hoffman menafsirkan tujuan-tujuan analisis Gramsci untuk mengawinkan Marxisme dan ide politik konsensual. Ia berpendapat bahwa persetujuan dibutuhkan untuk menolong doktrin Marxis dalam praktik agar mampu menghindari contoh-contoh opresif yang dijalankan oleh rezim-rezim Komunis yang dibangun oleh Blok Uni Soviet. Ia juga berusaha memperlihatkan bahwa Gramsci dalam upaya itu. Ia memperlihatkan bahwa ide Gramsci tentang "persetujuan aktif" masih didasarkan pada kekuatan dan paksaan. Hoffman menggunakan satu definisi koersi yang lebih luas. Ia melihar negara sebagai wilayah dimana kelas dominan menjustifikasi dominasinya. Ideologi hegemoni didesakkan pada kehidupan sosial, yang artinya masyarakat dipaksa untuk mengikuti ideologi tersebut. Karenanya kemudian Hoffman berpendapat bahwa "kepemimpinan hegemonik" tidak terpisahkan dari koersi dan peragaan kekuatan. Itu berarti bahwa masih tetap tidak ada ruang bagi persetujuan di bawah suatu pandangan Marxis tentang masyarakat.
            Hoffman tidak mengabaikan ide yang dikemukakan oleh Kolakowski dan kawan-kawan, bahwa hegemoni bergantung pada suatu aliansi antara kelas yang dominan secara ekonomik dan kelas-kelas subordinat. Hegemoni hanya bisa bertahan dalam aliansi seperti itu, dan sebuah aliansi hanya bisa diciptakan dan bertahan bila ada suatu kompromi antara kelas-kelas. Kompromi itulah yang menciptakan "persetujuan aktif" - semua pihak bersedia bersepakat, sebab mereka melihatnya demi kepentingan bersama.
            Saat menilik skema besar teori Marxis, Gramsci menandai suatu kecenderungan dan tradisi baru dalam teori Marxis di awal abad ke-20, namun akar dari doktrinnya masih tertanam mantap di ranah Marxis. Masih bisa dipertanyakan apakah pemikiran-pemikiran Gramsci memberikan suatu tempat yang kokoh bagi persetujuan dalam teori Marxis, namun itu bisa terjawab jika menilik hegemoni sebagaimana yang ada dalam aliansi kelas-kelas. Marx melicinkan jalan menuju analisis serupa itu, namun menjabarkan bahwa kombinasi antara mode produksi kapitalist dan suatu demokrasi parlementer sebagai suatu yang tidak stabil dan transisional. Gramsci menggunakan premis-premis Marxis, dan menginvestigasi superstruktur politik dan sosial. Ia menemukan bahwa bisa saja kapitalisme bertahan hidup dengan demokrasi, yakni melalui politik konsensual. Investigasi itu adalah responnya atas masalah-masalah determinisme kaum Marxis, dan juga turut memberi dasar yang kokoh bagi Marxisme.***

Download Buletin

Populer Post

 
Hak Cipta : Komite Pusat - Gerakan Perjuangan Mahasiswa Demokratik SGMK Kota Parepare | ' | AR. Ame' FB
Copyright © 2013. Gerakan Perjuangan Mahasiswa Demokratik Parepare - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by RED LEFT