Dunia yang Bergejolak dan Tugas Kita Hari Ini
Berikut ini adalah dokumen diskusi situasi
internasional yang dipersiapkan untuk Sekolah Marxis Militan pada 16-17
Agustus 2013, yang memberikan gambaran perspektif politik dunia.
Dunia
sedang memasuki sebuah periode baru, yakni periode yang dipenuhi dengan
revolusi – dan juga konter-revolusi – yang keduanya saling susul menyusul.
Inilah kenyataan yang sedang kita hadapi hari ini. Di bulan Juni dan Juli
saja, dalam waktu yang sangat singkat, kita saksikan gerakan massa yang besar
bertubi-tubi, awalnya di Turki, lalu Brazil, Portugal, dan kemudian lagi di
Mesir. Hal seperti ini tidak pernah terlihat dalam 50 tahun terakhir, dan
mungkin tidak pernah terlihat dalam sejarah kapitalisme.
Yang
menjadi landasan bagi situasi yang meledak-ledak ini adalah krisis
kapitalisme yang diawali dengan krisis finansial pada 2007. Enam tahun sudah
berlalu dan krisis ini belum juga terselesaikan, dan justru semakin mendalam
dan meluas. Sudah menjadi takdir dari sistem ekonomi kapitalisme kalau ia
akan selalu mengalami siklus boom and bust, yakni kenaikan ekonomi
yang lalu disusul resesi ekonomi. Krisis overproduksi adalah nama permainan
ini.
Tetapi
kali ini krisis kapitalisme yang sedang kita lalui bukanlah krisis siklus boom
and bust yang normal. Krisis kali ini adalah sebuah krisis organik, yang
berbeda dari krisis-krisis sebelumnya. Satu faktor yang membedakan krisis ini
dari krisis-krisis sebelumnya adalah globalisasi yang sudah begitu merasuk ke
semua sendi perekonomian dan semua sudut bumi. Marx dan Engels sejak 1848
telah menggambarkan kapitalisme sebagai sistem ekonomi yang mengglobal, yang
selalu ingin “bersarang dimana-mana, bertempat dimana-mana, mengadakan hubungan-hubungan
dimana-mana”. Namun Marx dan Engels mungkin tidak pernah memimpikan
kapitalisme yang begitu mengglobal seperti hari ini. Kapital atau modal sudah
bersarang di seluruh pelosok dunia.
Ketika Uni
Soviet jatuh pada 1991, para kapitalis bersorak-sorai dan mengumumkan
kemenangannya. Ofensif ideologis dilancarkan dengan membabi-buta untuk
membuktikan bahwa Marxisme sudah tidak lagi relevan. Ratusan ribu profesor,
akademisi, dan pengamat politik dikerahkan untuk menggempur Marxisme dari
berbagai arah, dari akademisi yang jelas-jelas anti-Marxis, sampai yang
berpura-pura Marxis tetapi ingin memperkenalkan berbagai “koreksi”, yakni
makhluk-makhluk Marxis Akademik, Neo-Marxis, Post-Marxis, dan berbagai
Marxian-Marxian lainnya. Sementara, Partai-partai Komunis “Stalinis” di
hampir semua negara hancur luluh lantak, secara organisasional maupun
ideologis. Marxisme ala “Stalinis” mereka yang sempit dan dangkal tidak bisa
memahami apapun.
Melemahnya
gerakan Marxis sedunia juga punya landasan material yang nyata, yakni boom
ekonomi kapitalis pada 2 dekade selanjutnya. Jatuhnya Uni Soviet berarti
masuknya populasi lebih dari 1,3 milyar ke dalam sistem kapitalisme. Walaupun
China tidak runtuh seperti Uni Soviet, tetapi pada periode yang sama para
birokrat Partai Komunis China membuka negeri ini ke kapitalisme.
Selain
itu, runtuhnya Uni Soviet juga mendorong banyak negeri eks-kolonial lainnya –
yang sebelumnya cenderung menutup diri dari kapitalisme Barat dan bersandar
pada poros Timur – untuk membuka dirinya ke pasar kapitalisme dunia. India,
dengan populasi lebih dari 900 juta pada 1991, setelah jatuhnya Uni Soviet
segera melakukan reforma liberalisasi ekonomi, yang mengikat ekonominya pada
kapitalisme dunia.
Masuknya
ke dalam kapitalisme lebih dari 2 milyar orang, dengan daratan yang luasnya
lebih dari separuh dunia, memberikan kapitalisme ruang yang sangat besar
untuk tumbuh. Ini berarti ada 2 milyar lebih rakyat pekerja yang bisa
ditindas, lebih banyak nilai-lebih yang bisa diperas, dan pasar yang sangat
luas untuk komoditi dan kapital. Inilah landasan bagi perkembangan ekonomi
kapitalisme selama dua dekade terakhir sebelum dihantam krisis pada 2007.
Globalisasi mencapai tingkat yang tak pernah terlihat sebelumnya. India dan
China menjadi pabrik dunia yang menyediakan tenaga kerja murah dan super
profit kepada kapitalisme.
Namun apa
yang awalnya menjadi kekuatan pendorong kapitalisme sekarang justru menjadi
kutukan yang menyeret kapitalisme ke krisis yang sangat dalam. Kontradiksi
dasar kapitalisme, yakni over-produksi, bukannya terselesaikan tetapi justru
menjadi semakin dalam dan luas. Masuknya Rusia, China, India, dan banyak
negara eks-koloni lainnya ke dalam pasar dunia hanya menunda krisis. Pada
saat yang sama, kapitalisme menggunakan sistem kredit dengan skala yang tak
terbayangkan untuk terus menunda krisis kapitalisme. Ketika rakyat pekerja
terlalu miskin untuk bisa membeli barang-barang yang mereka sendiri produksi,
satu-satunya cara adalah memberikan kredit kepada konsumen agar ekonomi bisa
terus berjalan. Tetapi kredit pada akhirnya harus dibayar, dan dengan bunga
pula. Di AS, rasio hutang dan pendapatan pribadi dari tiap keluarga adalah
77% pada 1990, dan pada 2007 ini telah menjadi 127%. Kredit perumahan
meningkat dari 46% GDP pada 1990an, menjadi 73% GDP pada 2008, yakni mencapai
10.5 trilyun dolar AS. Hutang swasta pada 1981 adalah 123% GDP, dan pada 2008
telah mencapai 290% GDP. Seperti pecandu, kapitalisme menggunakan kredit
untuk gali lubang tutup lubang, tetapi lubangnya menjadi semakin besar.
Sekarang kapitalisme menemukan dirinya di dalam lubang yang begitu dalam
sehingga tidak mampu keluar darinya.
Lenin
pernah mengatakan bahwa tidak ada krisis akhir kapitalisme. Kapitalisme akan
selalu mampu keluar dari bahkan krisis yang paling buruk. Akan tetapi, pernyataan
umum ini tidak menjawab hal apapun yang konkrit dan spesifik mengenai situasi
hari ini. Ada dua pertanyaan yang harus kita kemukakan. Pertama, berapa lama
yang dibutuhkan oleh kapitalis untuk keluar dari krisis ini? Kedua, apa
ongkos yang harus dibayarnya? Pada 1930an, ketika kapitalisme mengalami
krisis terburuknya pada periode tersebut, ia dapat keluar dari krisis ini
setelah melewati Perang Dunia Kedua, dan kita tahu apa ongkos yang harus
dibayar oleh ratusan juta rakyat pekerja dan bagaimana Perang Dunia tersebut
mengubah seluruh tatanan ekonomi dan politik dunia. Untuk sekarang, Perang
Dunia tidak ada di agenda sama sekali, dan kapitalisme harus menggunakan cara
lain untuk keluar dari krisis organik ini.
Sejumlah
ekonom mengatakan bahwa dibutuhkan 20 tahun untuk keluar dari krisis ini,
yakni 20 tahun kebijakan penghematan dimana taraf hidup rakyat pekerja akan
terus jatuh. Beberapa tahun terakhir ini, para ekonom, pengamat ekonomi, dan
politisi telah mempersiapkan rakyat pekerja untuk masa depan yang akan
datang. Dengan berisik dan tak henti-hentinya – di layar televisi dan di
lembar koran – mereka serentak mengatakan: tidak akan ada lagi “makan siang
gratis” (free lunch), tidak akan ada lagi “hak-hak istimewa” (entitlement).
Menurut mereka, jaman keemasan kapitalisme di negeri-negeri maju -- yang
memberikan kesehatan gratis, pendidikan gratis, pensiun yang layak, jam kerja
yang pendek, liburan yang panjang, dan berbagai jaminan sosial lainnya bagi
rakyat luas – adalah sebuah kesalahan fatal yang berkontribusi pada krisis
hari ini. Jaman keemasan ini harus diakhiri. Kita sedang memasuki periode
penghematan, periode pemangkasan anggaran-anggaran sosial dan
pencapaian-pencapaian yang telah dimenangkan oleh buruh.
Akan
dibutuhkan waktu yang panjang untuk menyelesaikan krisis ini, dan cara
penyelesaiannya adalah penghancuran pencapaian-pencapaian kesejahteraan buruh
-- terutama di negara-negara maju. Ini adalah resep untuk menajamnya
perjuangan kelas. Program penghematan ini akan menciptakan sebuah kesadaran
yang baru di antara rakyat pekerja. Tidak hanya rakyat pekerja di
negeri-negeri maju saja – dimana program penghematan sedang gencar
dicanangkan – tetapi juga seluruh dunia. Selama 50 tahun terakhir, pencapaian
kesejahteraan buruh Eropa dan AS dijadikan contoh keberhasilan sistem
kapitalisme. Rakyat pekerja di negeri-negeri berkembang dan terbelakang
diberikan harapan kalau mereka juga akan dapat mencapai kesejahteraan seperti
saudara-saudara mereka di Eropa dan AS, bahwa kapitalisme akan dapat membawa
Indonesia, India, China, Bangladesh ke tingkatan kemakmuran Eropa dan AS.
Namun kenyataannya hari ini justru para ahli ekonomi mengatakan bahwa tingkat
kemakmuran buruh Eropa adalah sebuah kekeliruan, bahwa mereka hidup terlalu
makmur dan nyaman. Para buruh Eropa dan AS sekarang diharapkan untuk bekerja
seperti buruh-buruh di China, dengan jam kerja yang panjang, gaji yang
rendah, tanpa jaminan keamanan, tanpa pensiun layak, dan tanpa masa depan.
Ini juga akan menggoncang kesadaran rakyat pekerja di negeri-negeri Dunia
Ketiga, karena tidak ada lagi harapan perbaikan di bawah sistem kapitalisme,
tidak untuk mereka, tidak juga untuk anak-anak dan cucu-cucu mereka.
Dari Turki Sampai Brasil
Tidak ada
yang menyangka kalau akan terjadi ledakan insureksioner yang begitu besar di
Turki tahun ini. Turki adalah salah satu negeri yang ekonominya tumbuh pesat
ketika perekonomian dunia tersendat-sendat. Ia tumbuh rata-rata 8.5% selama 3
tahun terakhir. Kalau kita berpandangan empirik – yakni hanya melihat fakta
di permukaan – maka semestinya Turki adalah negeri yang damai dan stabil.
Namun kita adalah Marxis. Kita melihat proses yang ada di bawah permukaan.
Boom kapitalisme hanya menutupi kontradiksi yang ada di dalam masyarakat,
tetapi tidak menyingkirkannya sama sekali. Buah dari pertumbuhan ekonomi ini
hanya dinikmati oleh segelintir orang, dan ini menciptakan jurang yang
semakin besar antara yang kaya dan yang miskin.
Dalam
kata-kata Marx, “Oleh karenanya akumulasi kekayaan di satu kutub adalahpada
saat yang sama akumulasi kesengsaraan, penderitaan dari kerja perbudakan,
kebodohan, brutalitas, degradasi mental, di kutub yang berlawanan, yakni di
sisi kelas yang memproduksi produknya sendiri dalam bentuk kapital.”
(Kapital, Vol 1.)
Inilah
basis dari ledakan-ledakan sosial yang terjadi di Turki, dan lalu di Brasil
tidak lama kemudian. Kedua negeri ini sebelumnya diusung sebagai model
pertumbuhan ekonomi dan kestabilan politik dan sosial. Sekarang, semuanya
telah berubah menjadi kebalikannya.
Di Turki,
ini diawali oleh demonstrasi kecil oleh sekelompok aktivis pencinta
lingkungan hidup, yang menentang digusurnya Taman Gezi untuk pembangunan mal.
Ini adalah demo kecil yang biasa terjadi, dan biasa juga dibubarkan oleh
polisi. Biasanya orang tidak akan menggubris tindakan kasar yang dilakukan
oleh polisi untuk membubarkan segelintir aktivis. Namun kali ini ada sesuatu
yang berbeda. Di bawah permukaan masyarakat yang tenang, ada kegusaran dan
keresahan yang telah menumpuk, yang datang dari berbagai alasan: pertumbuhan
ekonomi yang tidak merata dan hanya dinikmati segelintir orang, terutama
kroni-kroni di seputar presiden Erdogan dan partainya; jurang yang semakin
dalam antara yang kaya dan miskin; gelombang revolusi Arab yang terjadi di
sekitar Turki; krisis ekonomi dunia yang berkepanjangan; dan kemuakan akan
berbagai kecongkakan, skandal, korupsi, dan tingkah laku semena-mena para
elit. Semua ini meledak dan muncul ke permukaan lewat insiden kecil di Taman
Gezi. Bila tidak ada insiden di Taman Gezi, akan ada insiden lainnya yang
akan menjadi pemerciknya. Ini hanya masalah waktu.
Skala
perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Turki selama 3 minggu bulan Juni lalu
sungguh luar biasa. Ini bisa dilihat dari jumlah gas air mata yang
ditembakkan oleh polisi dalam kurun waktu 3 minggu tersebut, yakni 130.000
tabung gas air mata. Ini berarti setiap jam polisi menembakkan 260 tabung gas
air mata. Udara di kota Istanbul dan puluhan lainnya pekat dengan gas air
mata.
Tidak lama
kemudian, rakyat Brazil dalam jumlah jutaan turun di lebih dari 100 kota.
Mereka menentang dinaikkannya harga karcis bis. Yang terjadi di Brazil bahkan
mempunyai signifikansi yang lebih besar. Di Brazil ada Partai Buruh (PT) yang
memiliki pengaruh besar, dengan ribuan anggota perwakilan rakyat di berbagai
tingkatan pemerintah. Partai Buruh Brazil telah memenangkan pemilihan
presiden 3 kali berturut-turut, 2 periode dari 2002-2010 oleh Lula, dan 2010
hingga sekarang oleh Dilma. Selama sepuluh tahun terakhir, Partai Buruh
memiliki tingkat popularitas yang tinggi. Di bawah kepresidenan Lula, yang
adalah ketua Serikat Buruh Metal, buruh Brazil memenangkan reforma-reforma
yang besar. Selain kemenangan materiil, buruh Brazil juga meraih kemenangan
moral. Untuk pertama kalinya, seorang buruh menjadi Presiden Brazil dan ini
merupakan kebanggaan yang teramat besar. Partai Buruh Brazil dilihat sebagai
model dan inspirasi bagi buruh-buruh di banyak negeri lain, termasuk juga
buruh-buruh Serikat Pekerja Metal di Indonesia (FSPMI).
Akan
tetapi, selama 10 tahun terakhir, Lula dan Partai Buruh Brazil dapat
memberikan banyak reforma kepada buruh karena pada saat itu ekonomi Brazil
relatif tumbuh pesat akibat permintaan bahan mentah dan produk pertanian dari
China. China adalah mitra dagang terbesar Brazil. Namun serupa dengan Turki,
pertumbuhan ekonomi ini tidak merata. Mayoritas besar profit dikantungi oleh
kapitalis Brazil. Kesenjangan ekonomi antara yang kaya dan miskin sangatlah
besar. Koefisien Gini (indikator kesenjangan ekonomi, dimana angka 0 berarti
kesetaraan penuh dan 100 berarti ketidaksetaraan penuh) di Brazil adalah 54.7
sementara di Indonesia 34.0. Kesenjangan ekonomi di Brazil jauh lebih besar
dibandingkan Indonesia.
Sementara
Partai Buruh Brazil telah melakukan kebijakan kolaborasi kelas dengan
partai-partai borjuasi lainnya, dan mulai bergerak dari reforma ke konter
reforma. Kenaikan harga karcis bis di kota Sao Paulo yang menjadi pemicu
ledakan massa baru-baru ini adalah salah satu konter reforma ini.
Kenyataannya adalah ini, selama Partai Buruh Brazil tidak ingin mendobrak
batas-batas kapitalisme dan terus ingin berfungsi dalam kerangka sistem
pasar, maka ia akan menjadi budak dari logika kapitalisme. Lula dan Dilma
sebenarnya mewakili sayap reformis konservatif di dalam tubuh Partai Buruh,
yang sudah tidak punya niat sama sekali untuk menggantikan kapitalisme dengan
sosialisme, dan oleh karenanya mereka -- sadar atau tidak sadar -- telah
menjadi pelayan modal. Lama berkuasa, sebagian besar jajaran kepemimpinan
Partai Buruh Brazil dipenuhi dengan elit-elit politik yang sudah tidak lagi
peka pada situasi rakyat pekerja, terutama kaum muda. Sementara situasi
ekonomi Brazil semakin memburuk. Pertumbuhan ekonomi 7,5% pada 2010 menukik
tajam menjadi 0,9% pada 2012. Penyebabnya sangat sederhana. Kalau AS dan
Eropa tidak mengkonsumsi akibat krisis mereka, maka China tidak akan
berproduksi. Kalau China tidak berproduksi, maka permintaan atas bahan mentah
Brasil menurun.
Bagi
banyak pengamat politik, dan bahkan banyak orang-orang Kiri, apa yang terjadi
di Brasil adalah seperti petir di siang bolong. Tetapi tidak bagi kaum
Marxis. Yang terjadi di Brasil adalah bagian dari proses radikalisasi massa
di seluruh dunia. Tidak ada satupun rejim yang stabil, bahkan rejim yang
dipimpin oleh Partai Buruh sekalipun. Pada tahun 2012, tingkat pemogokan di
Brasil adalah tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Ini sendiri sudah
menunjukkan keresahan kaum buruh terhadap pemerintahan PT.
Keresahan
ini tumpah ruah pada bulan Juni, dimana jutaan rakyat Brasil turun ke jalan
dan bahkan tidak lagi menggubris turnamen sepak bola Confederation Cup yang
terjadi berbarengan. Rakyat luas lebih tertarik dengan apa yang terjadi di
jalan-jalan ketimbang di rumput hijau lapangan sepak bola. Di negeri dimana
sepak bola mengalir pekat di dalam darah setiap orang, ini sungguh adalah
revolusi. Pada kenyataannya, rakyat Brasil meluapkan kemarahannya juga
terhadap penghambur-hamburan uang dan skandal korupsi dalam pembangunan
stadium-stadium sepak bola untuk Confederation Cup 2013 dan Piala Dunia 2014.
FIFA menuntut standar yang sangat tinggi, yang berarti stadium-stadium
multi-milyar dolar di tengah kemiskinan mayoritas rakyat. Rakyat Brasil
mencintai sepak bola mereka. Tetapi sepak bola hari ini adalah bisnis besar
kapitalis. Kita harus menyadari bahwa ini bukan masalah perut saja, tetapi
juga kegeraman rakyat atas korupsi dan skandal, atas kecongkakan para elit,
atas tindakan semena-mena dari yang berkuasa.
Revolusi Mesir Babak Kedua
Kalau
insureksi revolusioner di Turki dan Brasil sudah begitu mengejutkan bagi
banyak orang, ini lalu disusul dengan cepat oleh babak kedua dari Revolusi
Mesir. Dua tahun yang lalu, Revolusi Arab mengguncang dunia. Hosni Mubarak
ditumbangkan oleh gerakan rakyat revolusioner. Namun, karena tidak adanya
kepemimpinan revolusioner, Ikhwanul Muslimin berhasil membajak Revolusi ini
dan naik ke tampuk kekuasaan. Banyak orang yang lalu mengira ini adalah akhir
dari Revolusi Mesir. Apa yang awalnya Musim Semi Arab telah menjadi Musim
Dingin Arab, demikian ujar banyak orang.
Tidak
sedikit Kiri yang lalu menjadi skeptis terhadap rakyat Mesir dan mencibir
Revolusi ini. Namun Kiri-kiri setengah matang ini hanya dapat melihat pantat
sejarah saja, dan tampaknya mereka punya sedikit obsesi dengan bagian tubuh
ini. Mereka tidak memahami dialektika revolusi. Sedari awal kaum Marxis IMT
telah mengatakan bahwa rejim IM dan Morsi ini adalah rejim krisis, yang tidak
akan dapat bertahan lama. Ilusi rakyat terhadap IM – terutama dari lapisan
terbelakang dari rakyat Mesir -- akan segera punah ketika mereka menyadari
bahwa IM tidak lain adalah partainya kaum borjuasi berjenggot, bahwa IM tidak
akan dapat bisa menyelesaikan masalah roti dan pekerjaan. Kaum Marxis IMT
menyatakan dengan tegas bahwa proses Revolusi Mesir belumlah selesai dan akan
ada ledakan yang menyusul, dan ledakan ini bahkan akan lebih besar dalam
skalanya.
Hanya
dalam satu tahun, pemerintahan Morsi ditumbangkan oleh 17 juta rakyat yang
turun ke jalan-jalan di seluruh Mesir. Jutaan yang memberikan suaranya kepada
IM dan Morsi tahun lalu sekarang berbalik menentang mereka. Rakyat mengepung
dan menyegel gedung-gedung pemerintahan, dan menaruh tanda yang bertuliskan
“Disegel atas perintah rakyat revolusioner”. Kekuasaan sebenarnya sudah ada
di tangan rakyat pekerja Mesir, tetapi mereka tidak punya kepemimpinan yang sadar
akan ini dan dapat merebut kekuasaan ini. Para pemimpin kelompok Tamarod --
yakni kelompok yang mengorganisir gerakan ini -- adalah borjuis-borjuis kecil
yang tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
Sementara,
Militer Mesir, setelah mengetahui bahwa Morsi dan IM secara de fakto
sudah tidak lagi punya kekuasaan, segera bergerak untuk menyelamatkan seluruh
situasi. Kalau mereka biarkan Morsi yang keras kepala untuk terus bercokol,
maka kemarahan rakyat bisa menyapu bersih seluruh kekuasaan kapitalis dan
militer di Mesir.
Bagi kelas
penguasa, penumbangan Morsi lewat politik jalanan adalah preseden yang sangat
buruk bagi demokrasi borjuasi. Morsi dan IM dipilih oleh proses pemilu yang
sudah disahkan oleh seluruh kapitalis dunia sebagai pemilu yang demokratis.
Ketika rakyat pekerja lalu turun ke jalan-jalan dalam jumlah jutaan dan
menyeret Morsi dan IM keluar dari istana mereka, ini -- menurut mereka --
adalah pelanggaran kekeramatan demokrasi. Kalau ini dapat terjadi di Mesir,
apa yang mencegah ini dapat terjadi di negara-negara demokrasi lainnya?
Oleh
karenanya media kapitalis segera mencap penumbangan Morsi sebagai aksi kudeta
yang tidak demokratis. Pesan yang ingin mereka sampaikan kepada rakyat
pekerja sedunia adalah “Janganlah mencontoh rakyat Mesir”. Yang menyedihkan
adalah tidak sedikit Kiri yang menelan bulat-bulat argumen “kudeta” ini, dan
mengkerdilkan 17 juta rakyat Mesir yang turun ke jalan sebagai detil kecil
yang tidak penting.
Krisis Eropa
Krisis
kali ini menghantam pusat kapitalisme di Eropa dan AS. In bukan krisis
seperti dulu-dulu dimana yang terimbas adalah negeri-negeri kapitalis kecil,
seperti krisis 1997-98 di Asia dan 2001 di Argentina. Terlebih lagi ini
adalah krisis yang mendunia, dimana tidak ada satupun negeri yang luput
darinya. Globalisasi telah memanifestasikan dirinya dalam krisis global
kapitalisme.
Sekarang,
krisis Uni Eropa terrefleksikan dan terkonsentrasikan secara penuh di Yunani,
sebuah negeri kecil berpenduduk 11 juta. Sungguh ini adalah ekspresi nyata
dari globalisasi. Mata uang bersama Euro mengikat nasib seluruh Uni Eropa dan
Yunani bersama. Bila Yunani jatuh, maka ia akan dapat menyeret seluruh Uni
Eropa bersamanya. Oleh karenanya semua kapitalis dunia berusaha keras
menyelamatkan Yunani. Dalam 3 tahun terakhir, IMF, Komisi Uni Eropa (EC), dan
Bank Sentral Eropa (ECB) telah memompa sekitar 200 milyar dolar AS, yakni
sekitar 75% dari total GDP Yunani.
Mengapa
nasib Uni Eropa tergantung pada nasib Yunani? Ini karena Yunani memiliki
hutang sebesar 530 milyar dolar AS kepada bank-bank besar dan
institusi-institusi finansial di hampir seluruh dunia. Bila Yunani tidak
mampu membayar hutang ini beserta bunganya, maka bank dan institusi finansial
dunia akan mengalami kerugian besar dan ini akan berarti satu pukulan lagi
bagi perekonomian dunia yang sudah tersendat-sendat. Bank-bank dan
institusi-institusi finansial tersebut bisa bangkrut dan runtuh.
Tidak
hanya itu saja. Bila Yunani keluar dari Euro, ini akan menghancurkan
kepercayaan pasar terhadap mata uang Euro dan perekonomian Uni Eropa. Bila
Yunani dapat keluar, apa yang mencegah negeri-negeri lain yang juga mengalami
krisis untuk keluar dari Euro? Bila Yunani menyatakan bangkrut dan tidak
membayar hutang-hutangnya, apa yang mencegah negeri-negeri lain yang juga
berhutang besar untuk menyatakan bangkrut dan mangkir dalam hutangnya? Di
belakang Yunani mengantri Italia (total hutang $2700 milyar), Spanyol ($2540
milyar), dan Portugal ($530 milyar). Prancis ($5610 milyar) tidak jauh
darinya.
Akan
tetapi, kelas penguasa tidak bisa setuju bagaimana menyelamatkan Yunani.
Lebih tepatnya mereka tidak bisa setuju siapa yang harus mengeluarkan uang
untuk mem-bailout Yunani. Semua mata menuju ke Jerman, ekonomi EU yang
terbesar, untuk mengeluarkan uang ini. Tetapi Merkel mengatakan: “Nein!”
(Tidak!), karena bila Jerman yang menanggung beban bailout Yunani ini
berarti Jerman sendiri harus melakukan program pemangkasan di negerinya
sendiri. Ini akan mengancam popularitas Merkel dan partainya, dan memicu
krisis sosial di Jerman yang merupakan pusat dari Uni Eropa. Terlebih lagi,
kalau hari ini Merkel memberi uang pada Yunani, maka esok harinya akan ada
ketukan pintu dari Spanyol, Italia, dan Portugal, “Mana bagian kami?’
Troika
IMF, ECB, dan EU menuntut agar pemerintahan Yunani melakukan program
pemangkasan besar-besaran. Gaji rakyat pekerja yang katanya terlalu tinggi
harus diturunkan. Umur pensiun dinaikkan. Namun, apa lagi yang bisa diperas
dari rakyat pekerja Yunani? Tingkat pengangguran sudah mencapai 27,6%. Lebih
dari separuh kaum muda di bawah 25 menganggur. Tingkat bunuh diri melonjak
tinggi, dan mayoritas mengakhiri hidupnya karena tekanan ekonomi yang sudah
tidak tertanggungkan lagi. Uang pensiun sudah dipotong sampai 20%. Gaji
pekerja sudah terpangkas hampir 50%. Yunani, yang merupakan pusat kebudayaan
umat manusia darimana demokrasi dan filsuf-filsuf besar lahir, telah
bergabung dengan jajaran Dunia Ketiga.
Inilah
masa depan yang sedang menanti negeri-negeri Eropa lainnya, dan juga AS.
Semua negeri ini sedang bergerak ke arah sana, dengan tempo yang berbeda-beda
tetapi arahnya jelas. Satu-satunya jalan keluar dari krisis ini adalah dengan
menyerang taraf hidup kaum buruh. Tetapi usaha untuk keluar dari krisis
ekonomi akan menyebabkan ketidakstabilan politik dan sosial. Rakyat pekerja tidak
akan diam saja selamanya ketika kehidupan mereka diporak-poranda. Ada ambang
batas kesabaran rakyat. Di Yunani sendiri, sudah terjadi 29 kali pemogokan
umum nasional.
Di sini
kita sentuh sedikit mengenai pemogokan umum. Yunani telah menunjukkan batasan
dari pemogokan umum. 29 kali pemogokan umum 24-jam, dan apa yang sudah
dicapai? Tidak ada sama sekali. Justru sebaliknya, pemogokan umum di Yunani
telah menjadi taktik yang reaksioner, yang digunakan oleh para pemimpin buruh
reformis sebagai katup pengaman untuk melepaskan amarah rakyat. Sebagai kaum
Marxis, kita tidak memuja-muja pemogokan umum sebagai sesuatu yang sakral,
yang keramat, yang akan dapat menyelesaikan segala sesuatu hal. Pemogokan
umum adalah sebuah senjata, yang efektif di satu waktu tertentu, tetapi dapat
menjadi tidak-efektif dan bahkan konter-produktif di waktu yang lain. Kita
kaum Marxis mendukung pemogokan umum karena ia memberikan kepercayaan diri
kepada kaum buruh. Ia memberikan gambaran nyata kepada kaum buruh akan
kekuatan mereka sebagai sebuah kelas yang sesungguhnya menggerakkan
masyarakat. Namun pemogokan umum hanyalah sebuah tahapan dari proses
pembangunan kesadaran kelas buruh, yakni menuju ke perebutan kekuasaan. Yang
dibutuhkan sekarang di Yunani bukanlah satu lagi pemogokan umum 24-jam,
tetapi pemogokan umum tanpa-batas dengan persiapan perebutan kekuasaan.
Disinilah para pemimpin buruh reformis ini menjadi penghambat. Ketika situasi
sudah pra-revolusioner, mereka tidak mampu memberikan kepemimpinan
revolusioner sama sekali.
Periode Bergejolak Berkepanjangan
Tidak
cukup bagi kita untuk hanya menyatakan bahwa ada radikalisasi, bahwa ada
revolusi di sana dan di situ, bahwa ada kegeraman rakyat yang akan membawa
ledakan-ledakan. Kenyataannya adalah bahwa tidak ada kepemimpinan revolusioner
– yakni partai yang setara dengan Partai Bolsheviknya Lenin – yang mampu
membawa buruh ke gerbang kemenangan. Ini merupakan faktor subjektif yang
menentukan.
Tidak
adanya kepemimpinan revolusioner berarti bahwa proses revolusi dunia ini akan
berkepanjangan, dan juga akan mengambil berbagai bentuk yang “aneh”. Ada
tekanan besar di dalam masyarakat, dan tekanan masif ini tidak bisa menunggu
saluran yang tepat. Rakyat tidak bisa menunggu datangnya Partai Bolshevik.
Mereka akan mengekspresikan keresahan mereka dengan cara apapun. Gerakan Occupy
misalnya adalah salah satu bentuk ekspresi tersebut, yakni gerakan untuk
menduduki taman-taman dan alun-alun, yang meledak seketika dan menghilang
juga dalam sekejap. Lalu di Italia, kita saksikan munculnya sebuah partai
yang dipimpin oleh seorang pelawak, Beppe Grillo, yang hari ini adalah partai
ketiga terbesar dengan 25% suara. Ini tidak jauh dari partai terbesar di
Italia, Partai Demokrat, yang meraih 29% suara.
Sebagai
Marxis, kita tidak boleh terkejut dengan berbagai manifestasi politik dan
sosial yang akan muncul di hari depan. Kita tidak boleh bertingkah seperti
Kiri lainnya, yang hanya bisa mengekor, yang meloncat kegirangan dengan mata
bersinar-sinar ketika ada ledakan gerakan baru dan lalu menjadi sinis
dan pesimis segera setelah gerakan baru ini surut atau dikalahkan.
Kiri-kiri ini selalu mencari hal-hal yang baru, hal-hal yang trendi.
Sedangkan kita Marxis punya perspektif yang panjang Kita ulangi lagi, kita
sedang memasuki periode revolusi dan konter-revolusi, kenaikan yang disusul
dengan kemunduran, pasang naik dan surut yang saling kejar mengejar. Dalam
proses yang berkepanjangan ini, sebuah generasi yang baru akan tercipta.
Kesadaran akan tergoncang dimana-mana. Ini mungkin tidak terlihat langsung,
tetapi kita sebagai Marxis tahu bahwa di bawah permukaan ada sebuah proses
radikalisasi yang sedang berlangsung.
Kekuatan
Marxis revolusioner masih terlalu kecil untuk bisa mengintervensi periode
ini, apalagi menentukan hasil dari gerakan-gerakan yang akan datang. Kita
masih adalah minoritas di antara minoritas di antara minoritas. Kita sekarang
tidak berbicara kepada massa luas, dan tidak punya kemampuan demikian. Kita
harus mencari elemen-elemen yang paling revolusioner dan mendidik mereka
dalam gagasan Marxisme. Di dalam situasi revolusioner, sebuah kelompok kecil
dengan gagasan yang tepat dapat tumbuh dengan cepat. Sekarang kita sedang
membangun kelompok kecil tersebut, untuk mencapai 50, 100, atau 200 anggota
yang telah terlatih sebagai kader Bolshevik, yang akan menjadi tulang
punggung dari Marxisme Indonesia.
Tidak ada
alasan objektif apapun yang dapat mencegah kita untuk merekrut. Radikalisasi
kaum muda -- pelajar, mahasiswa, maupun buruh -- adalah hal yang nyata. Ini
sedang terjadi di seluruh dunia. Satu-satunya halangan untuk tumbuh adalah
kita sendiri, dan oleh karenanya kita harus memperbaiki diri kita sendiri.
Tanam semangat revolusioner ke dalam diri kita sendiri. Persenjatai diri kita
dengan pendidikan teori dan politik, yang tanpanya kita bukanlah apa-apap.
Ada
peluang-peluang besar di luar sana. Terutama, kaum muda yang sekarang mulai
bergerak mencari gagasan-gagasan Marxisme. Mereka tidak lagi terbebani oleh
momok G30S/PKI seperti generasi sebelumnya. Mereka sedang mencari gagasan
revolusioner hari ini, bukan esok hari dan bukan lusa. Kita harus mencari
mereka, berdialog dengan mereka dan memenangkan mereka ke Marxisme dan
organisasi kita.

" />
" />
" />
" />
" />
" />
" />
" />


0 komentar:
Posting Komentar