Penindasan Ajari Perempuan Melawan
Oleh: Alexsander Yandra, S.IP, M.Si,
Dosen dan Aktivis Organisasi Masyarakat Korp Hang Tuah
Dalam sejarah gerakan feminis, perjuangan kaum perempuan untuk mem
peroleh kesetaraan di segala bidang telah dilakukan pada akhir abad
ke-19. Kaum perempuan mencermati bahwa ada ketidak setaraan posisi
antara pe rempuan dan laki-laki. Perempuan menjadi obyek dalam proses
kultural, sosial dan politik.
Proses kultural budaya patriakhi telah memposisikan perem puan dalam
sektor domestik, sementara itu secara struktural berada di bawah
kedudukan laki-laki, begitu pula hak-hak politiknya ditentukan oleh
laki-laki.
Di Amerika Serikat, perempuan memperoleh hak-hak politik dalam pemilu
pada tahun 1950-an, setelah hampir seratus lima puluh tahun merdeka.
Sedangkan Indonesia hak-hak politik perempuan baru diatur setelah
reformasi atau dalam dekade tahun 2000. Hal ini terlihat dari
disahkannya Undang-undang pemilu yang menyertai aspirasi kaum perempuan
pada pasal 65 ayat (1) UU Nomor 12 Tahun 2003 yang mengatur keterwakilan
perempuan sekurang-kurangnya 30%.
Mengutip pendapat Domi Nelli (2002: 97), menyebutkan bahwa ada yang
sama dari gerakan perempuan. Yakni (1) menjunjung hak azasi wanita untuk
terbebas dari penindasan; (2) memberi kesempatan untuk berbicara atas
nama diri dan berdasarkan suaranya sendiri; (3) mendengarkan apa yang
seharusnya dinyatakan wanita; (4) menciptakan gaya hidup alternatif
disini dan saat ini; (5) memetakan solusi-solusi kolektif yang
menghargai individualitas dan keunikan setiap wanita; serta (6) meng
hargai kontribusinya.
Pendapat itu dipahami karena pada awalnya gerakan ini memang
diperlukan pada masa itu, dimana ada masa-masa pemasungan terhadap
kebebasan perempuan. Sejarah dunia menunjukkan bahwa secara umum kaum
perempuan (feminin) merasa dirugikan dalam semua bidang dan
dinomorduakan oleh kaum laki-laki (maskulin), khususnya dalam masya
rakat yang sifatnya patriakhi.
Gerakan perempuan perlu kita apresiasi, karena mencoba melakukan
suatu emansipasi terhadap dominasi patriakhi, yang cendrung melakukan
diskriminasi terhadap peran perempuan dari berbagai bidang. Realitas
tersebut mengajari perempuan untuk melawan terhadap sistem yang
cenderung tidak demokratis dan pengabaian terhadap hak-hak perempuan.
Sumber: TRIBUNPEKANBARU.COM
" />
" />
" />
" />
" />
" />
" />
" />
Home »
Wanita Berlawan
» Penindasan Ajari Perempuan Melawan
Penindasan Ajari Perempuan Melawan
Posted by Redaksi
Posted on 12.44
with No comments



0 komentar:
Posting Komentar